26 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Nego Gaji mah Bebas, Langsung Jadi Bos juga Bisa

...

  • VIVA
  • 30 July 2019 09:00 WIB

Sukses. @Shutterstock
Sukses. @Shutterstock

Berapa gaji pertamamu? Kayaknya jarang dibahas ya? Yang dibahas tentang gaji pertama biasanya dipakai buat apa. Ada yang dikasih semua ke ibu, beli baju buat orangtua, beli sepatu idaman, makan-makan sama teman, dan lainnya.

Itulah mengapa momen gaji pertama menjadi kenangan di lubuk hati. Selain rasa syukur, ia sekaligus sebagai selebrasi; “Ini lho aku udah punya duit sendiri, nggak nodong lagi ke orangtua.”

Saya sendiri terima gaji pertama sebagai karyawan biasa pada tahun 1999. Bukan nominalnya yang bikin bibir ini bawaannya pengen nyengir terus, tapi lebih pada perasaan bagaimana menikmati hasil keringat orang lains. Jelas nggak seberapa dibandingkan UMR, UMP, atau UMK sekarang.

Tapi ya, gaji pertama ibarat cinta pertama. Tetap ada perasaan bahagia, walaupun itu belum cukup sebagai modal menjalani hidup. Bisa jadi nanti pindah ke hati yang lain, eh ke tempat lain.

Makanya, ketika viral seorang fresh graduate nolak gaji Rp 8 juta hanya karena dia lulusan UI, diriku merasa jadi butiran cendol di dalam segelas es dawet.

Mau bilang doi songong, nolak-nolak rezeki, tapi rasanya terlalu gegabah. Bisa jadi doi memang orang khayya. Mungkin duit Rp 8 juta cuma buat bayar kosan sebulan selama kuliah di UI yang katanya level internesyenel itu. Mungkin.

Tapi sebetulnya kalau urusan nego gaji ketika melamar kerja adalah hal biasa. Asalkan itu sesuai dengan kapabilitasnya. Bahkan, itu dianjurkan sebagai bentuk dari profesionalisme dalam bekerja. Pihak HRD terkadang memberi nilai plus kepada pelamar yang berani menentukan besaran gaji.

Toh, semuanya balik lagi ke perusahaan, apakah usulan itu layak atau tidak. Mau dia dari kampus mana, orangtuanya siapa, nggak ngaruh. Seharusnya sih.

Saat ini, kisaran gaji karyawan yang fresh graduate memang rata-rata hanya sekitar Rp 2 juta-an. Nggak beda jauh dengan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut data BPS tahun 2018, rata-rata gaji bersih karyawan pada kelompok umur 20-24 tahun sebesar Rp 2.240.116 per bulan.

Gaji paling tinggi untuk fresh graduate, menurut BPS, adalah jenis pekerjaan tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan. Pada jenis pekerjaan tersebut, para fresh graduate bisa mendapat gaji sebesar Rp 3.327.742 per bulan.

Sementara, untuk gaji terendah yang diterima oleh fresh graduate sebesar Rp 1.701.183 per bulan. Ini berlaku untuk para fresh graduate yang bekerja sebagai tenaga profesional, teknisi, dan sejenisnya.

Adapun gaji tertinggi pekerja, masih menurut BPS, dipegang oleh mereka yang berada di kelompok umur 55-59 tahun. Mereka yang bekerja sebagai tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan. Gajinya sebesar Rp 7.830.255 per bulan.

Lantas, bagaimana kalau ada seorang fresh graduate menolak gaji Rp 8 juta per bulan? Ya bebas saja. Tapi, sedangkal pengetahuan saya, menolak dengan alasan bahwa doi adalah lulusan kampus ternama, ya nggak mashokk. Memangnya kampus serupa pabrik tenaga kerja, apa? Yang kalau sudah lulus punya standar gaji?

Sobat misqueen mana paham, hehe…

Tapi, kebayang nggak sih, di luar sana masih banyak orang yang akhirnya memilih bekerja apa saja, di mana saja, yang penting halal? Banyak yang bekerja tak sesuai pendidikannya, tak sesuai passion, yang penting bisa dapat uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Terlebih, kita juga hidup dalam masyarakat yang memiliki standar mulut tetangga. Ada yang terpaksa bekerja hanya demi gengsi sosial. Cuma nggak mau dianggap sebagai pengangguran, terus jadi bahan rasan-rasan keluarga, kenalan, dan tetangga.

Lalu, cuap-cuap ngomong kerjaan begini, sebetulnya lowongan kerjanya ada nggak sih? Ada yang bilang banyak, tapi yang mau kerja sedikit. Nyatanya, hampir setiap hari dipasang iklan lowongan kerja.

Kalau iklan loker masih dipasang, berarti perusahaan masih butuh atau belum ada yang diterima bekerja. Atau, bisa juga belum ada yang melamar kerja. Betul juga sih.

Eh tapi, kenapa banyak yang protes sama pemerintah, katanya nyari kerja sekarang itu susah? Makanya banyak pengangguran.

Ya kalau lihat data, antara pencari kerja dan lowongan pekerjaan memang ngejomplang banget angkanya. Jelas lebih banyak pencari kerja ketimbang lowongan pekerjaan. Padahal, para pencari kerja ini banyak yang sarjana.

Semisal, di Jawa Tengah. BPS Jateng mencatat, tingkat pengangguran terbuka di Jateng justru didominasi oleh para lulusan diploma, yakni sebanyak 8,41%. Disusul oleh mereka yang lulusan SMK sebesar 7,94%. Mereka tak terserap pasar kerja. Padahal, mereka adalah lulusan dengan skill khusus.

Kalau kata kepala Disnaker Kota Semarang, pengangguran yang didominasi oleh lulusan diploma ini terjadi karena jumlah lowongan kerja yang sesuai dengan disiplin ilmu atau kompetensi minat lebih sedikit ketimbang calon pekerja yang ada.

Sementara, mereka yang lulusan sekolah lebih rendah, bahkan yang tanpa latar belakang pendidikan, bisa mendapat pekerjaan lebih mudah. Sebab, mereka tak pilah-pilih. Ya itu tadi, asalkan bisa bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dan, kalau menurut teman-teman saya yang suka puyeng nyari karyawan, bukan masalah lowongannya yang nggak ada, tapi karena para pelamar sering kali pilah-pilih. Apalagi, orang-orang yang memang mencari pekerjaan yang sesuai passion.

Belum lagi, kata mereka, nyari karyawan yang punya dedikasi tinggi agak sulit. Saat ini, anak-anak fresh graduate nyari kerjaan yang nggak mau terlalu berat dengan beban semacam lembur dan laporan, tapi gajinya gede. Kalau bisa, kerja sambil onlenan, biar tetap eksis.

Lha, mending bikin perusahaan sendiri aja. Mau kerja gimana aja bebas. Bisa ngegaji diri sendiri pula. Gajinya? Rp 8 juta. Cukup kan? Per minggu, maksudnya.

Itu namanya jadi wirausahawan alias entrepreneur. Malah lebih bagus, bisa buka lowongan kerja untuk yang lain. Nggak usah jadi karyawan, langsung jadi bos.[]Sumber:viva.co.id/voxpop.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.