20 August 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cerita Rubiah di Mamplam Rabu Malam Kelam

...

  • PORTALSATU
  • 10 May 2018 20:30 WIB

Gubuk milik Rubiah. Foto direkam pada Rabu, 9 Mei 2018, siang. @Abel Pasai
Rubiah. @Abel Pasai
Air hujan jatuh ke dalam gubuk Rubiah. Foto direkam, Rabu, 9 Mei 2018, malam. @Abel Pasai
Tempat tidur dalam gubuk Rubiah. @Abel Pasai
Dapur gubuk Rubiah. @Abel Pasai
Atap gubuk Rubiah. Foto direkam pada Rabu, 9 Mei 2018, malam. @Abel Pasai
Gubuk milik Rubiah. Foto direkam pada Rabu, 9 Mei 2018, siang. @Abel Pasai
“Mak kiban ta'eh tanyoe malam nyoe, abeh buluet ija ngon teumpat eh teuh".

Angin kencang menghempas atap gubuk Rubiah, 40 tahun, di Gampong Mamplam, Kecamatan Nibong, Aceh Utara, Rabu, 9 Mei 2018, siang. Bagian tengah atap bolong, hujan pun jatuh ke dalam gubuk reot tersebut.

Air hujan membasahi tempat tidur, pakaian, termasuk buku pelajaran milik Nurlaila, putri bungsu Rubiah. "Mak kiban ta'eh tanyoe malam nyoe, abeh buluet ija ngon tempat eh teuh (Ibu, bagaimana kita tidur malam ini, sudah basah kain dan tempat tidur)," kata Rubiah menirukan ucapan Nurlaila, saat saya ditemani Samsul Bahri, anggota Program Inovasi Desa (PID) Kecamatan Nibong, mengunjungi gubuk perempuan itu, Rabu malam.

Saya dan Samsul Bahri merasa prihatin. Lantai gubuk yang masih tanah, becek dan “berlumpur” akibat hujan yang jatuh melalui atap bolong. Kami bercicara dengan Rubiah sambil berdiri, karena di dalam gubuk itu tidak ada kursi.

Rubiah tinggal di gubuk itu bersama Nurlaila. Dua anak Rubiah lainnya, laki-laki, sudah merantau ke luar Aceh Utara. Suami Rubiah, Bahar, 70 tahun, tinggal di rumah anaknya dari istri pertama di gampong lainnya. Bahar sakit-sakitan sejak dua tahun terakhir.

Rubiah menjadi tulang punggung keluarganya. Ia harus berkerja layaknya pria, seperti menyomprot tanaman  padi, mengangkat padi dalam karung, dan mengecor semen.

Semua itu Rubiah kerjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia pun kerap mengutang beras dari tetangganya. Saat saya mengecek lauk pauk apa yang ada di dapur dalam gubuk itu, Rubiah dengan suara lirih mengatakan, ia sudah sangat lama tidak pernah lagi membeli ikan.

Keterangan Rubiah itu membuat saya bergetar. Saya pun bertanya kepada diri sendiri, “Apakah kondisi ini diketahui oleh penguasa atau pemimpin yang saat ini memanggul amanah rakyat? Bahwa masih ada rakyat miskin di Aceh Utara seperti Rubiah yang nasibnya sangat menyedihkan!”

Saya kemudian merasa takjub, teramat kagum ketika Rubiah mengatakan betapa besarnya semangat belajar anak bungsunya. Nurlaila yang beberapa kali mendapat rangking pertama di SD, ingin melanjutkan pendidikan ke MTsN. Dengan mendayung sepeda ibunya, Nurlaila mendaftar ke MTsN.

Rubiah berharap pemerintah membantu biaya untuk perlengkapan sekolah anaknya, dan merehab gubuk reot yang ia tempati selama ini.

Atap gubuk reot itu bolong akibat dihempas angin kencang, sehingga hujan memaksa Rubiah dan putri bungsunya mengungsi ke rumah neneknya di Gampong Mamplam, Rabu malam itu yang semakin kelam lebam.[]

Penulis: Abel Pasai

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.