21 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ketika Mahasiswa Mengedukasi Ibu-Ibu Memanfaatkan Pelepah Sawit untuk Anyaman Tepas

...

  • PORTALSATU
  • 18 September 2019 09:00 WIB

Foto istimewa
Foto istimewa
Foto istimewa
Foto istimewa

“Waktu adalah uang,” begitu kata orang bijak. “Ketika kita dapat memanfaatkan waktu dengan baik, tentu dapat menambah penghasilan,” ungkap Fitri, mahasiswa Unimal yang sedang melaksanakan KKN PPM di Gampong Kilometer VIII, Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara, belum lama ini, saat berhadapan dengan ibu-ibu bekerja sebagai buruh harian lepas di perkebunan kelapa sawit milik salah seorang pengusaha swasta. 

Fitri yang merupakan Humas Kelompok 08 KKN PPM Unimal angkatan XXVI tahun 2019 itu tentunya punya alasan tepat untuk mengungkapkan hal tersebut. Pasalnya, para ibu yang bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit itu hanya bekerja sestengah hari, mulai pukul 08.00 sampai 13.00 WIB. Artinya, mahasiswa kampus ternama di Lhokseumawe dan Aceh Utara tersebut mengajak masyarakat agar memanfaatkan waktu luangnya sore hari untuk menggali pundi-pundi rupiah dari hasil kreativitas.

Hamparan kebun kelapa sawit yang luasnya ratusan hektare di gampong yang dipimpin Geuchik Mahyeddin Abubakar itu ternyata hanya 20 persen milik warga setempat. Selebihnya dikuasai warga luar, mulai dari pensiunan, pengusaha swasta sampai ASN di lingkungan Pemkab Aceh Utara ikut berinvestasi di sana dengan membeli/ganti rugi tanah warga.

Melihat fenomena tersebut, para mahasiswa mengajak dan mengedukasi warga agar memanfaatkan pelepah kelapa sawit yang terbuang percuma itu untuk dianyam menjadi tepas. Bahan baku yang melimpah dan mudah didapat di perkebunan sekitar membuat peluang usaha anyaman tepas menjadi potensi sangat menjanjikan bagi masyarat setempat. 

Dengan mengasah keterampilan warga, para mahasiswa sangat berharap agar anyaman tepas berbahan limbah terbuang itu dapat dikembangkan secara berlanjut untuk menambah pendapatan masyarakat. Meski dikerjakan sambilan, kerajinan tangan yang digunakan sebagai penyekat ruangan tersebut memiliki harga pasar yang sangat menjanjikan. Tepas berukuran 2x2 meter biasa dibandrol dengan harga 80 ribu rupiah.

“Anyaman tepas berbahan pelepah kelapa sawit ini mungkin di Aceh Utara baru pertama dikenal. Namun untuk daerah lain di Sumatera sudah berkembang dan mudah ditemukan,” kata Rohaida, mahasiswa Fisip Unimal asal Sumatera Barat sebagai inisiator penganyaman tepas tersebut.

Said M.Yusren Ihsan Fikri, selaku ketua kelompok berharap agar kreativitas yang diedukasikan kepada masyarakat melalui mata kuliah KKN PPM mahasiswa Unimal angkatan XXVI ini dapat dikembangkang. Dia sangat yakin inovasi kreatif persembahan mereka ini adalah salah satu potensi terkecil yang ada di Gampong Kilometer VIII.

“Melalui pengabdian ini kami juga barharap masyarakat dapat menggali potensi-potensi lainnya yang dulunya terbuang dapat dimanfaatkan dan menghasilkan” pungkas  Said.[]

Penulis: Mahyeddin

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.