26 April 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Darul Musthafa Tarim, Dayah Pencetak Dai Internasional

...

  • PORTALSATU
  • 07 January 2018 09:30 WIB

Aidil Ridhwan
Aidil Ridhwan

Oleh: Aidil Ridhwan*

Akhir-akhir ini, publik Aceh menyambut hangat kedatangan para habib (cucu Rasulullah Saw). Setelah beberapa minggu lalu diziarahi Al Habib Jindan bin Novel, Selasa, 2 Januari 2017, Tanoh Rencong, khususnya warga Banda Aceh menyambut kedatangan Al Habib Alwi Alaydrus dalam rangka tabligh akbar.

Keduanya merupakan alumnus dari Dayah Darul Musthafa, Kota Tarim, Republik Yaman. Sudah tak asing lagi, Dayah di bawah asuhan Al Habib Umar bin Hafidh ini dikenal dengan pengembangan dakwah bil mauidhah al hasanah.

Dayah tersebut didirikan pada tahun 1994. Dari segi kurikulum dan sistem pembelajarannya, metode Darul Musthafa tidak berbeda dengan metode-metode di dayah-dayah salafiyah kita di Aceh, yaitu sistem halakah, di mana seorang guru membaca kitab dan kemudian menguraikan isinya kepada para murid. Begitu juga dengan kurikulum, mulai dari kitab-kitab klasik hingga modern juga diajarkan.

Terkait para santrinya, tak hanya pelajar Indonesia saja, di Darul Musthafa banyak juga saya dapati pelajar dari lintas benua. Mereka datang dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Australia, Inggris, Afrika Selatan, hingga Amerika.

Sungguh ajib, melihat realita seperti ini, saya jadi teringat Aceh puluhan tahun lalu, tepatnya di Dayah Darussalam, Labuhan Haji, di masanya alm. Syeikh Muda Wali Al Khalidy, menurut kabar, santri-santri disana juga ada yang datang dari luar negeri untuk menimba ilmu dari beliau.

Mengenai visi-misinya, selain berilmu, beramal, bertazkiyah an nafs (pembersihan jiwa), Darul Musthafa juga menerapkan visi-misi berdakwah bil mauidhah wal hasanah, yaitu penyampaian dakwah yang sesuai dengan anjuran dari Rasulullah saw, menjauhi dari caci-maki dan mengeluarkan kata-kata kotor.

Yang ajibnya, untuk merealisasikan visi dakwahnya tersebut, pihak Dayah Darul Musthafa membuat jadwal khusus bagi para santri untuk berdakwah keluar dayah, baik hanya di wilayah Tarim ini sendiri, maupun keluar ke kampung-kampung di luar wilayah Tarim. Hal ini disebutkan dengan istilah 'Khuruj Dakwah'.

'Khuruj dakwah' ini terbagi kepada khuruj mingguan dan khuruj tahunan. Untuk khuruj mingguan, waktunya hanya hari Kamis dan Jumat, karena dua hari itu merupakan hari-hari libur bagi santri Darul Musthafa.

Sedangkan khuruj tahunan, waktu khuruj-nya selama 40 hari. Biasanya, khuruj tahunan ini diadakan pada libur musim panas yang bertepatan juga dengan bulan Ramadan. Selama 40 hari itulah, santri-santri meninggalkan Dayah dan berpencar di beberapa wilayah di luar kota Tarim untuk berdakwah/menyebarkan ilmu yang telah mereka peroleh selama di Dayah.

Begitulah caranya mereka menyebarkan keagungan Islam, memperkenalkan Nabi Muhammad saw dan keindahan akhlaknya kepada semua orang. Alhasil, oleh karena adanya metode seperti itu juga, Dayah Darul Musthafa telah melahirkan ratusan dai yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Dari Indonesia sendiri, selain Al Habib Jindan, Al Habib Quraisy Baharun, dahulu juga ada alm. Al Habib Mundzir Al Musawa.

Tak hanya menyebar dakwah saja, Al Habib Umar sendiri juga membuat ikatan (rabithah) dai-dai dan ulama-ulama yang bertujuan untuk mengeratkan ikatan dalam menyampaikan risalah Rasulullah saw. Di Aceh sendiri, sudah terbentuknya majelis Muwashalah Baina al Ulama, forum ikatan para alim-ulama yang telah diresmikan setahun lalu oleh Al Habib Jindan bin Novel. Wallahu 'alam.[]

Penulis adalah warga Aceh di Tarim, Hadhramaut, Yaman

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.