24 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cara Menyikapi Hadis Keutamaan Rajab

...

  • PORTALSATU
  • 08 March 2019 19:00 WIB

Ilustrasi. Foto: nu.or.id
Ilustrasi. Foto: nu.or.id

Salah satu fenomena menarik yang mungkin tidak ditemukan pada beberapa tahun sebelumnya adalah banyaknya orang-orang yang menyebarkan informasi keagamaan secara sukarela. Informasi itu disebar secara luas melalui media sosial, yaitu facebook, twitter, grup WA, dan media lainnya. Orang menyebar keutamaan puasa Rajab.

Di antara informasi yang sering disebar menjelang bulan Ramadhan ini adalah seputar keutamaan bulan Rajab. Ada banyak hadis disebarkan dengan tujuan untuk memotivasi orang memperbanyak ibadah puasa pada bulan Rajab.

Meskipun tujuan penyebaran informasi itu bagus, tapi sebagian orang ada juga yang mempermasalahkan hal itu karena memang kebanyakan hadis yang disebarkan melalui media sosial soal keutamaan Rajab adalah hadis yang bermasalah.

Hadis seputar keutamaan bulan Rajab ini sudah pernah dikaji oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Hasil kajiannya itu ditulis dalam kitab berjudul Tabyinul ‘Ajab bi Ma Warada fi Fadhli Rajab. Dalam kitab itu ia berkata:

Artinya, “Tidak ada hadits shahih yang bisa dijadikan hujjah terkait keutamaan Rajab, puasa Rajab, atau puasa di hari tertentu di bulan Rajab, serta beribadah pada malam tertentu di bulan Rajab. Sebelumnya sudah ada yang melakukan kajian ini, yaitu Imam Abu Ismail Al-Harawi Al-Hafidz. Meskipun demikian, sesungguhnya para ulama membolehkan mengamalkan hadits tentang fadhilah amal, walaupun kualitasnya lemah, selama tidak maudhu’.”

Ibnu Hajar mengakui bahwa belum ditemukan dalil sahih dan spesifik terkait keutamaan bulan Rajab atau dalil khusus yang menyatakan keutamaan puasa di bulan Rajab. Namun dengan tidak adanya dalil sahih yang spesifik itu bukan berati puasa Rajab tidak boleh. Maksudnya bukan demikian.

Sebab dalam kajian hadis sendiri, beramal dengan hadis daif dibolehkan selama tidak berkaitan dengan akidah dan kualitas hadisnya tidak terlalu lemah. Apalagi dalam persoalan puasa Rajab, sebetulnya ada hadis sahih yang menjadi landasan kebolehan puasa Rajab.

Misalnya, dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa ada sahabat yang bertanya kepada Sa’id Ibnu Jubair terkait puasa Rajab. Said menjawab, “Saya mendengar Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga Rasulullah SAW selalu berpuasa, dan ia tidak puasa (berturut-turut) sampai kami menduga ia tidak  puasa,” (HR. Muslim).

Kemudian dalam riwayat lain adalah hadis riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, Al-Baihaqai, dan lain-lain yang menyebutkan bahwa Nabi memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk berpuasa pada bulan-bulan mulia (asyhurul hurum). Sementara salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam adalah bulan Rajab.

Jadi, dengan banyaknya beredar hadis daif tentang keutamaan Rajab bukan berati memperbanyak amalan pada bulan itu tidak dibolehkan, karena hadis daif itu sendiri masih boleh diamalkan dengan syarat tidak berkaitan dengan akidah dan kelemahannya tidak terlalu parah.

Selain itu juga masih ada riwayat lain yang sahih menyebut Nabi pernah mengerjakan puasa di bulan Rajab dan memerintahkan sahabat puasa di bulan yang mulia. Wallahu a’lam.

(Hengki Ferdiansyah)[]Sumber: nu.or.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.