18 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aksi Hari Tani: Mahasiswa dan Petugas Saling Dorong di DPRK Aceh Utara

...

  • PORTALSATU
  • 24 September 2018 14:25 WIB

@Rizkita
@Rizkita

LHOKSEUMAWE - Puluhan mahasiswa menggelar aksi memperingati Hari Tani Nasional ke-58 di Lhokseumawe, Senin, 24 September 2018. Aksi damai itu kemudian memanas ketika mahasiswa yang memaksa masuk ke dalam Gedung DPRK Aceh Utara di Lhokseumawe terlibat saling dorong dengan petugas. 

Pantauan di lokasi, mulanya puluhan mahasiswa menggelar aksi damai di Tugu Rencong, Simpang Kutablang, Lhokseumawe, sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka kemudian bergerak ke Gedung DPRK Aceh Utara di depan Lapangan Hiraq, Lhokseumawe. 

Para mahasiswa ingin menjumpai Ketua DPRK Aceh Utara untuk menyampaikan pernyataan sikap dan sejumlah tuntutan. Namun, pihak sekretariat dewan menyampaikan bahwa Ketua DPRK tidak ada di kantornya.

"Walaupun Pak Ketua tidak di tempat, kami tetap menunggu. Kami ingin Bapak Ketua lebih memerhatikan nasib petani, kenapa perekonomian di Aceh terus menurun," kata salah seorang mahasiswa.

Saat mahasiswa menunggu Ketua DPRK, muncul Sekwan Aceh Utara Abdullah Hasbullah. "Kami minta maaf kalau Pak Ketua sedang tidak ada di tempat, beliau sedang menghadiri rapat," kata Sekwan kepada mahasiswa. 

Namun, mahasiswa tidak dapat menerima penjelasan Sekwan itu. Mahasiswa pun bertanya, "Kok bisa Pak Ketua tidak ada di tempat, peraturan jam kerja kan mulai jam 08.00 WIB. Apalagi ini hari Senin, seharusnya beliau ada di kantor," kata salah seorang mahasiswa kepada Sekwan.

Mahasiswa tetap meminta Ketua DPRK menemui mereka dan menolak pihak lain yang mewakili. Para mahasiswa yang memasak masuk ke dalam Gedung DPRK kemudian terlibat saling dorong dengan personel Satpol PP dan kepolisian yang mengamankan aksi tersebut di teras kantor dewan.

Mahasiswa akhirnya membubarkan diri untuk jeda sementara lantaran sudah memasuki waktu salat Zuhur. "Kami akan kembali nanti untuk menjumpai Ketua DPRK," kata seorang mahasiswa.

Adapun tuntutan para mahasiswa seperti disampaikan koordinator lapangan, Miswari, dan penanggung jawab aksi, Musliadi Salidan, antara lain wujudkan reforma agraria. "Hentikan impor! Mulai kedaulatan pangan! Sejahterakan masyarakat dengan meningkatkan daya beli hasil pertanian, kelautan dan perikanan".

Tuntutan lainnya, evaluasi distribusi pupuk bersubsidi supaya tepat sasaran, prioritaskan BBM bersubsidi kepada  nelayan, evaluasi Amdal galian C yang tidak sesuai SOP, tindak tegas galian C ilegal, dan menuntut transparansi PAD yang bersumber dari galian C.

Mahasiswa juga menolak pertemuan IMF-WB di Indonesia, stabilkan perekonomian nasional, dan menuntut pemerintah menjamin kebebasan berdemokrasi di Indonesia.[]

Laporan Rizkita, pelajar Basri Daham Journalism Institute (BJI) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe, yang sedang tugas magang di portalsatu.com.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.