16 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Langai Ditarik Tanah Tercabik Menjadilah Garam

...

  • PORTALSATU
  • 10 July 2018 11:30 WIB

Seorang petani garam membuat tabung penampung air garam di Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Selasa (2/8/2017). Ilustrasi. @KOMPAS.COM
Seorang petani garam membuat tabung penampung air garam di Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Selasa (2/8/2017). Ilustrasi. @KOMPAS.COM

LANGAI bergerak pelan, berlalu sebagaimana penariknya berkacak pinggang, sekali dihentak sekali ia menggaruk tanah dengan jemarinya yang dibuat dari kayu, jari jari itu diikat pada himpitan sebatang bongkahan kayu yang berukuran agak besar, kemudian diberi satu lagi kayu panjang tempat pegangan untuk menariknya. 

Tanah lapang yang luasnya berukuran lebih dari satu lapangan sepak bola, tanah yang terletak di pinggiran sungai kampung yang bermuara ia ke laut lepas. Jika air pasang lahan tersebut tak bisa dipakai kerana air akan tergenang di sana, walaupun di awal tahun 2009 lalu sudah diberi tembok pembatas namun air tetap juga menggenangi tempat itu.

“Kiban, ho kaneuk jak nyan,” Malet Hawa bertanya padaku. “Hana long jak saho, long nak kalon blee sira, siat,” jawabku pada perempuan paruh baya yang tengah membawa sebongkah kayu. Ia nak memasukkan kayu itu ke dalam api yang tengah membakar beulangong (tungku garamnya).

Perempuan paruh baya yang bernama lengkap Siti Hawa itu sudah puluhan tahun menjadi petani garam. Sampai kini ia sudah punya menantu dan cucu masih juga menjadi petani garam tradisional. Saban hari dirinya berada di blee sira, terkadang malam hari pun harus di sana, menjaga api supaya selalu bersua di bawah tungku pemasak garam.

Di sana, di atas tanah lapang pinggiran sungai yang bermuara langsung ke laut lepas sudah puluhan tahun dijadikan tempat untuk membuat garam. Semenjak kecil sudah kulihat tanah lapang itu menjadi tempat untuk mereka mereka yang petani garam di kampungku, Bluka Teubai, Dewantara, Aceh Utara.

Pagi ini, bertepatan dengan hari Senin, tanggal 09 Juli 2018, kembali melihat area garam para petani tersebut. Gubuk gubuk tempat garam dimasak terletak rapi, ratusan gubuk kecil ada di sana dan semua itu ada pemiliknya. Sepertiga masyarakat dari kampung Bluka Teubai adalah petani garam. 

Beberapa anak kecil tengah bermain di palung palung air, mereka tengah menangkap Bingvoe (kepiting kecil bercangkang besar warna merah). Mereka sangat asyik bermain, lagi pun ini masih musim libur sekolah nanti di tanggal 17 Juli 2018 baru mereka akan bersekolah lagi.

Bukan kali ini sahaja ke sana, melainkan dari dahulu blee sira itu juga pernah menjadi tempat bermainku bersama rakan-rakan, sudah sering sekali pulang pergi melewati tempat pengolah garam tradisional tersebut, yangmana sekalian petani garam mencari rezeki, menghidupi dan membiayai sekolah anak anaknya dari garam yang dihasilkan di sana.

Akan tempat pengolah garam yang sangat alami itu, yang jelas sekali kehalalannya, menurutku, kerana tempatnya bersih, jarang ada binatang ternak yang leluasa bisa pergi ke sana oleh kerana letak lahan tersebut di tengah tengah tambak para warga dan dikelilingi sungai yang airnya langsung mengalir ke muaranya, adalah di tempat itu bisa dilihat langsung bagaiman cara garam diolah. 

Bahkan bisa dilihat dari pertama tanah dikeruk di awal pagi, sore harinya tanah yang sudah kering itu, yang sudah dikeruk di awal pagi tadi, itu, dikumpulkan ditumpukannya lalu ditiriskan dengan air sungai atawa air yang berada di dalam palungan.

Bahkan lagi bisa dilihat akan tanah yang sudah ditiriskan dengan air tersebut dimasak menjadi garam, siapa sahaja boleh melihat proses itu, tak musti, siapa sahaja boleh melihatnya. Kulirik jam tangan yang ada di tangan kiriku, jarum panjangnya sudah mengarah pada angka 11 pagi, tak terasa rupanya sudah beberapa sa’at berada di sana. 

Akan tetapi sayang beribu kali sayang akanpada sekalian para petani garam tradisional tersebut, mereka tidak punya banyak uang untuk mengurus surat izin halal. Maka terjadilah apa yang tidak diinginkan, apalagi oleh sekalian para petani garam itu sendiri. 

Iaitu di beberapa bulan terakhir dan sampai pada hari ini belum jua pasti kejelasannya, yangmana ada beberapa orang oknum, yang sudah terlalu pandai, bahkan sudah pandai sekali, tahu sekali tentang bagaimana cara membuat garam, lahan yang digunakan oleh para petani garam, mungkin juga mereka sudah pernah melihat lahan yang ada di kampungku ini.

Mereka mereka itu tahu sekali pada halnya kerjanya itu hanya duduk manis sahaja di kantornya, di ibukota sana. Tapi para petani garam yakin bahawa mereka sangat tahu tentang bagaimana membuat garam dan lahannya, maka bukan seenaknya sahaja, tidaklah seenak perutnya sahaja tak kala beragumen, mengeluarkan suara di surat kabar dengan lantangnya. 

“Garam yang dihasilkan oleh petani tradisional itu tidak jelas kehalalannya, harus ini, harus itu dulu,” enak sekali mereka berkata-kata di atas kursi busa di ibukota.

“Aku ingin sekali bertanya kepada orang orang yang sudah terlalu, sangat pandai sekali itu, kepada orang orang yang dengan sesuka hatinya sahaja berkata kata di surat kabar tentang kehalalan garam petani tradisional, kemarin kemarin itu. Berapa banyak sudah, anda-anda itu membantu para petani garam, apa sahaja yang sudah anda berikan untuk mereka, apa?”

Jam sudah menunjukkan angka 11: 33 WIB, blee sira pun kutinggali untuk Malet Hawa dan para petani garam lainnya. Geramku bisa semakin menjadi jadi nantinya dan bodohnya lagi merepet sendiri tak ada objeknya. Maka beranjaklah diriku dari sana.[]

Penulis: Muhammad Syukri (Syukri Isa Bluka Teubai).

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.