19 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kurnia Sultan Aceh di Hari Makmeugang

...

  • portalsatu.com
  • 05 May 2019 09:30 WIB

Ilustrasi. Foto: dok. Portalsatu/Jamaluddin
Ilustrasi. Foto: dok. Portalsatu/Jamaluddin

Oleh Nab Bahany As

Dalam Qanun Meukuta Alam (Qanunu Al Syie), yaitu Qanun Undang-Undang Kesultanan Aceh Darussalam yang dibuat masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang disyaratkan kembali oleh Tgk. Di Meukek, pada salah satu pasal dalam Qanun Meukuta Alam ini menyebutkan, bahwa setiap tahunnya sebulan sebelum hari makmeugang, baik makmeugang puasa, maupun meugang hari raya puasa, dan hari makmeugang hari raya haji, Sultan Aceh memerintahkan semua Keuchik dalam Kesultanan Aceh untuk menilik dan memeriksa dalam kampungnya masing-masing berapa banyak jumlah fakir miskin, inong balee, anak yatim/piatu, orang sakit, orang lasa (lumpuh), dan orang buta.

Semua jumlah orang yang tersebut itu harus dilaporkan oleh Keuchik kepada Imum Mukim masing-masing. Setelah Imum Mukim memperoleh data tersebut, Mukim yang bersangkutan melaporkan data fakir miskin itu kepada Uleebalang dalam wilayahnya. Lalu oleh Uleebalang melaporkan kepada Sultan pimpinan Kesultanan Aceh.

Setelah Sultan Aceh menerima semua jumlah data fakir miskin dari seluruh wilayahnya dalam Kesultanan Aceh, maka Sultan memerintahkan Tandi Siasat (semacam ajudan Sultan) untuk memberi tahukan kepada Qadi Muazzam, agar Qadi Muazzam membuka Khazanah Balai Silaturrahmi kerajaan untuk mengambil dirham dan dikirim kepada seluruh Keuchik guna membeli kerbau atau sapi untuk dipotong pada hari makmeugang dan dan dagingnya dibagi-bagikan semua fakir miskin berdasarkan laporan jumlah fakir miskin yang diterima oleh Sultan.

Selain itu, pada hari makmeugang ini, Sultan Aceh juga mengkarunianya masing-masing fakir miskin, yatim/piatu, orang lumpuh dan orang buta 6 hasata kain, dan beberapa dirham untuk kebutuhan belanjaan bulan puasa.

Dalam hal itu, tidak ada uleebalang, mukim dan Keuchik yang berani mengurusi kurnia Sultan untuk fakir miskin di hari makmeugang itu. Kalau misalnya Kurnia Sultan itu tidak sampai kepada rakyat miskin di hari makmeugang itu, maka Sultan Aceh langsung memecat oknum yang bersangkutan dan menghukumnya.

Jadi, perkara makmeugang di Aceh bukan perkara main-main. Soal makmeugang ini di Aceh telah menjadi undang-undang kerajaan, yang maksudnya pada hari makmeugang ini tidak boleh ada rakyat di Aceh yang tidak berhari makmeugang dengan mengkonsumsi daging sehari sebelum memasuki bulan puasa.

Begitu cara pemimpin Aceh di masa Kesultanan Aceh dulu, dalam menangani hari makmeugang untuk fakir miskin dan orang-orang yang tidak mampu. Sekarang bila mahu menjelang hari makmeugang para pemimpin/pejabat di Aceh menghindari diri untuk tidak bertemu dengan orang-orang yang tidak mampu. Bila perlu mereka tiga menjelang hari makmeugang tidak lagi masuk kantor, takut didatangi oleh orang-orang fakir miskin dan orang-orang yang tidak mampu. Jadi sekarang tak ada istilah Kurnia pimpin di hari makmeugang untuk fakir miskin.[]Sumber:facebook.com/nabbahany.as

Nab Bahany As, Budayawan

<!--EndFragment-->

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.