24 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Hati Burung yang Penuh Tawakal dan Rasa Takut

...

  • PORTALSATU
  • 15 January 2018 18:40 WIB

Hati burung dikenal lemah lembut, sangat tinggi tawakalnya dan rasa takutnya pada Allah. Inilah hati yang dikatakan sebagai hati penduduk surga.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

Akan masuk surga suatu kaum yang hati mereka seperti hati burung.” (HR. Muslim no. 2840).

Yang dimaksud dalam hadis di atas adalah hati yang lemah lembut. Ada pula yang menyebutkan bahwa hati burung itu penuh rasa takut dan khawatir. Karena memang demikianlah keadaan burung yang penuh rasa khawatir dan takut. Ada pula ulama yang menafsirkan bahwa hati burung itu penuh rasa tawakal, yaitu selalu bergantung pada Allah. Demikian beragam pendapat yang disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim, 17: 177.

Mengenai orang yang punya rasa takut yang tinggi pada Allah, itulah yang disebutkan dalam ayat surah Fathir berikut,

Sesungguhnya yang paling takut pada Allah adalah ulama.” (QS. Fathir: 28).

Begitu pula hati yang penuh tawakal digambar dengan keadaan burung pada hadis lainnya. Dari ‘Umar bin Khattab, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.”  (HR. Tirmidzi no. 2344. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan shahih).

Hadis ini sekaligus menunjukkan bahwa yang disebut tawakal berarti melakukan usaha, bukan sekadar menyandarkan hati pada Allah. Karena burung saja pergi di pagi hari untuk mengais rezeki. Maka manusia yang berakal tentu melakukan usaha, bukan hanya bertopang dagu menunggu rezeki turun dari langit.

Sebagaimana dijelaskan pula oleh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah ketika membahas ‘tidaklah hewan melata di muka bumi melainkan Allah yang beri rezeki’, lantas beliau berkata, “Bukanlah yang dimaksud meninggalkan sebab lalu berpangku tangan pada makhluk lain supaya bisa mendapatkan rezeki. Sikap malas-malasan seperti ini yang enggan berusaha bertolak belakang dengan maksud tawakal. Imam Ahmad pernah ditanya mengenai seseorang yang cuma mau duduk-duduk saja di rumahnya atau hanya berdiam di masjid, ia berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikit pun dan hanya mau menunggu sampai rezekiku datang.” Imam Ahmad pun berkata, “Orang ini benar-benar bodoh. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda--sebagaimana hadis burung di atas. Disebutkan bahwa burung saja bekerja dengan berangkat di pagi hari. Para sahabat Nabi yang mulia pun berdagang dan bekerja dengan hasil kurma mereka. Merekalah sebaik-baik teladan.” (Fathul Bari, 11: 306).

(Muhammad Abduh Tuasikal)[] Sumber: rumaysho

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.