21 July 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah Daging Meugang Linto dan Uroë Seumajôh

...

  • PORTALSATU
  • 16 May 2018 12:30 WIB

Pedagang daging meugang di Pasar Beurawe, 15 Mei 2018. @Jamaluddin
Pedagang daging meugang di Pasar Beurawe, 15 Mei 2018. @Jamaluddin

INI masih sekitar meugang, hari para penduduk menyiapkan bekal daging untuk mneyambut puasa, dan pengantin pria (linto) membawa pulang daging ke rumah mertua. Malah di daerah tertentu, pengantin pria atau linto baro yang baru pertama menjalani meugang bersama mertua, secara adat diharuskan membawa pulang kepala sapi atau kerbau sembelihan.

Sejatinya, meugang selain sebagai hari bagi para kepala keluarga membawa bekal daging untuk lauk menyambut puasa. Juga sebagai wujud syukur atas masuknya bulan Ramadhan. Bagi para petinggi negeri dan orang kaya zaman dahulu, hari meugang dijadikan sebagai momentum untuk ladang amal, menyembelih sapi atau kerbau, membagikannya untuk anak yatim dan fakir miskin.

Namun khusus bagi linto baro, ini merupakan hari pembuktian tanggung jawab. Usai subuh dia akan menuju pasar, membeli daging terbaik untuk mertua, membawanya pulang ke rumah mendahului ayah mertua.

Sementara bagi seorang ayah mertua, ia juga akan melakukan hal yang sama. Akan merasa malu jika hari meugang tak membeli daging untuk makanan menantu di rumah. Yang repot adalah kaum perempuan, ibu-ibu di rumah. Di kampung-kampung di Aceh, para ibu-ibu biasanya untuk menghadapi hal seperti itu, sudah menyiapkan berbagai bumbu untuk masak sehari sebelumnya.

Bagi linto baro yang baru pertama kali meugang di rumah mertua, dia bukan hanya membawa pulang daging saja. Tapi juga beberapa kilo gula pasir, sirup, susu dan makanan/kue kering lainya, untuk bekal selama puasa. Malah bagi orang-orang kaya tempo dulu, akan membeli kain untuk bekal baju baru.

Pada hari meugang ini pula, para perantau akan pulang kampung untuk makan besar. Makanya daging meugang menjadi sesuatu yang sangat penting, menjadi perekat silaturrahmi dengan saudara-saudara yang baru pulang dari perantauan. Para anggota keluarga besar wareh dan kawombertamasya ke objek wisata terdekat. Acara tamasya dan makan bersama ini sering disebut sebagai uroë pajôh-pajôh atau uroë seumajôh.

Setiap meugang, selain melibatkan sektor pasar, juga belakangan melibatkan sektor pemerintahan, swasta, bahkan lembaga pendidikan, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Setiap lembaga bersama-sama melakukan meugang secara berkelompok, menyembelih sapi atau kerbau dan membagi-bagikannya dagingnya untuk setiap anggota. Ada juga yang sebagaian dikirim ke rumah-rumah anak yatim dan fakir miskin.

Kembali ke linto baro, bagi pengantin pria yang tidak mampu membawa pulang daging meugang ke rumah mertua, akan dianggap sebagai “aib” bagi dirinya dan keluarganya, karena seolah menegaskan bahwa si pria yang baru menikah itu belum mampu menafkali keluarga barunya.

Makanya di Aceh, semahal apa pun harga daging di hari meugang, setiap pengantin pria akan berusaha membelinya beberapa kilo. Keluarga intinya juga akan membantu, jika dia tidak mempunyai kemudahan untuk itu. Inilah uniknya meugang di Aceh, sesuatu yang khas, yang tidak ada di daerah lain.

Dan momentum hari meugang selalu menjadi sesuatu yang bernilai istimewa, karena meugang selalu dikaitkan dengan nilai-nilai agama Islam, meugang sebelum puasa, meugang sehari sebelum hari raya idul fitri, dan meugang sehari sebelum hari raya idul adha.

Nilai-nilai adat istiadat dan budaya menyatu dengan nilai-nilai religius, sebagaimana diungkapkan dalam hadihmaja, ungkapan klasik dalam masyarakat Aceh, adat ngôn hukom (Islam) lagèe zat ngon sifeut, sitka han jeut tapisah dua. Bagi masyarakat Aceh, adat dan hukum Islam itu seperti zat dan sifat, tidak bisa dipisahkan. Dan meugang memiliki kedua sisi itu.[]Sumber:steemit

Penulis: Iskandar Norman

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.