23 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Juanda, Pengusaha Muda dan Ketua Masyarakat Aceh di Batam

...

  • portalsatu.com
  • 08 September 2019 21:00 WIB

Juanda, Batam.
Juanda, Batam.

<!--StartFragment-->

PINTU pagar rumah mewah itu dibuka begitu mendengar ucapan salam dari kami. Lalu, pemilik rumah menyambut dengan balasan salam dan jabat tangan disertai senyuman hangat. Kami pun dipersilakan masuk. 

Cahaya lampu putih menerangi ruangan itu, kami duduk di kursi dengan meja bundar. Penampilan pria pemilik rumah terlihat sederhana malam itu. Dia juga tampak ramah. 

Nama pria itu tidak asing lagi di kalangan orang Aceh yang berdomisili di Batam. Setelah pemilihan ketua Permasa baru, namanya semakin dikenal. 

Dialah Juanda, pengusaha muda yang terpilih menjadi ketua Persatuan Masyarakat Aceh (Permasa) kota Batam beberapa waktu lalu, sebelumnya menjabat ketua rayon Sekupang. Ada hal menarik tentang dirinya, salah satunya sisi kehidupan pribadi tokoh ini. 

Ia dilahirkan di Sabang 41 tahun lalu, dibesarkan di Lueng Bata, sebuah kampung di sudut kota Banda Aceh. 

Kehidupan Juanda di masa kecil biasa-biasa saja. Anak ketiga dari delapan bersaudara ini menghabiskan waktunya untuk sekolah dan mengaji, sisanya membantu kedua orang tua. 

Setamat sekolah, di situlah muncul dilema dalam hidupnya, impian Juanda terpaksa dikuburkan lantaran tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. 

Juanda sadar, dia bukanlah anak orang berada, walaupun ayahnya memiliki pekerjaan tetap, tentu itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di samping kebutuhan saudara-saudaranya yang masih duduk di bangku sekolah. 

Sebagai anak yang dilahirkan dari keluarga tak mampu, Juanda merasa harus mengubah nasib untuk masa depan dengan cara merantau. 

Di usianya yang masih terbilang muda, dia bertekad merantau dengan segumpal harapan demi masa depan. Niat itu kemudian sampai ke telinga kedua orang tuanya. 

Ayah dan ibu Juanda sebenarnya sangat berat untuk melepaskan anak lelakinya itu di usia yang masih muda. Akan tetapi, baginya, setiap anak punya jalannya sendiri dalam hidup ini. Sebagai orang tua, beliau hanya bisa memberi restu dan doa semoga kelak cita-citanya di tanah rautau terwujud seperti yang diimpikan. 

"Neuk, berangkahoe jeut kajak, yang bek sagai tinggai semayang, beugot got neuk lam rantoe, ingat Allah neuk (Nak, kemana pun kamu pergi, jangan sesekali tinggalkan shalat, baik-baik di rantau ya nak, ingat Allah nak)". Begitulah pesan Ibunda Juanda ketika dia hendak meninggalkan kampung halaman. 

Juanda menapaki kakinya di pulau Batam sekitar 21 tahun lalu, tepatnya tahun 1988. Dengan modal tekad untuk mengubah nasib, Juanda rela meninggalkan keluarga dan kampung halaman tercinta. Banyak yang menertawai tekadnya itu, namun Juanda tetap optimis demi masa depan yang lebih baik.

Tiba di tanah perantauan, kehidupannya tidak langsung berjalan mulus sesuai prediksi, dia harus melewati berbagai cobaan hidup di kota ini.

Hiruk pikuk dan pahit getirnya kehidupan kota membuat Juanda lebih dewasa dalam menjalani hidupnya. Pernah suatu kali ia menjadi pelayan warung hanya sekadar diberi makan, tanpa gaji khusus seperti pelayan pada umummnya. Akan tetapi, beliau tetap menjalani dengan penuh semangat dan bersyukur. 

Saat itu, hidupnya penuh cemoohan orang, faktor ekonomi menjadi penyebab utama dia dipandang sebelah mata. Juanda hanya berserah diri kepada Allah, dan Allah lah yang dapat menolong. Baginya, semua manusia sama di hadapan Allah, hanya ketakwaan yang membedakan manusia di sisi-Nya. 

“Dalam hidup pasti punya cobaan, sabar dan bersyukur adalah kuncinya,” ucapnya dengan nada terbata-bata. Mungkin dia sedih mengenang masa silam.

Tak lama berselang waktu, Juanda dipanggil oleh sebuah perusahaan kapal di Singapura, kebetulan dia memiliki ilmu teknik meskipun setingkat STM. Itulah awal langkahnya menuju kehidupan yang lebih baik. 

Juanda menjalani hari-hari sebagai pekerja di kapal. Seiring berjalan waktu, ia mendapat kepercayaan dari perusahaan untuk naik jabatan, juga akan disekolahkan ke pendidikan lebih tinggi. Juanda sangat bersyukur, baginya itulah rezeki dari Allah yang harus disyukuri. 

Setelah menikah dan dikarunia anak, kehidupan Juanda semakin membaik. Dalam kurun waktu yang tak begitu lama, akhirnya lelaki itu bisa berdikari dengan membuat perusahaan sendiri. Dari tidak memiliki apa-apa, kini ia punya kapal. 

“Apa yang membuat kanda bisa sukses seperti ini, khususnya sebagai pengusaha?” kami bertanya.

"Sebenarnya tidak pernah terbayangkan akan hidup seperti ini, inilah rezeki dari Allah," ujar Juanda. 

Dalam menjalani hidup, ia menerapkan beberapa hal, di antaranya; berusaha, bersyukur, jujur, sedekah, berserah diri kepada Allah, dekat dengan alim ulama, dan yang paling penting dalam hidup ini adalah berbakti kepada orang tua.

“Itulah yang saya terapkan dalam hidup. Dalam keadaan apa pun, saya bersyukur, bersedekah, jujur, dan selalu berharap kepada Allah. Kejujuran adalah kunci utama dalam bekerja dan berusaha,” ujar lelaki yang memiliki tiga anak ini. 

Terkait dengan terpilihnya ia sebagai ketua Persatuan Masyarakat Aceh (Permasa) kota Batam, ia mengajak seluruh masyarakat Aceh yang berada di bawah payung Permasa ini untuk bekerja sama agar ke depan lebih baik dari sebelumnya. Dia akan berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuannya. Mungkin secara teknisnya akan dibahas bersama nantinya.

“InsyaAllah amanah ini akan saya jaga sebisa mungkin, dan harapan saya ke depan semoga Permasa lebih baik lagi. Dan itu terwujud berkat kerja sama yang baik dari kita semuanya,” katanya. 

Itulah sekilas sosok Juanda, salah satu di antara beberapa pengusaha muda asal Aceh yang kini juga diangkat sebagai tokoh Aceh di kota Bandar Dunia Madani.[]

Penulis: Yanis Alfata

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.