15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Teuku Chik Kutakarang, Ahli Sufi dan Intelektual Reformis

...

  • PORTALSATU
  • 24 May 2018 11:00 WIB

Teuku Chik Kutakarang. Ilustrasi. @goodreads.com
Teuku Chik Kutakarang. Ilustrasi. @goodreads.com

SYAIKH Abbas Ibn Muhammad terkenal dengan gelar Teungku Chik Kutakarang, ulama besar, ahli sufi, inteletkual reformis, dan salah seorang pemimpin peperangan melawan Belanda. Menulis dua buah kitab mengenai seluk beluk perang sabil, yaitu Maw-‘idhatul-ikhwan (Nasehat Kepada Sahabat) tahun 1886, dan Tadzkiratur-Rakidin (Untuk Orang yang Berdiam Diri) tahun 1889.

Teungku Chik Kutakarang antara lain mengajarkan, bahwa “barang siapa yang memerangi kafir hendaklah dengan mempergunakan alat-alat senjata yang sama dengan yang dipakai oleh musuh”. Sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa dalam berbagai kesempatan, pejuang Aceh memang berusaha merampas dan membawa lari senjata-senjata Belanda. Teuku Chik Kutakarang wafat pada 1895.

Teungku Chik Kutakarang juga dikenal sebagai tabib dan ahli ilmu perbintangan (ilmu falak). Ia juga seorang negarawan. Pada masa Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyur Syah (1857-1870), Teungku Chik Kutakarang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Aceh (Qadhi Malikul Adil).

Selain dua kitab yang sudah disebutkan tadi, Teungku Chik Kutakarang juga menulis kitab Ilmu Falak dan Ilmu Mikat, kemudian kitab Sirajul Zalam fi Ma’rifati Sa’adi Wal Nahas. Kitab ini berisi tentang ilmu hisab dan ilmu perbintangan (astronomi).

Ia juga mengalihbahasakan kitab Kitabur Rahmah dari bahasa Arab ke bahasa Melayu, kitab ini membahas tentang dunia medis dan obat-obatan. Hingga kini kitan ini masih dipakai oleh tabib-tabib di Aceh.

Sufic and Intellectual Reformist
Syaikh Abbas Ibn Muhammad better known by his title Teungku Chik Kutakarang, was a great religious leader, a Sufic and intellectual reformist, as well as one of the leader in warfare against the Dutch. He was a writer of two book on the holy war, namely “Maw-‘idhatul-ikhwan” (Advice To A Friends) in 1886, and “Tadzkiratur-Rakidin” (For Those Who Keep Still) in 1889.

Teuku Chik Kutakarang preached that “whoever goes to fight the infidels should use the same weapon as that used by the enemy”. Historical sources have shown that the Acehnese would always try to seize and carry away Dutch weapon. Teuku Chik Kutakarang died in 1895.[]Sumber:stemit

Penulis: Iskandar Norman

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.