26 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bagaimana Status Harta yang Hanyut oleh Banjir dan Tsunami?

...

  • PORTALSATU
  • 03 February 2019 21:30 WIB

Ilustrasi. Foto: istimewa/net
Ilustrasi. Foto: istimewa/net

Ketika tsunami dan banjir melanda suatu daerah, maka banyak harta benda milik warga yang terbawa arus atau hanyut. Pada umumnya, harta benda yang terbawa arus ini sudah tidak ditemukan pemiliknya. Apa status dari harta yang terbawa tsunami dan banjir tersebut dalam Islam? Dan bagaimana hukum mengambilnya?

Dalam Islam, harta yang terbawa oleh tsunami, banjir, atau angin disebut dengan malun dha-i’ atau harta terlantar. Ada dua hukum terkait harta terlantar ini di dalam Islam.

Pertama, jika harta tersebut tidak mungkin diketahui siapa pemiliknya, atau ada dugaan kuat bahwa pemiliknya tidak menghiraukan lagi, maka harta tersebut dialokasikan untuk kepentingan umum atau diambil oleh siapapun yang menemukannya. Bahkan menurut Imam Hasan al-Bashri, jika harta tersebut tidak diketahui siapa pemiliknya, maka boleh langsung diambil oleh penemunya.

Kedua, jika pemilik harta tersebut bisa diketahui, maka harta itu wajib disimpan sampai pemilik harta itu mengambilnya. Harta tersebut tidak boleh diambil untuk dimiliki oleh penemu dan tidak boleh dialokasikan untuk kepentingan umum. Ia wajib dikembalikan kepada pemiliknya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Iqna’ berikut: (yang artinya)

“Adapun barang yang dibawa angin ke dalam rumahmu atau kamarmu, maka tidak disebut barang temuan tapi disebut barang atau harta terlantar. Begitu juga barang yang dibawa oleh banjir ke daerahmu, jika diabaikan oleh pemiliknya, maka barang itu menjadi milikmu, bukan barang temuan. Jika belum diabaikan, maka ia tetap milik pemiliknya.”

Dalam kitab Yaqutun Nafis juga disebutkan sebagai berikut:

“Ulama menyebutkan terkait harta yang dibawa oleh banjir kemudian jatuh ke daerah masyarakat. Ulama berkata, ‘Itu disebut harta terlantar.’ Akan tetapi yang aneh Imam Hasan al-Bashri berkata, ‘Siapa yang menemukan harta tersebut dan tidak mengetahui pemiliknya, maka ia boleh memilikinya.”

Penulis: Moh Juriyanto.[]Sumber: bincangsyariah.com

 

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.