12 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


20 Rumah Sakit di Aceh Telah Manfaatkan Program SCF

...

  • portalsatu.com
  • 10 October 2019 22:00 WIB

BANDA ACEH - Sebanyak 20 rumah sakit di Aceh tercatat telah memanfaatkan program Supply Chain Financing (SCF) yang ada pada bank untuk membantu cash flow (arus kas) rumah sakit agar tetap terjaga likuiditasnya.

Hal ini terungkap saat Asisten Deputi Bidang Monitoring dan Evaluasi BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah Sumatera Utara dan Aceh, Sari Quratul Ainy, memaparkan Overview Pelaksanaan JKN dan Pembayaran Klaim Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) di Provinsi Aceh Tahun 2019 pada pertemuan dengan Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit se-Aceh, yang digagas Pemerintah Aceh, Selasa, 8 Oktober 2019, di Kantor Gubernur Aceh.

SCF atau biasa disebut anjak piutang merupakan salah satu program yang ada pada sebuah bank untuk memberikan pembiayaan atau bantuan dana dengan cara mengambil alih invoice tagihan pembayaran klaim kepada BPJS Kesehatan untuk mendukung operasional dari suatu rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Hadir pada kegiatan tersebut, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh yang juga istri Plt. Gubernur Aceh, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Banda Aceh.

“Terima kasih kami ucapkan kepada Gubernur Aceh yang telah mendukung program SCF dengan menerbitkan Peraturan Gubernur tentang pedoman pengajuan utang/pinjaman BLUD rumah sakit pemerintah dan juga telah ditindaklanjuti dengan 4 Peraturan Walikota/Bupati di Aceh,” ucap Sari.

Ia mengatakan, memang dari 20 rumah sakit yang telah memanfaatkan SCF, baru 2 rumah sakit pemerintah yang memanfaatkannya. Selebihnya adalah rumah sakit swasta. Harapannya semoga dengan pertemuan ini dapat mendorong rumah sakit pemerintah lainnya di Aceh untuk memanfaatkan SCF ini.

Sementara itu, Sekda Aceh, Taqwallah menyampaikan pentingnya bagi tenaga kesehatan khususnya bidan desa untuk mengawal dan memonitor ibu hamil di wilayah kerjanya terutama di desa-desa untuk mencegah terjadinya stunting pada anak yang saat ini angka stunting tersebut tinggi di Aceh.

“Stunting tidak dapat diobati tapi dapat dicegah, dengan memperhatikan pentingnya pantauan kesehatan masyarakat melalui 1000 Hari Pertama Kehidupan sejak dari dalam kandungan sampai bayi lahir seperti dengan melakukan pemberian ASI Eksklusif dan imunisasi dasar,” jelasnya.

Ia berharap agar adanya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan mulai dari Dinas Kesehatan, kemudian ke Puskemas dan sampai pada bidan-bidan desa untuk mencegah stunting yang akan berdampak pada kualitas dari generasi penerus bangsa yang dilahirkan.[](adv)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.