21 April 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menggugah Kesadaran dengan Ber-meuseuraya

...

  • PORTALSATU
  • 10 April 2016 18:00 WIB

Meuseuraya Mapesa di Gampong Blang Oi, Meuraksa, Banda Aceh, Minggu, 10 April 2016. @Deasi Susilawati/Mapesa
Meuseuraya Mapesa di Gampong Blang Oi, Meuraksa, Banda Aceh, Minggu, 10 April 2016. @Deasi Susilawati/Mapesa

Oleh Muhajir Ibnu Marzuki

Bagi masyarakat Aceh yang aktif mengikuti perkembangan aktivitas di bidang sejarah dan kebudayaan, meuseuraya, kata yang tidak asing. Betapa tidak, meuseuraya, seakan sudah menjadi sebuah kegiatan yang hanya milik sebuah organisasi yang aktif dalam menggali informasi tentang sejarah.

Sejatinya, meuseuraya, kata yang berasal dari bahasa Aceh yang berarti gotong royong adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam suatu lokasi untuk tujuan yang sama. Namun setelah Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh), organisasi yang bergerak di bidang sejarah, mempopulerkan kata tersebut  untuk kegiatan rutin mereka tiap minggu pagi hingga menjelang siang, kata meuseuraya pun menjadi ciri akan keberadaan kelompok ini.

Kegiatan meuseuraya yang dilakukan Mapesa tak lain adalah membersihkan dan menata situs sejarah Aceh. Nisan tua atau ‘batee jrat meuuke’ merupakan situs sejarah yang diprioritaskan. Mengingat kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Umum dijumpai nisan-nisan tersebut dijadikan warga sebagai batu asah parang atau sikin.

Lain hal instansi yang tupoksi-nya (tugak pokok dan fungsi) berkaitan dengan benda tersebut seperti Balai Pelestarian Cagar Budaya Banda Aceh, Balai Arkeologi Medan dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata seakan tutup mata akan kondisi benda yang seharusnya diprioritaskan dalam program kerjanya. Mengingat banyak nisan-nisan tua yang hancur setelah Aceh dilanda bencana besar gempa dan smong (tsunami), akhir tahun 2004 silam.

Nisan tua yang dijadikan BCB (benda cagar budaya) prioritas oleh Mapesa merupakan nisan yang terpahat indah dengan ornamen dan seni kaligrafi. Nisan tersebut merupakan karya seni peninggalan kerajaan Islam di Aceh yang memuat catatan dan data-data penting untuk merestorasi sejarah Aceh.

Selain itu, benda tersebut  sudah berumur ratusan tahun dan mempunyai nilai penting terhadap identitas Aceh yang dapat memperkuat kepribadian bangsa. Di mana umur benda dan nilai yang dikandungnya menjadi syarat utama sebuah benda untuk dijadikan sebagai benda cagar budaya yang dilindungi negara sebagai termaktub dalam undang-undang no 11 tahun 2010 tentang cagar budaya.

Kondisi yang serba terbatas, mengharuskan Mapesa untuk berkonsentrasi kerjanya hanya di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar saja. Karena keadaan tersebut, mereka pun belum bisa menjamah kabupaten lain yang juga mempunyai potensi besar akan situs sejarah. Walaupun demikian, Mapesa tetap berusaha untuk mengadakan meuseuraya-nya di luar kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar seperti di Kabupaten Pidie, Aceh Jaya, dan Bireuen.

Pagi ini, Minggu, 10 April 2016, Mapesa hadir di Gampong Blang Oi, Meuraksa, Banda Aceh. Dengan peralatan seadanya, belasan anggota Mapesa kembali mengucurkannya keringat membersihkan Komplek Makam Malem Diwai.

Komplek makam yang terletak tak jauh dari jalan Sultan Iskandar Muda, hanya berpaut sekitar 400 meter tersebut kondisinya sangat memprihatinkan. Semak belukar yang sangat lebat sudah menutupi sebagian besar komplek makam bersejarah itu.

Namun demikian, ada yang istimewa dengan meuseuraya Mapesa hari ini. Di mana beberapa mahasiswa bidang sejarah turut menghadirinya. Kehadiran  Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Banda Aceh, Irini Dewi Wanti dan staf BPNB serta beberapa staf BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Aceh di komplek makam yang terletak tak jauh dari RTH (ruang terbuka hijau) Gampong Lambung, Meuraksa, Banda Aceh itupun menjadi sebuah momen yang langka dan selalu dinantikan.

Selain itu, kehadiran para relawan biru, relawan politik yang mengusung seorang tokoh untuk menjadi bakal calon kepada daerah, menjadi hal menggembirakan tersendiri bagi Mapesa. Betapa tidak, sejarah dan kebudayaan yang dulunya belum menjadi daya tarik bagi politisi untuk menaikkan popularitasnya.

Kini, dengan kehadiran relawan biru yang mengusung jargon “utamakan kepentingan rakyat Banda Aceh”, seakan kampanye Mapesa untuk menggugah kesadaran semua pihak untuk melestarikan situs sejarah Aceh dengan ber-meuseuraya mulai terlihat hasilnya.

Kehadiran tim relawan itupun, memperlihatkan Mapesa sebagai organisasi yang terbuka terhadap semua kelompok demi terwujud cita-cita luhur, melestarikan warisan budaya bangsa.

Lain hal, kegiatan meuseuraya Mapesa yang aktif tiap minggu pagi pun, sudah mulai terlihat tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk peduli kepada warisan leluhur. Di mana masyarakat sekitar situs sejarah tempat Mapesa mengucurkan keringatnya sudah mulai ikut perhatian dengan kegiatan Mapesa.

Seperti hari ini, seorang penduduk yang berdomisili tak jauh dari komplek Makam Malem Diwai, ikut memberi sumbangan berupa air mineral dan sedikit dana untuk kegiatan Mapesa. Diapun meminta maaf dan pengertian dari Mapesa, karena tidak bisa membantu langsung membersihkan komplek makam karena ada kegiatan lain yang harus dia hadiri.

“Di lain hari, bahkan ada warga yang menyumbangkan puluhan es krim batang kepada kita. Ini terjadi ketika kita melakukan meuseuraya di Gampong Bitai,” ujar Mizuar Mahdi yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Mapesa di sela-sela istirihat makan siang saat meuseuraya berlangsung hari ini.

Kesadaran masyarakat yang sudah mulai tumbuh seiring dengan gencarnya Mapesa mengkampanyekan penyelamatan situs sejarah Aceh merupakan energi positif terhadap dunia kesejarahan dan kebudayaan Aceh.

Sejatinya, kesadaran ini diharapkan tidak hanya ditumbuh di kalangan masyarakat saja. Namun juga bisa mekar di instansi yang mempunyai wewenang dalam menyelamatkan warisan peradaban Islam yang kelak akan menjadi sumber ilmu pengetahuan dan wawasan bagi generasi penerus. Wallahu ‘alam.[]

*Muhajir Ibnu Marzuki, aktif di Mapesa dan Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri (ASHaF)

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.