24 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Laporan dari Luar Negeri: Melihat Pendidikan di Negeri China

...

  • portalsatu.com
  • 05 April 2019 07:30 WIB

Sitti Hasnidar, Guru kimia SMA Negeri 8 Banda Aceh, di Xuzhou, China. @Istimewa
Sitti Hasnidar, Guru kimia SMA Negeri 8 Banda Aceh, di Xuzhou, China. @Istimewa

Oleh: Dr. Sitti Hasnidar, M.Pd - Guru kimia SMA Negeri 8 Banda Aceh, melaporkandari Xuzhou - China.

Seorang teman sempat bercanda manakala tahu saya mendapat kesempatan belajar ke Negeri China. Menurut mereka saya sudah menjalankan sunnah Rasulullah berdasarkan hadis: “Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China.” Saya menjawab bahwa apa yang disabdakan Baginda Rasul ingin saya laksanakan. 

Ternyataselama saya berada di negeri yang dijuluki Tirai Bambu tersebut sedikit banyak membuktikan asbabul wurud-nya sekaligus banyak kekaguman yang ingin saya ungkapkan terutama di bidang pendidikan. 

Saya  termasuk salah seorang cikgu yang beruntung karena mendapat undangan dari Kemendikbud untuk belajar langsung selama tiga minggu di Negeri China tepatnya di Jiangsu Normal University bersama 12 orang guru asal Aceh. Tahun ini pemerintah melalui Kemendikbud mengirim sebanyak 1.200 guru se-Indonesia yang tersebar ke 12 negara termasuk China.  Program Kemendikbud mengirim 1.200 guru belajar ke luar negeri itu sangat tepat, karena dengan dilakukan hal tersebut membuka wawasan guru di Indonesia untuk terus memperbaiki proses pembelajaran ke tingkat yang lebih baik lagi, karena banyak hal yang dapat kita petik dari perjalanan ini seperti disiplin, kerja keras, ketekunan, pantang menyerah dan keuletan bangsa China dalam menuntut ilmu.   Selama di sana, saya terus berdoa semoga saya diberi kesehatan  dan bisa belajar dengan baik, karena suhu di sana pada saat itu sedang musim dingin,   minus 1 0C -16  0C.  Alhamdulillah sampai pendidikan berakhir saya tetap dalam keadaan sehat walafiat.

Selama di Xuzhou – China,  saya dan peserta lainnya mengikuti proses pembelajaran di Jiangsu Normal University yang dipandu oleh para Profesor yang sangat berkompeten di bidangnya. Ada beberapa  materi yang kami terima antara lain STEM Education-Applying Approaches to Learning by Using ICT for Science Teacher, LEGO Education Experience. Selain itu ada  School Visit and Culture Visit seperti ke Xuzhou History Museum, Stone Relief Museum of Han Dynasty, Yun Long Mountain, Yun Long Lake,  Science Museum, serta ke Quanshan Fores Park. Kami juga diperlihatkan bagaimana proses pembuatan dan mengoperasionalkan robot. Praktis, waktu tiga minggu serasa sangat singkat dengan jadwal yang cukup padat dan menyenangkan.  

Salah satu yang mengagumkan adalah sikap para Professor dan pendamping yang sangat ramah dan cepat akrab. Mereka terskesan sangat bersahaja namun berpemampilan sederhana.  Selain itu, apa yang saya amati dan saya rasakan belajar di China makin membuka mata saya bahwa kita memang perlu belajar dari mereka menyangkut penggunaan media teknologi dalam proses pembelajaran. Dengan media visual, membuat proses belajar lebih tertanam dalam jiwa peserta didik, karena lebih mudah memahami konsep materi yang dipelajari dan  lebih lama bertahan dalam memori mereka.
Satu hal lagi yang saya temui di beberapa sekolah di sana adalah ketersediaan ruang khusus pengenalan macam-macam jenis obat-obat terlarang yang diperkenalkan kepada siswa dan dampak negatif yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan obat-obatan tersebut. Tentu saja hal ini belum pernah ada di sekolah-sekolah di Aceh bahkan mungkin juga di negara Indonesia.  Padahal metode pembelajaran obat-obatan terlarang (drug) yang diperkenalkan di China sangat edukatif dan mengena karena disajikan secara runtut sampai dampak buruk yang ditimbulkan bila mengkonsumsinya, melalui pemanfaatan media visual. Menurut saya model pembelajaran ini perlu diadopsi di Indonesia agar peserta didik tidak mengkonsumsi berbagai jenis narkoba terlarang tersebut. Kita yakin, dengan pemahaman yang baik dan konprehensif akan  membuat mereka lebih bijak dalam bertindak dan bersikap.

Boleh percaya atau tidak, pendidikan di China merupakan salah satu pendidikan terbaik di dunia saat ini, bahkan mengalahkan negara-negara besar seperti Amerika dan Inggris, salah satunya bidang kedokteran. Selain itu sejak dahulu prestasi para atletnya sudah tidak diragukan lagi.  Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pendidikan nasional China adalah untuk mempersiapkan anak didik mengembangkan dirinya dalam dimensi moral, intektual, fisik, estetika sesuai dengan bidang pekerjaannya kelak agar menjadi pekerja sosialis yang memiliki idealisme, terdidik dan berbudaya, memiliki karakter yang kuat dan disiplin. Dibawah pengawasan State Council, Kementerian Pendidikan bertanggung jawab untuk semua perencanaan dan pembuat kebijakan umum tentang pendidikan, dimana administrasi pendidikan dasar didesentralisasikan ke pemerintah provinsi dan kota/kabupaten/desa. Sedangkan pendidikan tinggi system administrasi dan pengawasannya berada di tingkat nasional dan provinsi.

Di bidang IT, di China, pemerintah dan pengembangnya serius mengembangkan layanan dan aplikasi lokal yang mencoba menyaingi aplikasi yang sudah populer di tataran dunia. Bahkan pemerintah China pun membuat beberapa regulasi untuk mengatur kebijakan terhadap produk IT di luar China. Tidak lain adalah Pemerintah China dan Pengusahanya, selain menjaring penggunanya dari China sendiri, juga menjaring dari warga di luar China atau yang mengerti bahasa Mandarin. 

Lalu mungkinkah Aceh atau Indonesia meniru keberhasilan China yang warganya terkenal kreatif dan pekerja keras dalam bidang pendidikan? Saya masih optimis bahwa Aceh bahkan Indonesia  bisa melebihi China bila telah tumbuh kesadaran baru dan kesamaan persepsi dalam merumuskan kebijakan yang realistis  dan tidak hanya sekedar menghabiskan anggaran.  Kita juga tidak menafikan  upaya yang telah dilakukan pemerintah  selama ini, meskipun jika dibandingkan China,  agaknya kita masih tertinggal jauh.  Mempersiapkan anak didik yang lebih bermutu dan profesional memang memerlukan waktu, tekad, anggaran dan regulasi meskipun kita tidak mesti seratus persen mengadopsi produk luar. Kita sendiri punya sistem yang mungkin lebih baik dari model pendidikan luar, apalagi bila diintegrasikan dengan nilai-nilai agama, norma-norma dan kearifan lokal yang diterapkan sejak dulu.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.