25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


IAI Al-Aziziyah Samalanga Lahir untuk Menjawab Tantangan Zaman

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 10 November 2017 18:20 WIB

Gudung belajar IAI Al-Aziziyah di Komplek Dayah MUDI Samalanga, Bireuen, Aceh. @mrsmudin.blogspot.co.id
Gudung belajar IAI Al-Aziziyah di Komplek Dayah MUDI Samalanga, Bireuen, Aceh. @mrsmudin.blogspot.co.id

DULU sebagian orang menganggap bahwa meneruskan pendidikan ke jenjang  perkuliahan itu belajar ilmu dunia dan bukan belajar “agama”. Dalam pemahaman mereka mungkin beramsumsi bahwa belajar ilmu akhirat  tidak ada tempat lain hanya di dayah, sehingga jika tidak belajar di dayah itu semua berlebel dengan“dunia”.

Menjawab fenomena ini kita merujuk sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Az-Zarnuji dalam kitab “Ta’limul Muta’alim” bahwa posisi niat sangat penting dan berperan sebagai “actor” kunci dalam belajar. Niat itu merupakan  jiwa dari segala tingkah laku orang yang lahir dalam qalbu seseorang. Apabila niat baik karena Allah SWT apapun perbuatannya, apakah bercorak dunia ataupun tidak. Pasti itu digolongkan kepada amalan akhirat.

Namun juga sebaliknya, seseorang mengerjakan suatu pekerjaan walaupun itu ibadah bercorak akhirat  seperti bersedekah, puasa dan lainnya,tetapi dengan niat bukan karena Allah SWT, tentu saja itu dikatagorikan kepada amaliah dunia juga. Hal disebutkan sebuah hadits yang mengatakan: “Banyak sekali amal perbuatan yang bercorak amal perbuatan duniawi, tetapi karena baiknya niat menjadi amal perbuatna akhirat. Dan banyak sekali perbuatan yang bercorak amal perbuatan akhirat, tetapi menjadi perbuatan dunia karena jeleknya niat”.

Lalu niat seperti apa yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu? Tujuan atau niat orang yang menuntut ilmu adalah mencari keridhaan Allah Swt. dan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, berusaha memerangi kebodohan pada diri sendiri dan orang lain, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam serta mensyukuri seluruh nikmat Allah Swt. Semua perbuatan itu berpatron kepada niat dan menyimpulkan perbuatan berorientasi dunia ataupun akhirat juga pada niat dan hanya sang pemilik niat yang lebih tahu. (Kitab Ta’limul Muta’alim, Syekh Az-Zarnuji).

Klasifikasi Menuntut Ilmu 

Kemudian dalam perspektif syariatnya menuntut ilmu itu wajib. Perbedaannya hanya terletak pada wajib ain dan wajib kifayah. Bukan kepada “dunia” dan “akhirat”. Menuntut ilmu agama itu sebagai bekal dalam melaksanakan perintah agama dan hal lain yang berkaitan dengannya seperti shalat, puasa dan sejenisnya itu di katagorikan kepada wajib yang dibebankan kepada setiap individu dengan kata lain di sebut wajib ain. Sedangkan belajar menjadi insiyur, ahli politik, ahli pertanian dan sejenisnya itu merupakan kewajiban yang tidak dibebankan kepada setiap individu, namun apabila telah ada sebagian yang belajar akan menggugurkan kewajiban orang lain atau dikenal fardhu kifayah.

Problemnya, dewasa ini terletak bagaimana generasi penerus itu tidak melupakan kewajiban belajar agama sebagai fardhu ain sebagai kewajiban pokok dan pendidikan yang berkiblat kepada fardhu kifayahnya juga masih kemungkinan dapat ditempuh.

Al-mukarram Abu MUDI melihat fenomena umat dan era globalisasi terus mengancam dekadensi moral dan akidah. Akhirnya beliau menjawab apa yang terjadi dewasa ini dan lahirnya solusi terhadap kekhawatiran itu dengan mendirikan perguruan tinggi di lingkungan dayah, ide itu muncul pada tahun 2003 dengan mendirikan pendidikan formal bernama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aziziyah pada tahun 2003. Penabalan “Al-Aziziyah” itu sebagai tafaulan (sempena) kepada sosok pemimpin dayah sebelumnya yakni Abon Abdul Aziz Samalanga dan beliau dikenal  sebagai sosok “Reformis” dalam dunia pendidikan dayah.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.