19 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Azwani, Putra Paloh Gadeng di Pesantren Tebuireng

...

  • PORTALSATU
  • 24 September 2019 11:30 WIB

Azwani (memakai kain sarung) bersama rombongan asal Aceh Utara usai menziarahi makam Gus Dur di Kompleks Pesantren Tebuireng. Foto: Mahyeddin
Azwani (memakai kain sarung) bersama rombongan asal Aceh Utara usai menziarahi makam Gus Dur di Kompleks Pesantren Tebuireng. Foto: Mahyeddin

Azwani sudah 16 tahun menetap di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Pria berhidung mancung asal Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, itu kini menjadi salah seorang Staf Khusus KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng.

Pondok Pesantren Tebuireng didirikan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 M. Pesantren ini didirikan setelah beliau pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan agama Islam terkemuka di Arab Saudi.

Tebuireng dahulunya merupakan nama dari sebuah dusun kecil yang masuk wilayah Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Letaknya delapan kilometer di selatan kota Jombang, tepat berada di tepi jalan raya Jombang - Kediri.

Dusun Tebuireng sempat dikenal sebagai sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran dan perilaku negatif lainnya. Namun, sejak kedatangan KH. Hasyim Asy’ari dan santri-santrinya, secara bertahap pola kehidupan masyarakat dusun tersebut berubah semakin baik dan perilaku negatif masyarakat di Tebuireng pun terkikis habis.

Awal kegiatan dakwah KH. Hasyim Asy’ari dipusatkan di sebuah bangunan yang terdiri dari dua ruangan kecil dari tepas anyaman bambu, bekas sebuah warung yang luasnya kurang lebih 6 x 8 meter. Satu ruangan digunakan untuk kegiatan pengajian, sisanya sebagai tempat tinggal beliau bersama istrinya, Nyai Khodijah.

Dalam perjalanan sejarahnya, hingga kini Pesantren Tebuireng telah mengalami tujuh kali periode kepemimpinan. Periodisasi kepemimpinan Tebuireng diawali oleh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari: 1899 – 1947, KH. Abdul Wahid Hasyim: 1947 – 1950, KH. Abdul Karim Hasyim: 1950 – 1951, KH. Achmad Baidhawi: 1951 – 1952, KH. Abdul Kholik Hasyim: 1953 – 1965, KH. Muhammad Yusuf Hasyim: 1965 – 2006. Kini pucuk pimpinan pesantren yang telah mencetak para ulama di belahan negeri tersebut berada di tangan KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah sejak 2006 lalu.

Satu-satunya warga Aceh--sejak 2003 sampai saat ini--yang berada di Pesantren Tebuireng itu adalah Azwani. Karena berasal dari Aceh, pria kelahiran tahun 1987 dari pasangan Tgk. Haji Abdullah dan Zalikha tersebut akrab disapa dengan sebutan “Teuku”. “Kon Teungku, tapi Teuku. Lage nan-nan artis Aceh di Jakarta,” ucap Azwani kepada penulis dalam nada canda.

Azwani tampak akrab dan ramah saat menjamu penulis dan rombongan dari Aceh yang datang untuk menziarahi makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kompleks Pesantren Tebuireng, Ahad, 22 September 2019 lalu. 

Dalam perbincangan dengan penulis usai menziarahi makam Presiden keempat RI, itu Azwani berbagi cerita tentang dirinya. Dia mulai hijrah ke Pulau Jawa setelah menamatkan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) tahun 2003 di Aceh Utara. Sebelum memperdalam ilmu agamanya di Tebuireng, Azwani tercatat sebagai salah seorang santri dayah pimpinan Tgk. Junaidi di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. 

Ketekunan Azwani selama 16 tahun di Tebuireng membuahkan hasil yang membanggakan. Pasalnya, selain sudah menjadi salah seorang dewan guru, sejak KH. Salahuddin Wahid memimpin pesantren tersebut, Azwani juga mendapat kepercayaan sebagai staf khusus penjamu tamu kehormatan, baik yang datang dari luar negeri maupun para pejabat dalam negeri.

Kepada penulis, Azwani juga bercerita tentang ramainya peziarah makam Gus Dur. Para peziarah yang datang untuk mendoakan Kyai panutan masyarakat Pulau Jawa itu tidak hanya dari kalangan Muslim, tapi ada juga warga non-Muslim. Setidaknya 15 ribu peziarah dari berbagai pelosok setiap minggunya memadati pemakaman dalam Kompleks Pesantren Tebuireng itu, kata Azwani.

Dalam perbincangan singkat itu, penulis juga sempat menanyakan tentang sikap politik masyarakat Tebuireng saat Pilpres lalu. “Secara garis besar pondok pesantren ini bersikap netral. Gus Sholah adalah tokoh demokratis, beliau membuka ruang bagi kami untuk bebas menentukan sikap politik. Kalau saya tetap salam dua jari (Prabowo-Sandi),” ucap Azwani yang memiliki hubungan akrab dengan Sandiaga Uno.[]

Penulis: Mahyeddin

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.