19 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Rahasia Rohingya yang Sebenarnya

...

  • portalsatu.com
  • 15 September 2017 12:40 WIB

@antaranews.com
@antaranews.com

BEBERAPA waktu lalu, warga Aceh dan dunia sempat dihebohkan dengan  pemberitaan tentang penyelamatan segerombolan orang-orang, yang hidup terkatung-katung berbulan-bulan di dalam kapal mengarungi samudra lepas tanpa tujuan yang jelas. Sontak rasa prihatin menyelimuti masyarakat dunia sehingga tak sedikit yang rela memberikan bantuan secara cuma-cuma pada para pengelana tanpa nama. Bahkan tak ada yang ingat untuk mempermasalahkan bahasa, suku, ras dan agama mereka. 

Bantuan mengalir dengan lancar. Kondisi para pengungsi yang dikenal dengan sebutan Rohingya perlahan membaik. Rasa kemanusiaan penduduk dunia, telah menyelamatkan mereka. Rasa aman dan situasi kondusif menjadikan Rohingya kembali tanpa berita. Lama kelamaan kita menjadi lupa penyebab tragedi Rohingya sebelumnya. 

Namun baru-baru ini nama Rohingya kembali mericuhkan perhatian dunia. Bukan karena perjalanan samudra seperti dulu namun karena konflik agama yang merenggut banyak nyawa. Seketika sosial media menjadi riuh. Di internet, pengumuman bantuan kembali tersebar. Doa-doa kembali dipanjatkan. Bahkan cacian, hinaan, umpatan serta kemarahan ikut serta ditumpahkan. 

Dari sejawat, pimpinan hingga orang tak dikenal meng-update rasa gelisah dan murka ke laman sosial media mereka. Orang-orang di dunia maya seketika berubah menjadi pakar yang mampu mengomentari kondisi Rohingya dari perspektif diri sendiri tanpa bukti dan fakta terkonfirmasi.

Di tengah riuhnya berita dunia maya dan aktifnya akun sosial media masyarakat Indonesia mengenai Rohingya, aku justru bergeming tanpa nyali. Aku juga merasakan kegelisahan mendalam dan amarah yang ingin kuluapkan akan rasa ketidakadilan yang hanya bisa kupantau kebenarannya dari balik layar. Namun emosiku terhenti pada kata logika yang mengumbar tanya tanpa konfirmasi pasti "Ada apa sebenarnya dengan Rohingya?"

Tuhan selalu baik, Tuhan selalu asyik. Kegelisahan dalam kesabaran panjang itu dijawab dengan tiga undangan ekslusif yang dilayangkan kepada komunitas kami, Gam Inong Blogger, beberapa waktu lalu. Sebuah konferensi internasional yang mendatangkan berbagai pakar informasi mengenai Rohingya digelar di Aceh. Hanya 100 undangan yang diizinkan untuk mendengar dan berdiskusi langsung dengan para pakar, suatu anugerah karena aku termasuk di dalamnya. 

Tema di dalam undangan dituliskan "The 1st International Conference on Stateless Rohingya" berhasil membuat bulu romaku bergidik, seakan tak percaya. Tertulis di sana nama lima pakar sosial dan perdamaian dunia internasional yang kevalidan data yang mereka miliki tak dapat ditolak, membuatku bergeming dan berfikir sejenak, "jangan-jangan undangan ini hoax?" 

Aku kembali mengonfirmasi berita ini ke berbagai pihak, bukan tidak mensyukuri anugerah namun takut kegirangan. Intinya tak ingin kecewa kemudian. Aku sadar benar, sulit untuk mendatangkan pakar-pakar international ke Aceh, apalagi jika didatangkan secara bersamaan. Namun kebenaran akan berita yang membahagiakan ini hanya mampu aku ketahui di hari digelarnya acara.

Pada 12 September 2017, aku melangkahkan kaki ke Ruang Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry di lantai 3. Konferensi international mengenai Rohingya ternyata benar adanya. Pukul sembilan pagi, beberapa pemateri ternama sudah mulai menampakkan batang hidungnya. Joanne Lauterjung Kelly, Lilianne Fan, Daniel Awigra, Kyaw Win dan Shadia Marhaban. Nama-nama mereka tercetak rapi di meja panjang konferensi.

Tak ada aura menggebu dan rasa ambisius dari dalam diri mereka. Mereka tampil terlalu santai sebagai pemateri untuk setingkat konferensi yang akan mengupas kasus berdarah-darah dan konflik antaragama yang sudah menggemparkan dunia, pikirku awalnya. Namun semua asumsi itu luruh kala para pemateri angkat bicara dan memaparkan fakta sebenarnya tentang Rohingya.

Mereka tahu betul apa yang sedang terjadi. Mereka paham sekali tentang apa yang harus dikedepankan untuk saat ini, logika sehat atau emosi tanpa kendali. Mereka memaparkan dengan detail segala fakta lapangan yang telah mereka kaji dan lihat sendiri. 

Salama konferensi, aku hanya mampu mendengarkan dialog panjang dengan khidmat serta menitikkan air mata penyesalan. Akhirnya, aku sampai pada satu kesimpulan bahwa hampir semua masyarakat dunia, Indonesia dan aku sendiri tidak tahu apa-apa tentang kondisi Rohingya yang sebenarnya. Hingga pada detik aku memutuskan untuk menulis, kebodohanku selama ini baru terasa sedikit termaafkan. Dari sekian panjang cerita yang bisa didengar, analisa dan tonton kembali melalui link Youtube, aku ingin meringkasnya kedalam judul 5 Rahasia Rohingya yang Tidak Diketahui Kebenarannya oleh Dunia:

1. Etnis Muslim Terbesar di Myanmar

Di Myanmar terdapat beragam etnis muslim, di antaranya muslim Malaysia, muslim Cina, muslim Myanmar dan lain sebagainya. Adapun populasi muslim Myanmar terbesar adalah kaum Rohingya. Di awal kemerdekaan, Rohingya termasuk salah satu etnis resmi yang diakui di Myanmar melalui Konstitusi dan UU Kewarganegaraan. Namun pada tahun 1980-an, pemerintah Myanmar melakukan pelanggaran berat dengan mencabut paksa identitas kewarganegaraan Rohingya dan memaksakan identitas sebagai pendatang kepada etnis tersebut. Perlakuan tidak adil itu terjadi dikarenakan merajalelanya Burmanisme, di mana hanya penduduk  yang lahir sebagai suku Burma di negara tersebut yang akan mendapatkan perlakuan khusus, namun tidak berlaku bagi suku non-Burma lainnya. 

2. Pengalihan Isu Sumber Daya Alam Berkedok Iman

Kaum Rohingya tinggal di sebuah wilayah bernama Rakhine. Wilayah ini terkenal dengan sumber daya alamnya yang menakjubkan seperti emas, gas, giok, berlian, batu bara bahkan uranium. Bisa dikatakan saking kayanya negara tersebut, seandainya seluruh hasil alamnya dijual, maka Myanmar akan mampu membeli sebuah negara baru.

Yang anehnya, penduduk Rakhine dalam kasus ini termasuk Rohingya justru tidak mendapatkan hal apa pun. Mereka hidup dalam kemiskinan, ditutupnya akses pendidikan, keterkekangan yang membuat mereka sulit untuk berpindah tempat bahkan dicabutnya status  kewarganegaraan mereka secara paksa. Sehingga masyarakat Rakhine hidup menjadi masyarakat terisolir dengan kesehatan dan pendidikan rendah.

Adapun isu kebencian yang disebarkan oleh rezim militer Myanmar kepada kaum Budha yaitu bahwa kemiskinan Myanmar disebabkan oleh masyarakat muslim di sana yang bisa dibuktikan dengan terpuruknya kondisi muslim Rohingya. Ditambah lagi misskonsepsi penyebaran isu tentang pria muslim yang boleh memperistrikan empat orang sekaligus dan memasukkan mereka ke dalam Islam.  Jika hal itu terjadi maka akan banyak masyarakat Burma, yang notabennya merupakan Budha Myanmar, akan berpindah ke agama Islam. Sehingga mayoritas muslim, yang ber-image negatif ini, akan semakin pesat berkembang di Myanmar. Tentu fitnah tersebut meresahkan para pemimpin Budha di Myanmar yang termakan hasutan rezim pemerintahannya yang kejam. 

Jadi, jika melihat dari kaca mata yang jernih, konflik agama antara kaum Budha dan muslim Rohingya di Myanmar itu bisa jadi hanyalah pengalihan isu kekayaan alam Rakhine yang ingin dikelolah secara penuh oleh pihak-pihak yang berkepentingan. 

3. Ketiadaan Akses Pendidikan, Malnutrisi hingga Pencabutan Identitas Kewarganegaraan bagi Penduduk Non-Burma 

Kebanyakan kita tidak paham bahwa Myanmar menganut 2 sistem pemerintahan, sipil dan militer. Selama ini kita sibuk menekan pemerintahan sipil terkait isu ketidakadilan yang dirasakan oleh muslim Rohingya. Padahal keputusan di dalam negeri Myanmar sebagian besar dikendalikan oleh pemerintahan militer. Adapun ketidakadilan ini bukan hanya terjadi pada kaum muslim saja bahkan termasuk kaum Kristen dan Budha.  Belandaskan azas Burmanisasi, selama masyarakat Myanmar bukanlah suku Burma maka mereka akan tetap menerima ketidakadilan. Adapun penduduk Myanmar yang tergolong ke dalam suku Burma, mereka haruslah tetap memeluk agama Budha dan agama lainnya tidak diterima. 

Perlu diketahui, pemerintahan Myanmar sendiri menganut strategi "devide et impera" yang berarti politik pecah belah dan adu domba. Adapun salah satu strategi Myanmar yang diimplementasikan untuk golongan muslim Myanmar ada tiga hal yakni; 1). Muslim tidak boleh masuk ke ranah militer dan polisi, 2). Muslim tidak boleh masuk ke ranah politik dan parlemen, dan 3). Muslim tidak boleh memiliki pendidikan tinggi dan masuk ke ranah bisnis. 

Dengan kata lain, warga muslim di Myanmar bukanlah bodoh, lemah dan miskin namun mereka dijadikan bodoh tanpa akses pendidikan, dijadikan lemah tanpa tameng parlemen terlebih militer dan dijadikan miskin dengan pelarangan keterlibatan di dunia pendidikan dan bisnis. Ringkasnya, pemerintah Myanmar sedang berusaha menghabisi nyawa masyarakat non-burma termasuk kaum Muslim secara perlahan-lahan tanpa diketahui dunia international dengan metode yang aman dan terstruktur.

Cara yang dilakukan oleh rezim pemerintahan Myanmar ini, menurut para ahli, serupa dengan tindakan NAZI saat membantai Yahudi, namun dengan cara yang lebih cerdik dan kemasan yang lebih apik. Sehingga pemerintah Myanmar tidak akan dituntut oleh pihak internasional dan segala tindak tanduknya dianggap kebijakan dalam negeri yang tidak bisa dicampuri oleh pihak luar.

Toh, tak ada masyarakat yang berani dan mampu mengkudeta tindakan pemerintahan.

Jadi, sebelum menghabiskan energi menyebarkan isu kebenciaan antaragama, coba pahami terlebih dahulu situasi politik pemerintahan di sana. Kita wajib sadar diri akan porsi kebajikan yang mampu kita distribusi untuk kemaslahatan warga Rohingya, bukan justru memperkeruh suasana.

4. Kamuflase Jihad yang Dirancang oleh Pemerintahan Myanmar

Kekhawatiran terbesar saat ini adalah ketika masyarakat muslim dunia memanas dengan isu konflik antaragama antara Budha Myanmar dan Muslim Rohingya. Alih-alih mendamaikan masalah, kemelut ini bisa berakhir dengan dikirimkannya muslim dari penjuru dunia untuk melakukan jihad dalam konteks mengangkat senjata.

Jika ini terjadi, BINGGO, maka berjayalah rezim Myanmar yang telah merencanakan hal ini sejak awal. Berjihad dengan mengangkat senjata justru menguntungkan pihak pemerintahan Myanmar bukan warga Rohingya. Tindakan jihad tersebut akan dianggap sebagai tindakan kekerasan yang membuktikan isu kebencian terhadap Islam yang disebarkan oleh pemerintahan Myanmar selama ini. Bahwa Islam itu anarkis, miskin dan berbahaya.

Dengan datangnya bala bantuan perang dari pihak muslim, maka dengan gampang pihak pemerintahan akan mengklaim kepada dunia bahwa ISIS sudah memasuki ranah otoritas negara mereka. Dengan demikian, akan mudah bagi Myanmar untuk meminta bala bantuan kepada negara-negara barat yang berakhir dengan datangnya dana perang yang berlimpah untuk pemerintahan. Jadi, siapa yang lebih diuntungkan dengan adanya gerakan jihad bersenjata? Mari pikirkan dengan bijak.

5. Kunci Tindakan Protes Global Melalui Surat dan Penyediaan Akses Pendidikan 

Sesungguhnya isu Rohingya bukan sebatas isu pertengkaran antaragama semata namun jauh lebih kompleks dari dugaan kita selama ini. 

Jadi, jika ditanya, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mengurangi kekejaman rezim pemerintah Myanmar terhadap umat muslim di sana? Maka coba lakukan minimal salah satu dari lima hal berikut.

 a. Tuliskan dan sebarkan surat, pesan, dan berita untuk pemerintah Myanmar agar berlaku adil dengan memberikan “HAK IDENTITAS KEWARGANEGARAAN” bagi etnis Rohingya. Tanpa status kewarganegaraan, etnis Rohingya tidak dapat menetap di Myanmar maupun pindah menjadi warga negara lain. Kepemilikan warga negara akan memberikan kesempatan bagi etnis Rohingya untuk mendapatkan hak hidup dan diperlakukan secara layak.

b. Sebarkan INFO dan beri klarifikasi BERITA VALID akan kasus ini. Gunakan referensi kredibel dari data-data penelitian atau narasumber terpercaya. Jangan tersulut emosi dan berita adu domba. Klarifikasi dan laporkan berita hoax agar situasi damai antarumat beragama tidak memanas.

c. Sediakan bantuan dalam bentuk MINUMAN SEHAT dan MAKANAN BERGIZI bagi para ibu dan anak-anak Rohingya yang mengalami malnutrisi. 

d. Buka AKSES PENDIDIKAN yang lebar bagi para pemuda Rohingya untuk belajar di sekolah dan universitas di negara-negara muslim di berbagai belahan dunia. Mari kita gerakkan pemerintah untuk mendukung open access pendidikan bagi etnis Rohingya.

 e. Tetap tenang, berpikir dan bertindaklah secara bijak. Sebarkan KEBENARAN bukan KEBENCIAN. 

Pemateri;

1.  Joanne Lauterjung Kelly

Ketua program People in Need di wilayah Mon, Karen dan Rakhine. Dia bekerja di Myanmar sejak 2011. Program yang ia ketuai bertujuan untuk mereduksi kekerasan interkomunal melalui pembangunan jejaring dan capacity building di Myanmar.

2. Lilianne Fan 

Seorang Antropolog Budaya dan Profesional Kemanusiaan yang telah berkiprah selama 16 tahun menggeluti bidang pengungsi, IDP, dan komunitas dampak bencana alam. Dia telah bekerja di Aceh, Myanmar, Haiti dan pengungsi Syiria di Jordan. Dia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Asia Pacific Refugee Rights Networks APRRN. Lilianen memiliki peran dalam menasehati lembaga-lembaga donor internasional seperti PBB, Bank Dunia dan Palang Merah.

3. Daniel Awigra 

Program Manager ASEAN Human Right Working Group di Sekretariat ASEAN

4. Kyaw Win 

Direktur Eksekutif Burma Human Right Working Group di London. Kyaw Win sangat aktif memantau kasus-kasus yang terjadi di wilayah Rakhine.

5. Shadia Marhaban

Satu-satunya deligasi perempuan Aceh dalam perdamaian Helsinki 2005. Seorang mediator internasional, pembangun kapasitas dan aktivis dari Aceh, Indonesia.

Dikirim oleh: Ayu Ulya*

*Anggota Gam Inong Blogger

Editor: BOY NASHRUDDIN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.