18 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah-kisah Doa yang Dikabulkan

...

  • PORTALSATU
  • 27 June 2019 19:30 WIB

Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mencatat beberapa riwayat tentang doa yang dikabulkan. Berikut beberapa riwayatnya untuk dijadikan pelajaran.

Riwayat yang pertama menceritakan Sayyidina ‘Uqbah bin Nafi’ yang sembuh dari kebutaan setelah diajarkan doa dalam mimpinya. Ia adalah kemenakan Sayyidina ‘Amr bin ‘Ash dan seorang jenderal yang bertugas sejak era Khalifah Umar bin Khattab sampai Daulah Umayyah. Lahir di Makkah tahun 1 H, dan wafat di Aljazair tahun 63 H. Berikut kisahnya:

Diceritakan dari al-Laits bin Sa’d, ia berkata: “Aku melihat ‘Uqbah bin Nafi’ dalam keadaan buta, kemudian aku melihatnya (sudah bisa) melihat (kembali).”

Aku bertanya kepadanya: “Dengan apa Allah mengembalikan penglihatanmu?”

Ia menjawab: “Aku bermimpi dan dikatakan kepadaku: ‘Ucapkanlah: Yâ qarîb, ya mujîb, ya samî’ad du’â, ya lathîf li mâ yasyâ’u, rudda ‘alayya basharî (wahai Tuhan yang Maha-Dekat, wahai yang Maha-Mengabulkan, wahai yang Maha-Mendengarkan doa, wahai yang Maha-Lembut atas apa-apa yang dikehendaki-Nya, kembalikanlah penglihatanku). Kemudian aku mengucapkan doa tersebut dan Allah mengembalikan penglihatanku.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 40-41)

Riwayat kedua menceritakan Imam Abdul Malik bin Habib al-Qurthubi (174-238 H), seorang ulama mazhab Maliki dari Cordova, Andalusia. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan menggunakan perahu, dan air laut bergelombang sangat besar. Berikut riwayatnya:

Diriwayatkan dari Abu Muhammad bin Abu Zaid bahwa Abdul Malik bin Habib, seorang ahli ilmu dari Andalusia, (pernah) dikabulkan doanya. (Ketika itu) terjadi ombak laut yang sangat besar. Kemudian Abdul Malik bin Habib berwudhu dan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Ia berucap: “Ya Allah, azab apa ini yang ditimpakan kepada kami, dan qudrah (kehendak) apa ini? Ya Allah, kiranya Engkau tahu bahwa sesungguhnya perjalananku ini semata-mata untuk (mengharapkan ridha)-Mu, dan untuk menghidupkan sunnah Rasul-Mu, maka hilangkanlah kesusahan ini dari kami, dan perlihatkanlah rahmat-Mu kepada kami sebagaimana Engkau telah memperlihatkan azab-Mu.” Kemudian Allah menghilangkan kesusahan mereka seketika itu juga dengan kemaha-lembutan-Nya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, , 2002, h. 38-39)

Riwayat ketiga menceritakan mimpi Imam Ibnu Khuzaimah tentang Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali. Imam Ibnu Khuzaimah (223-311 H) adalah seorang ahli hadits dan fiqih dari mazhab Syafi’i. Ia terkenal dengan kitab kumpulan haditsnya, Shahîh Ibnu Khuzaimah. Berikut riwayatnya:

Diceritakan dari Ibnu Khuzaimah, ia berkata: Ketika Ahmad bin Hanbal meninggal, aku sedang berada di Iskandariah, aku pun bersedih. Lalu aku melihat Ahmad bin Hanbal dalam mimpi, ia berjalan dengan gaya yang menawan. Aku pun bertanya: “Wahai Abu Abdillah, jalan macam apa ini?”

Ahmad bin Hanbal menjawab: “Jalannya para pelayan di rumah keselamatan.”

Aku bertanya lagi: “Apa yang diperbuat Allah kepadamu?”

Ia menjawab: “Allah telah mengampuniku, memahkotaiku, dan memakaikan kepadaku dua sandal dari emas.” Dia berfirman: “Wahai Ahmad, (anugerahKu) ini karena perkataanmu bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Ku,” kemudian Allah berfirman lagi: “Wahai Ahmad, berdoalah kepada-Ku dengan doa yang telah disampaikan Sufyan al-Tsauri kepadamu.” Aku pun berdoa dengan doa-doa tersebut di kehidupan dunia (ketika aku masih hidup). Aku berdoa:

“Yâ rabbi kulli syai’in, bi qudratika ‘alâ kulli syai’in, ighfir lî kella syai’in wa lâ tas’alanî ‘an syai’in (Wahai Tuhan segala sesuatu, dengan kuasa-Mu atas segala sesuatu, ampunilah aku (dari) segala sesuatu (dosa dan kesalahan), dan jangan Kau tanyakan sesuatu pun kepadaku.”

Lalu Allah berfirman: “Wahai Ahmad, surga ini, masuklah kau ke dalamnya, maka aku pun memasukinya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, , 2002, h. 41)

Tiga riwayat di atas menunjukkan bahwa doa harus diperankan dalam kehidupan kita. Karena doa tidak sekadar bentuk formal untuk memohon sesuatu kepada Allah, tapi juga bentuk pengakuan akan kelemahan kita sebagai manusia sekaligus pengakuan akan kemaha-kuasaan Allah sebagai Tuhan semesta alam. Dengan berdoa, kita bisa merendahkan kesombongan kita, dan perlahan-lahan membangun kesadaran kita, bahwa sebaik apa pun usaha manusia, akan bertambah kebaikannya dengan memasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Sebagai penutup, kita perlu renungkan kalimat panjang berikut ini:

“Para ulama salaf kita, semoga Allah meridhai mereka, berkata: ‘Tiada seorang pun yang menginginkan (sesuatu) untukmu kecuali untuk dirinya sendiri. Temanmu menginginkanmu menjadi pendengar obrolannya dan ingin mengambil manfaat darimu. Seorang ayah menginginkanmu karena kesenangan yang ditemukannya dengan berada di dekatmu dan ingin (merasakan nikmatnya) melenyapkan kesusahan yang menimpamu. Guru dan pengajarmu, menginginkanmu agar mendapat manfaat darimu di akhirat (kelak) karena pahala mengajarimu dan ingin merasakan kesenangan di dunia dengan (rasa nikmatnya keberhasilan) mengeluarkanmu dari gelapnya kebodohan menuju cahaya pengetahuan.

Dan pola inilah yang berlaku (dalam pergaulan) di antara sesama manusia. Berbeda halnya dengan Allah Swt., yang menginginkanmu (agar Dia mengampunimu). Allah berfirman (QS. Ibrahim: 10): “Dia menyeru kalian agar Dia mengampuni kalian.”

Allah berfirman (QS. Al-An’am: 43): “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitan pun menjadikan indah apa yang selalu mereka kerjakan.” Ayat ini menunjukkan permintaan kepada makhluk (manusia) untuk berdoa.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 13-14)

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawwab...

Penulis: Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.[]Sumber: nu.or.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.