21 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah Awal Mula Sultan Terakhir Aceh Diintenir Belanda

...

  • portalsatu.com
  • 18 June 2019 09:00 WIB

Sultan Muhammad Daod menyerah untuk menjemput istrinya ditawan Belanda, kekuasaannya diserahkan kepada ulama. Belanda kemudian menyusun rencana pengasingan (intenir) untuk meredam pengaruhnya, setelah menolak mengakui kedaulatan pemerintah kolonial Belanda di Aceh.

Pemerintah Kolonial Belanda yang merasa tidak bisa meredam pengaruh Tuanku Muhammad Daod meski pasca penyerahan dirinya menjadi tawanan kota di Kutaraja, Belanda kemudian menemukan fakta bahwa penyerangan ke sekitar Kutaraja yang dilakukan oleh sejumlah pemimpin perlawanan rakyat Aceh di Aceh Besar dan sekitarnya, ternyata atas sepengetahuan Tuanku Muhammad Daod. Bahkan Tuanku Muhammad Daod yang menyusun rencana dan jalur pelarian para pejuang Aceh setelah menyerang Belanda di sekitar Kutaraja.

Fakta lain kemudian juga ditemukan surat Tuanku Muhammad Daod kepada Kaisar Jepang, Mikado yang meminta agar Jepang membantu Aceh dalam melawan Belanda. Hal yang sama juga dilakukan dengan Kesultanan Turki Utsmani.

Menteri Daerah Jajahan Belanda kemudian menyurati Penasehat Pemerintah Kolonial Belanda, Snouck Hurgronje pada 5 Desember 1908 dengan surat berkode Kabinet Litt E24. Surat itu kemudian di balas oleh Snouck Hurgronje dari Leiden pada 14 Desember 1908.

Menurut Snouck Hurgronje ada perbedaan mengenai arti penting Kesultanan Aceh sebelum agresi Belanda dan peran Tuanku Muhammad Daod setelah penyerahan dirinya kepada Belanda, terutama pengaruh Tuanku Muhammad Daod dalam perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda.

Tentang hal itu juga sudah pernah diulas Snouck Hurgronje dalam buku De Atjehers, jilid I, halaman 148. Ia menegaskan tentang betapa pentingnya pengaruh Sultan Aceh meski kekuasaannya telah merosot. Sultan Aceh khsusunya Tuanku Muhammad Daod di mata Snouck Hurgronje selalu mampu menjalankan pengaruhnya yang merugikan pemerintah Kolonial Belanda di Aceh.

Dugaan Pemerintah Kolonial Belanda di Aceh, terutama Jendral Van Heutsz yang mengharapkan penyerahan diri Tuanku Muhammad Doad saat menjemput istrinya yang ditawan Belanda bisa membuat para pemimpin adat dan pemimpin perjuangan Aceh lainnya tunduk kepada Belanda, ternyata sama sekali tidak terjadi.

“Ini bertentangan dengan semua data kita yang telah terbukti sama sekali, yakni harapan seakan-akan calon sultan ini akan menyerahkan kepada beliau semua kepala adat atau kepala gerombolan yang belum ditaklukkan. Tidak seorang pun yang menghentikan perlawanan itu atas perintah Tuanku tersebut. Akan tetapi, kenyataan bahwa sejak semula saya sudah sadar betapa bahayanya pengaruh Tuanku tersebut nanti bila ia tetap tinggal di Aceh,” tulis Snouck Hurgronje dalam surat balasannya itu.

Hal itu juga sudah pernah diungkapkan Snouck Hurgronje dalam nasehatnya kepada Pemerintah Pusat Hindia Belanda tanggal 28 Februari 1904 Nomor 17. Dalam surat itu Snouck Hurgronje menulis:

”Adapun keberatn-keberatan terhadap pemukiman Tuanku Muhammad Daod di Aceh, masuk akan dan tidak sepele … meskipun seorang gubernur dengan ‘akal sehat dan watak yang kuat’ dapat juga mengatasinya … Namun telah ditunjukkan oleh pengalaman bahwa wakil adat istiadat sebuah wangsa raja pribumi, sekali kekuasaannya telah dirampas, di mata penduduk ia seakan-akan menjadi keramat dan dianggap syahid, dan penduduk percaya bahwa di bawah pemerintahannya semua segi yang tidak menyenangkan pada kekuasaan kita kiranya akan lenyap. Penduduk lupa, betapa banyak keluh kesah yang ditujukan kepadanya karena keadaan dahulu. Oleh karena itu, kehadiran calon sultan di Aceh merupakan bahaya tetap yang oleh pengganti gubernur yang sekarang biasanya akan lebih terasa dari pada oleh gubernur yang sekarang.”[]Sumber:steemit.com/@isnorman

Penulis: Iskandar Norman

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.