21 January 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Nyesal Nda ke Aceh, Yuk Berwisata!

...

  • PORTALSATU
  • 26 November 2017 08:50 WIB

Museum Tsunami Aceh @majalah Asri
Museum Tsunami Aceh @majalah Asri

Oleh: Feriyadin KoBi

Merasakan pengalaman berbeda saat pertama berkunjung ke daerah yang digaungkan sebagai Serambi Mekkah bahkan saat ini berusaha menuju model daerah Madani. Aku benar-benar sedang merasa berada di daerah yang sangat kuat dan kental dengan pengaruh syariat islamnya. Sepanjang perjalanan disuguhkan dengan hamparan pemandangan bukit dan sawah yang hijau serta suguhan warna langit yang biru nan elok.

Hal tersebut membuat mata tak ingin melepaskan momen untuk menikmati suasananya. Selain pemandangan alam yang indah, mata ini selalu tertuju pada beberapa papan yang tertancap di tengah trotoar dengan kaligrafi berlafal Allah yang berwarna hijau. Ditambah dengan adanya tulisan Al-Asmaul Husna beserta dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Ini salah satu yang membuat aku tertarik karena sepanjang perjalanan aku berusaha membacanya dan menjadikannya sebagai pengingat bagiku bahwa selama perjalanan harus mengingat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan yang begitu berharga padaku untuk berkunjung ke daerah perdana Islam masuk ke Nusantara, karena banyak ahli sejarah dalam negeri maupun luar negeri berpendapat bahwa Agama Islam pertama masuk ke Indonesia melalui Aceh.

Setibanya di kantor orang nomor satu di Aceh yaitu kantor gubernur Aceh, kami disambut dengan tangan terbuka dan merasakan kehangatan dari pihak panitia provinsi Aceh kepada para peserta Kapal Pemuda Nusantara Sail Sabang 2017. Saat penyambutan oleh pihak provinsi yang dibuka oleh salah seorang pejabat, yang sebelumnya diwali dengan pembacaan Alquran dan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara formal.

Di pertengahan acara beliau mengambil alih acara dan memohon izin kepada seluruh yang ada dalam ruangan, agar acara dipercepat karena akan memasuki waktu salat Jumat. Kamipun mengikuti apa arahan dari tuan rumah dan alhamdulillah mendapat kesempatan mendapatkan informasi singkat dari beliau terkait Aceh walaupun rasa penasaran masih besar untuk mendengar lebih banyak terkait daerah ini.

Peserta dan panitia muslim berbondong-bondong ke masjid untuk melaksanakan salat Jumat berjamaah. Panitia telah berencana untuk melakukan city tour di Kota Banda Aceh, agar bisa melihat langsung tempat-tempat peninggalan tsunami. Selama dalam perjalanan kami dipandu oleh seorang freelance guide bernama Rahayu, seorang perempuan yang telah menamatkan studinya di universitas dengan program studi yang diambilnya yaitu Pendidikan Bahasa Inggris.

Saya mulai bertanya terkait Aceh yang dijuluki dengan sebutan “Serambi Mekkah”. Ia pun menjelasakan kepada kami bahwa zaman dahulu pada abad ke-15 M, julukan Serambi Mekkah yang diperoleh dari umat Islam Nusantara karena daerah tersebut penuh dengan nuansa keimanan, keagamaan, dan ketaqwaan. Sembari mendengar penjelasan dari Mbak Ayu, aku berusaha melihat ke jendela bis yang dibasahi oleh guyuran hujan. Membuatku terpesona akan keindahan daerah yang kami lewati, terdapat lingkungan yang bersih tanpa ada kotoran yang berserahkan di pinggiran jalan. Rumah-rumah warga maupun kompleks perumahan nampak rapi dan bersih ditambah lagi suguhan sekilas dari beberapa taman yang hamparan rumput hijaunya beserta beberapa tempat duduk dan benda bersejarah seperti pesawat terbang. 

Hari ini, Jumat, 24 November, kami diajak untuk berkunjung melihat dua objek wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara yaitu PLTD Apung dan Museum Tsunami. Sekarang kedua tempat tersebut menjadi saksi bahwa aku telah berkunjung ke Aceh yang penuh dengan peristiwa duka yang diakibatkan bencana tsunami.

Pada saat berkunjung ke situs PLTD Apung yang berada di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Meraxa sebagai saksi bisu kedahsyatan tsunami Aceh sehingga membuat hati semakin mengagungkan kekuasaan Allah Swt. atas segala apa yang telah terjadi di muka bumi ini. Tak mampu dibayangkan bagaimana kapal pembangkit listrik tenaga diesel dapat berpindah posisi dari pelabuhan hingga ke tengah-tengah permukiman warga di Kota Banda Aceh dengan perkisaran jarak lima kilometer.

Sekilas saya membaca dan menonton tayangan yang ada di monitor dalam kapal tersebut menjelaskan bahwa panjang kapal 63 meter dengan luas kapal mencapai 1.900 meter persegi yang mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt dengan bobot 2.600 ton. Isi dalam kapal berupa mesin tidak mengalamai kerusakan parah pascatsunami, mesin tersebut sudah diangkat keluar oleh PLN karena masih dapat dipergunakan. Tapi badan kapal diminta untuk tetap berada di lokasi sebagai monumen sejarah  oleh pemerintah untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi pada bulan Desember 2004.

Ada beberapa prestasi yang telah peroleh oleh PLTD Apung yaitu: pada tahun 1997 berhasil mengatasi krisis pembangkit di Pontianak, tahun 1999 berhasil mengatasi krisis kelistrikan di Bali akibat gangguan kabel bawah laut, tahun 2000 berhasil mengatasi krisis kelistrikan di Madura, dan tahun 2003 mengatasi krisis pembangkit di Banda Aceh.

Dari sekilas informasi yang didapat dari kunjungan singkat tersebut, memberikan pembelajaran berharga pada diri bahwa tidak ada kekuatan yang dahsyat dari hamba Allah yang mampu memindahkan sebuah benda tanpa kehendak Allah Swt. Sehingga perestiwa tersebut memberikan pembelajaran bahwa kita manusia adalah hamba Allah yang lemah dan selalu butuh pertolongan-Nya.

Objek wisata kedua yang kami kunjungi yaitu Museum Tsunami Aceh. Qwalnya kami ingin berkunjung ke kapal terapung tapi karena kondisi pada saat itu masih hujan sehingga kami memutuskan untuk berkunjung ke Museum Tsunami Aceh. Setiba di lokasi memberikan diri sejenak untuk memuji kebesaran Allah Swt karena dapat berkunjung dan menyaksikan langsung museum, karena selama ini hanya dapat menyaksikan melalui youtube dan media televisi.

Hal inilah yang membuat perasaan saya selalu bersyukur mendapatkan kesempatan melihat secara dekat dan langsung bangunannya yang didesain oleh Bapak Wali Kota Bandung sekarang M. Ridwan Kamil. Kami dipandu oleh salah satu guide lokal yang bertugas di museum tersebut. Ia mengajak kami masuk ke dalam sambil menjelaskan setiap benda yang terdapat dalam bangunan. Bangunan tersebut dibangun atas inisiatif Pemerintah Aceh beserta beberapa lembaga pemerintahan lainnya, sebagai wahana untuk memperingati jatuhnya 120.000 korban jiwa dan dipergunakan untuk sarana edukasi bagi masyarakat umum.

Museum tersebut katanya telah diresmikan sejak Februari 2008 dan baru dibuka untuk umum pada tanggal 8 Mei 2011. Mengenai konsep diambil dari ciri khas rumah tradisional Aceh yang bertemakan Rumoh Aceh as Escape Hill. Saat kami diajak masuk di lantai dasar, semua terlihat terbuka tanpa ada sekat apapun yang berfungsi sebagai ruang publik. Saya melihat satu holikopter yang telah rusak sebagai benda bersejarah unutk mengingatkan kami bahwa pihak keamanan dan pertahanan negara telah ikut terlibat dalam mengevaluasi korban jiwa.

Selain itu yang membuat saya terpesona dari bangunan museum ini yaitu dindinganya penuh dengan kotak-kotak kecil yang ternyata memilki makna tersendiri yaitu adaptasi citra dari tari saman yang berfungsi sebagai simbol kekuatan, kedisiplinan, dan kepercayaan religius masyarakat Aceh. Selama perjalanan masuk dan melihat lebih dekat bangunan tersebut, aku melihat sekitar dinding jalan masuk yang terdapat rekaman gambar maupun video, tempat tersebut terdapat lorong air terjun di kedua sisinya yang memunculkan nuansa kepanikan.

Selain itu, yang membuat hati ini terpukul dan sangat bersedih ketika berada dalam lorong vertikal yang menjulang di tengah menyerupai cerobong asap. Saat masuk di tempat tersebut pemandu meminta kami untuk mendokan arwah-arwah korban tsunami. Saat itulah saya merasa terpukul dan merinding mendegar suara rekaman yang mengucapkan kalimat tauhid (Lailahaillallah) secara terus menerus dalam posisi lampu dimatikan sejenak sembari kami mengirimkan doa untuk para arwah.

Saat lampu dinyalakan kembali kami mulai membaca nama-nama korban jiwa sambil melihat ke atas puncak lorong tersebut yang berlafadzkan “Allah” dalam huruf Arab yang dimaknai setiap manusia akan kembali ke kehadirat Allah Swt. Sudah sepantasnya kita memperkokoh hubungan baik dengan sang pencipta Allah Swt.

Tak henti hingga di lorong tersebut kami digiring oleh pemandu, kami diajak untuk melihat benda-benda sebagai alat peraga edukasi berkaitan dengan peristiwa tsunami. Setelah dari tempat tersebut suguhan terakhir yaitu masuk ke sebuah display dokumentasi. Dalam ruangan tersebut lampu dimatikan dan pemutaran peristiwa tsunami dimulai dengan sunyi dan penuh penghayatan yang mendalam melihat langsung kejadian yang sungguh dahsyat. Hati saya terasa terpukul bahkan merasa kurang bersyukur ketika nonton video tersebut, hingga akhir pertunjukan film tersebut saya selalu beristigfar pada Allah atas segala kelalaianku dari rahmat dan hidayahnya.

Begitu banyak pembelajaran yang didapatkan selama berkunjung ke tempat wisata sejarah teresebut. Segala sesuatu mesti diserahkan kepada Allah Swt, dan berusaha melakukan segalanya hanya mencari keridhaan-Nya.

Itulah perjalanan singkat mengunjungi tempat wisata di Aceh yang penuh dengan keterharuan, dan pembelajaran spiritual secara langsung. Mari ke Aceh kota penuh sejarah, penuh penyucian diri dan pengalaman rohani/jiwa dengan masyarakatnya yang sopan dan berbudi baik. Aceh indah nan elok dengan suguhan hamparan sawah dan bukit yang hijau. Mari berwisata ke Aceh yang penuh dengan keragaman situs sejarah dan budaya.[]

*Delegasi Kapal Pemuda Nusantara Utusan Nusa Tenggara Barat

Editor: IHAN NURDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.