06 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kompor Oli Bekas Lahir di Simpang Keuramat Sebagai 'Jawaban' Kelangkaan LPG 3 Kg

...

  • PORTALSATU
  • 23 September 2019 09:30 WIB

Anggota DPRK Aceh Utara, Tgk. Nazaruddin, dan rombongan Muspika plus Simpang Keuramat, menyaksikan kompor oli bekas, karya mahasiswa KKN PPM di Gampong Kilometer VIII. Inovasi itu dipamerkan saat Bursa Inovasi Desa se-Kecamatan Simpang Keuramat. Foto ist
Anggota DPRK Aceh Utara, Tgk. Nazaruddin, dan rombongan Muspika plus Simpang Keuramat, menyaksikan kompor oli bekas, karya mahasiswa KKN PPM di Gampong Kilometer VIII. Inovasi itu dipamerkan saat Bursa Inovasi Desa se-Kecamatan Simpang Keuramat. Foto ist

Kelangkaan dan mahalnya liquified petroleum gas (LPG)—diucapkan elpiji—adalah persoalan yang seakan tidak pernah terselesaikan di negeri ini. Terlebih di daerah-daerah pelosok yang luput dari pengawasan pihak berwenang, LPG 3 kg subsidi pemerintah untuk keluarga menengah ke bawah pun berani dijual seharga Rp30.000 - Rp35.000 per tabung. 

Mahasiswa Unimal angkatan XXVI yang sedang melaksanakan KKN PPM bekerja sama dengan Geuchik Gampong Kilometer VIII, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, berhasil mengembangkan inovasi kompor berbahan bakar oli bekas sebagai "jawaban" atas kelangkaan serta mahalnya harga LPG 3 kg di gampong yang dipimpin Mahyeddin Abubakar itu.

Pengembangan kompor berbahan limbah tersebut berawal dari Andhika Putra, mahasiswa Jurusan Elektro Fakultas Teknik Unimal yang mengakses sebuah aplikasi di telepon genggamnya untuk mencari produk inovasi tepat sebagai tugas individu dalam pengabdian kepada masyarakat di akhir mata kuliahnya itu.

Menurut Dhika, sapaan akrap mahasiswa Unimal asal Sumatera Barat itu, untuk melahirkan sebuah inovasi tidak serta merta harus dengan temuan baru. Namun, inovasi adalah suatu pembaharuan terhadap berbagai sumber daya. Sehingga sumber daya tersebut mempunyai manfaat yang lebih bagi manusia.

(Andhika Putra, mahasiswa Unimal, saat merakit kompor oli bekas di bengkel las. Foto: Mahyeddin)

Geuchik Gampong Kilometer VIII selaku penanggung jawab atas setiap agenda Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Kelompok 08 yang diketuai Said M. Yusren Ihssan Fikri itu menyambut baik ide pengembangan alat tersebut. Pasalnya, alat modivikasi sederhana yang terbuat dari 120 cm pipa besi berukuran 3inc ditambah 100 cm pipa 1/2 cm serta blower sebagai pengembus aliran oli menuju pembakaran itu dijual dengan harga Rp800.000 - Rp2.600.000, belum termasuk ongkos kirim di beberapa toko online.

“Setelah selesai perakitan di salah satu bengkel las, kompor oli bekas tersebut langsung kita lakukan uji coba dan hasilnya sangat memuaskan. Alat ini menjadi buah tangan kami, dan semoga bermanfaat untuk meningkatkan produksi usaha kerupuk jengkol Pak Geuchik. Sekaligus ucapan terima kasih kami kepada beliau yang telah menerima dan membina kami di desanya selama sebulan,” ucap Agustina, mahasiswa Fakultas Hukum Unimal yang tergabung dalam Tim I Kelompok 08 KKN PPM Angkatan XXVI yang akan berakhir pada Rabu, 25 September 2019.  

Dalam uji coba tersebut, api menyala tanpa asap. Untuk 30 menit pengoperasian membutuhkan empat liter oli, dengan pengapian 10 kali lipat lebih panas dari kompor gas biasa. Di mana untuk mendidihkan 25 liter air hanya butuh waktu lima menit dan tentunya alat ini sangat bermanfaat untuk para pelaku home industry dan rumah makan. 

Kompor oli bekas pengganti gas kreasi mahasiswa Unimal yang telah ditampilkan dalam Bursa Inovasi Desa se-Kecamatan Simpang Keuramat, 3 - 4 September 2019 lalu, ini juga sempat menjadi salah satu daya tarik warga yang mengunjungi stan Gampong Kilometer VIII di halaman Kantor Camat Simpang Keuramat.[]

Penulis: Mahyeddin

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.