26 October 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kembali ke Dasar Keyakinan Tulak Bala Orang Aceh

...

  • portalsatu.com
  • 21 September 2020 09:00 WIB

Para lelaki muda di Lamreung, Lampeuneurut, Darul Imarah, Aceh Besar, berzikir keliling, let peunyaket seraya membawa suluh (obor), Kamis malam, 19 Maret 2020. @Instagram/acehbesarnow
Para lelaki muda di Lamreung, Lampeuneurut, Darul Imarah, Aceh Besar, berzikir keliling, let peunyaket seraya membawa suluh (obor), Kamis malam, 19 Maret 2020. @Instagram/acehbesarnow

Oleh: Nab Bahany As*

Mengapa kita seperti tidak lagi menyakini doa-doa tolak bala, sebagaimana yang telah dipraktikkan dulu oleh ulama-ulama kita di Aceh. Bila ada suatu bala yang melanda nanggroe Aceh, para ulama dan teungku-teungku di Gampong bersatu padu, mengajak masyarakat di Gampongnya masing-masing, untuk membaca Yasin bersama di Meunasah sampai 7 malam berturut-turut, dengan niat bermunadjad kepada Allah, agar bala yang menimpa nanggroe Aceh dapat dijauhkan oleh Allah Subhanahuwa Ta'ala.

Masyarakat Aceh dahulu sangat menyakini, bacaan Surat Surat Yasin secara bersama-sama oleh semua warga Gampong di meunasahnya masing-masing selama 7 malam berturut-turut, dengan niat memohon kepada Allah agar sebuah bala yang sedang menimpa kampungnya, daerahnya (Aceh) dapat segera dijauhkan oleh Allah.

Biasanya, doa-doa tolak bala itu dilakukan masyarakat Aceh dahulu, ketika menghadapi sebuah bala penyakit 'ta'eun' yang cepat sekali menular, hingga menjatuhkan korban yang tak terhindarkan.

Setelah membaca Suarat Yasin di Meunasah 7 malam berturut-turut, pada malam terakhir semua jamaah Yasinan (warga Gampong) secara beramai-ramai, dengan menyalakan obor (suwa) mengelilingi semua jurong-jurong Gampong.
Dan secara beramai-ramai pula dalam mengelilingi Jurong Gampong itu membacakan: "Waqul jaa-al haqqu wahazaqal baathil, innal baathila kaana zahuuqa". (Dan katakan, kebenaran telah datang, kebathilan pasti lenyap). Q.S. Al-Israa: 17: 81.

Ayat Qulja itu dibacakan dengan maksud untuk menuauhkan yang bathil (bala), untuk datang sebuah kebenaran yang menyelamatkan. Keyakinan tolak bala ini dalam masyarakat Aceh dulu, ada yang menyebutnya "meujalateh", karena dalam mengelilingi Gampong untuk tolak bala ini juga dilafalkan "yaalati Fulan tazan...", dan ada juga yang menyebutnya "hoi Quulja", sebutan itu tergantung daerahnya di Aceh.

Nah, kenapa keyakinan tolak bala ini yang telah menjadi keyakinan ulama-ulama Aceh dulu, tidak lagi kita praktikkan dalam menghadapi pentakit wabah virus Corona sekarang ini di Aceh. Apakah cara berfikir kita saat ini sudah terlalu modern. Sehingga sekarang kita tidak percaya lagi pada kekuatan-kekuatan religius dari agama yang kita yakini.

Memang kekuatan keyakinan bersifat natural riligius ini tidak dapat kita buktikan secara ilmiah. Akan tetapi, di awal-awal terjangkitnya virus Corona di Aceh, kita masih ingat beberada daerah di Aceh, masyarakatnya masih melakukan prosesi keyakinan tolak bala itu dengan membaca Yasin 7 malam beturut-turut, dan dilanjutkan dengan bacaan-bacaan doa tolak bala secara beramai-ramai berkeliling kampung mereka masing-masing.

Lalu pertantaannya, apakah dengan prosesi doa tulak bala yang dilakukan orang kampung di Aceh saat itu di awal-awal bulan Maret 2020, ada pengaruhnya bagi penyebaran virus ta'eun Corona di Aceh ketika itu? Tentu kita tak bisa menjawabnya. Karena pengaruh keyakinan itu tidak bisa kita buktikan secara ilmiah akademik.

Yang jelas, saat itu kita di Aceh, pasien positif Corona masih bisa dihitung jari. Bahkan sampai habis bulan puasa kemarin, kita di Aceh termasuk daerah yang diberi prediket oleh gugus tugas Covid 19 Nasional, Aceh termasuk daerah yang paling berhasil menekan penyebaran virus Corona.

Keberhasilan itu, menurut Gugus tugas Covid 19 Nasional, karena masyarakat Aceh mampu memanfaatkan kearifan lokalnya dalam mencegah penyebaran Covid 19 di daerahnya. Sehingga gugus tugas Covid 19 Nasional, menghimbau daerah lain untuk belajar ke Aceh dalam menangani keberhasilan pencegahan virus Corona.

Kearifan lokal masyarakat Aceh dalam pencegahan virus Corona ini, salah satunya itulah prosesi-prosesi keyakinan doa-doa tolak bala yang dilakukan masyarakat Aceh dengan caranya tersendiri.

Oleh karenanya, dalam kondisi penyebaran Covid 19 di Aceh yang saat ini terus meningkat, hingga seratusan orang perhari, sudah saatnya Gubernur Aceh harus mengeluarkan intruksi bersama MPU Aceh, mungkin juga Dinas Dayah, mengintruksikan seluruh Gampong di Aceh dapat membaca Yasin selama 7 malam berturut-turut di meunasahnya masing-masing, dan di dayah-dayah seluruh Aceh, dengan niat memohon kepada Allah agar Aceh, segera di dijauhkan dari bala virus corona di bumi Serambi Mekkah ini. 

Insya Allah, dengan penuh keyakinan, Allah akan mengabulkan doa hambanya. Semoga tulisan ini sampai kepada Gubernur Aceh untuk menindak lanjutinya. 

Banda Aceh, 19 September 2020.[]sumber:facebook.com/NabBahanyAs

*Budayawan

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.