10 April 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bireuen Seminggu Jadi Ibukota Republik Indonesia

...

  • portalsatu.com
  • 24 February 2020 09:00 WIB

Nab Bahany As di kamar Presiden Sukarno, di Meuligoe Bupati Bireuen, untuk sebuah penelitian beberapa tahun lalu. @Facebook.com
Nab Bahany As di kamar Presiden Sukarno, di Meuligoe Bupati Bireuen, untuk sebuah penelitian beberapa tahun lalu. @Facebook.com

Sebuah pesawat mendarat di lapangan Cot Gapu, Bireuen, tahun 1948. Saat itu Ibukota Republik Indonesia yang sudah pindah ke Yogyakarta, sudah berhasil kembali diduduki oleh Belanda. Presiden Sukarno pun saat itu terbang ke Aceh dan mendarat di Bireuen, sebagai tempat persembunyian sementara.

Bireuen saat itu adalah pusat kemiliteran Aceh yang dipimpin Kolonel Husin Yusuf. Kedatangan Sukarno ke Bireuen kala itu (1948), disambut oleh ribuan rakyat Aceh di lapangan Cot Gapu, Bireuen. Untuk kemudian Presiden Suklarno dibawa ke Meuligoe Bireuen (Meuligoe Bupati Bireuen sekarang).

Di Meuligoe Bireuen (Aceh) inilah, Presiden Sukarno berkantor selama seminggu pada tahun 1948, mengendalikan negara Republik Indonesia yang baru merdeka.

Atas dasar sejarah itulah kota Bireuen (Aceh), kemudian dijuluki sebagai kota juang dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sayangnya, pak Surya Paloh dalam berpidato di depan Presiden Jokowi dan pejabat-pejabat tinggi negara, yang menghadiri kenduri kebangsaan di Bireuen (Sabtu 22 Februari 2020) siang tadi, tidak menyinggung sedikit pun tentang sejarah kota Bireuen yang pernah menjadi Ibukikota darurat negara Republik Indonedia selama seminggu tahun 1948.

Surya Paloh hanya menyinggung soal jasa Aceh, yang menyumbangkan dua pesawat Selawah 1 dan Seulawah 2 untuk Republik Indonesia, yang kala itu baru merdeka. Padahal, peran Bireuen sebagai pusat militer perjuangan Aceh, dalam mempertahankan kerdekaan Republik Indonesia pada agresi Belanda ke II 1948, juga tidak kalah pentingnya. Malah nasib Indonesia kala itu boleh dibilang sangat ditentukan di Bireuen, Aceh.

Kenapa kita katakan demikian, karena seluruh kendali kekuatan Aceh dalam mempertahankan kemerdekan saat itu berada di Bireuen. Mulai kekuatan militer Aceh yang berperang sampai ke Medan Area, sampai pengendalian informasi-informasi darurat terhadap kondisi Indonesia yang baru merdeka saat itu ada di Bireuen.

Radio Rimba Raya dalam mengendalikan berita-berita provokasi Belanda, yang menyatakan Indonesia seluruhnya sudah berhasil dikuasai kembali oleh Belanda, dibantah oleh Radio Rimba Raya yang beroperasi di Bireuen. Melalui Radio Rimba Raya ini, disiarkan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada di Aceh.

Dengan beroperasinya siaran Radio Rimba Raya ini, maka dunia semakin tidak percaya denan berita propokasi radio-radio Belanda yang memberitakan, bahwa Belanda telah berhasil menduduki kembali seluruh wilayah Indonesia.

Bayangkan, bila Radio Rimba Raya tidak beroperasi di Bireuen kala itu, bagaimana nasib Republik Indonedia yang baru merdeka saat itu? Dan bagaimana kalau Aceh tidak setia pada Indonesia saat itu, apa yang bakal terjadi bagi nasib Republik Indonesia waktu itu?

Semua itu adalah sejarah kesetian Aceh terhadap Repulik Indonesia, yang harus diketahui oleh semua anak bangsa, termasuk pemimpin-pemimpin negara Republik Indonesia hari ini.

Jadi, kalau ada pejabat negara yang bilang Aceh tidak nasionalis, tidak loyal kepada NKRI, berarti itu pejabat negara yang tidak tahu sejarah, bagaimana Republik Indonesia didirikan. Mereka tidak tahu betapa besar saham Aceh untuk Republik ini.

Sayangnya, panitia kenduri kebangsaan yang dilaksanakan di Bireuen, tidak memanfaatkan potensi sejarah Bireun ini, sebagai kota yang pernah menjadi Ibukota darurat Republik Indonesia, walau hanya seminggu.

Dan Presiden Sukarno pernah berkantor darurat di Meuligoe Kota Bireun selama selama seminggu. Untuk dikalaborasikan dengan even kenduri kebangsan di Bireuen, yang dihadiri oleh presiden Jokowi dan sejumlah pejabat tinggi Republik Indonesia lainnya.

Apalagi bila presiden Jokowi sempat bermalam di Meeligoe Bireuen. Setelah 72 tahun yang lalu 1948, presiden Sukarno menjadikan Meuligoe Bireuen itu sebagai tempat tinggalnya selama seminggu.

Maka, kenduri kebangsaan yang dilaksanakan di Bireun itu, adalah sebuah pengulangan sejarah yang sangat mengesankan bagi rakyat Aceh.

Sampai sekarang, kalau kita masuk ke Meuligoe Bupati Bireuen, kita akan menemukan satu kamar khusus, yang terus dipelihara dan dirawat kelestariannya sebagai bukti sejarah, yaitu kamar yang digunakan Presiden Sukarno dulu saat tinggal di Bireuen selama satu minggu.

Foto di atas, saat saya (Nab Bahany As) diizinkan masuk ke kamar Presiden Sukarno, di Meuligoe Bupati Bireuen ini untuk sebuah penelitian beberapa tahun lalu.

Di depan kamar presiden Sukarno di Meuligoe Bupati Bireuen, ada sebuah ruangan yang pada 1948 ruangan itu digunakan sebagai studio Radio Rimba Raya, sebelum radio itu digerilyakan ke dalam hutan Rimba Raya Aceh Tengah (Bener Meriah sekarang).[]Sumber:facebook.com/nabbahany.as

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.