22 January 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


'Sang Desertir' (Bagian I)

  • PORTALSATU
  • 07 January 2017 12:40 WIB

Efendi. @Firdaus Yusuf
Efendi. @Firdaus Yusuf

Oleh Firdaus Yusuf

Bersama beberapa rekannya ia turun gunung karena sakit. Terpaksa menyerah karena kematian rekan-rekannya di ujung senjata TNI ketika mereka hendak kembali ke gunung. Juga karena ancaman yang ditujukan TNI kepada orangtuanya. Pasca-damai, ia sempat dicap "pengkhianat". Kini, kata dia, orang yang mengatainya "pengkhianat" adalah "pengkhianat" perjuangan yang sesungguhnya, karena mereka lari dari perjuangan politik Partai Aceh.

PADA akhir 2002, Efendi, pemuda tanggung yang bertubuh kurus, yang tinggal di Gampong Reului Busu, Kecamatan Mutiara, Pidie, memutuskan untuk bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Baginya, bergabung dengan GAM adalah memerdekakan Aceh dengan berperang melawan TNI dari subuh buta hingga tengah malam.

Kondisi politik di Aceh saat itu berada pada tolak-tarik perdamaian semu dan sesaat antara GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia (RI). Dua tahun sebelumnya, pada tahun 2000, pernah diberlakukan Jeda Kemanusiaan (The Humanitarian Pause). Namun, Jeda Kemanusiaan itu tidak berlangsung lama.

RI-GAM juga pernah menandatangani Kesepakatan Penghentian Permusuhan atau Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) pada 9 Desember 2002. CoHA juga bernasib serupa dengan Jeda Kemanusiaan. Tidak berlangsung lama.

Dalam rentang waktu tersebut, rekrutmen terhadap pasukan GAM terjadi secara besar-besaran. Di lain sisi, kekerasan terhadap masyarakat sipil di Aceh, yang dilakukan oleh militer Indonesia, juga meningkat. Bahkan, sejumlah tokoh masyarakat, pejuang HAM, dan akademisi ditembak dan dihabisi dengan cara yang keji. Rektor IAIN (kini menjadi UIN) Ar-Raniry, Prof. Dr. H. Safwan Idris, M.A., anggota  DPRD Aceh, H.T. Djohan; Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. DR. H. Dayan Dawood, M.A., dan Direktur Internasional Forum for Aceh (IFA), Muhammad Jafar Siddiq Hamzah, dihabisi dalam kurun waktu dua tahun tersebut.

“Tulis nama,” ujar Hasballah, atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Pak Joko. Hasballah—kini Almarhum—membentangkan sebuah buku tulis yang sudah lusuh di atas meja di sebuah kedai kopi. Nama sandi Hasballah dalam pasukan GAM: Komandan 11. Tugasnya: merekrut pemuda dan mengumpulkan logistik.

Beberapa waktu kemudian, Efendi mengikuti latihan fisik di Cot Maneut, Gampong Meunasah Me Ujong Lon, Kecamatan Mutiara, Pidie, selama 20 hari. Sebelumnya, semua calon pasukan GAM di beberapa gampong di kemukiman Busu, dikumpulkan di rumah Hasballah di Busu Meunasah Pande, Kecamatan Mutiara, Pidie.

Tempat latihan itu adalah ladang warga yang terletak berada di pinggir sawah. Kini, ladang tersebut telah dipagar dan difungsikan.

“Pelatihnya Teungku Hasan. Dia pelatih fisik dan baris-berbaris,” kata Efendi, pada awal Desember 2016, mengenang kembali hal tersebut.

Jumlah calon anggota GAM, yang mengikuti latihan bersama Efendi saat itu, sekitar 30 orang. Setelah mengikuti latihan fisik dan baris-berbaris, ke-30 anggota tersebut kemudian dikukuhkan dan diambil sumpahnya di Simbe, Kecamatan Kota Bakti, Pidie.

“Selama tiga hari di sana. Lalu, kami resmi menjadi anggota. Belajar pegang senjata di situ. Bongkar pasang senjata. Untuk menembak, tidak ada, karena jumlah peluru yang sangat minim,” tuturnya.

Efendi, dengan mulut komat-kamit, menyebut nama-nama rekan seperjuangan dengannya, yang seangkatan dan satu tempat latihan. Ia menghitung mereka dengan jari tangan.

“Dari 30 orang tersebut, yang masih hidup sekitar sembilan orang,” kata dia kemudian.

Saat kemukiman Busu mulai disisir oleh TNI, Efendi dan rekan-rekannya pindah ke Rinti, perbatasan Tiro dengan Teupin Raya. Itu adalah ketika mantan Presiden RI, Megawati Soekarno Putri, memberlakukan Daerah Operasi Militer di Aceh dengan mengirimkan lebih dari 30.000 tentara dan 12.000 polisi.

“Di Mampre, ada pos wilayah. Seminggu kami di sana,” tuturnya. “Kemudian kami ke Cot Tunong. Ada dua kompi di sana. Dari berbagai Sagoe (kecamatan). 638 A dan 638 B. Satu kompi terdiri dari 16 pasukan.”

Kala itu, 30 rekannya sudah ditugaskan pada kompi-kompi yang berbeda. Efendi di Kompi B. Lokasi Kompi tersebut: di Gampong Cot Baroh dan Cot Gampong Cot Tunong, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie.

Teuku Rahmat, yang mengikuti latihan pada tempat dan waktu yang sama dengan Efendi, menuturkan, pasca-latihan, ia ditempatkan di Didoh, Pante Krueng.

“Nama Kompi saya: Polisi Hongkong,” kata dia, pada akhir Desember 2016 lalu.

 

EFENDI masih beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman barunya ketika terjadi kontak senjata pada suatu pagi.

“Kami dikejar tentara. Jumlah tentara sekitar 100-an orang,” kenangnya.

Saat itu, kata dia, ia dan rekan-rekannya yang lain harus mencapai lokasi yang mereka sebut dengan sebutan: T.

“Ada jembatan, tebing, dan posisinya agak tinggi.  Di depannya ada sawah. T adalah tempat khusus ketika terjadi kontak senjata,” tuturnya.

Itulah pertempuran perdana Efendi.  Didorong oleh rasa takut dan ngeri, ia lari dan terus saja berlari.

Kompi 638 A dan 638 B sudah berkumpul di T.

Kata Efendi, dalam tiap pertempuran, ada satu tukang bidik yang mengambil posisi paling depan, yang memegang senjata M-16.

“Harus kena. Harus jitu. Kalau senjatanya sudah meletus, baru yang lainnya boleh menembak,” ungkap Efendi.

Dalam kontak senjata tersebut, AK-47 yang dipegang  Efendi tidak memuntahkan peluru sebutir pun. Ia gugup.

Beberapa waktu kemudian, sang komandan memerintahkan pasukan untuk mundur.

Mereka kemudian mundur ke dalam hutan.

“Pasukan kami yang tewas dalam pertempuran itu dua orang,” kata Efendi.

Efendi benar-benar memahami bahwa peristiwa tadi merupakan pembukaan untuk tragedi-tragedi berikutnya.

Kewalahan dengan operasi tentara yang seakan tak kenal hari libur, Efendi dan rekan-rekannya memasang bom di jembatan di dekat T.

“Pada malam hari, bom sudah ada,” ungkapnya.

Efendi tiarap di belakang sebuah pohon yang rindang sambil membaca surah-surah pendek.

Subuh buta, pasukan TNI telah merayap ke T.

Kata Efendi, “Kawat-kawat mereka potong. Punya alat mereka. Ya, mereka itu kan tugas. Perintah komandan mereka sendiri,” tuturnya.

Senyap. Lalu, seekor anjing tiba-tiba datang ke tempat Efendi.  Anjing itu mengintip ke arah Efendi.

“Aduh, sudah sampai mereka,” bisiknya dalam hati.

Anjing itu lalu berbalik arah dan memberi isyarat pada tentara dengan duduk di atas jembatan, tepat di atas bom, sembari mengibas-ngibaskan ekornya.

Firasat ihwal kedatangan tentara diperkuat dengan kesalahan seorang tentara. Saat menuju ke lokasi persembunyi Efendi dan rekan-rekannya, ujung senjata si tentara itu mengenai besi pada jembatan sehingga mengeluarkan bunyi.

Si tentara tersebut kemudian memantik korek api tanpa benar-benar menyalakannya. Ia sedang memberi satu kode.

Sepuluh meter dari jembatan tersebut, seorang pasukan GAM yang memegang remot bom, menekan tombol tanpa mengulur-ngulur waktu. Pemandangan tampak putih semua. Cahaya berkelebat.

Serpihan bom dan potongan tubuh manusia terbang di udara.

Makian yang diselipi beberapa kata cabul terdengar dari sejumlah tentara yang berang.

Rentetan senjata dimulai oleh pasukan GAM. Namun, kala itu senjata AK-47 Efendi macet.

Lebih karena dikuasai rasa takut ketimbang rasa gatal-gatal di sekujur tubuhnya, ia berguling saraya menundukkan kepala serapat mungkin dengan tanah, mendekati salah satu temannya.

“Saat senjata kami menyalak, mereka (TNI) diam. Belum ada balasan. Mereka masih kocar-kacir,” kata dia.

Kala TNI membalas, desing peluru terdengar seperti suara hujan. Deras.

Beberapa saat kemudian suasana kembali sunyi. Saat itu, Efendi mengeluarkan tembakan dua kali. Tidak ada balasan.

Komandan kompinya berteriak, “Tarik!”

Efendi dan rekan-rekannya menanggapi perintah tersebut seketika itu juga.

Kelak, Efendi mendapati sebuah dinding di Komando Distrik 0102 Pidie, yang bertuliskan nama-nama pasukan TNI yang gugur dalam pertempuran tersebut.[] (Bersambung)

* Penulis adalah jurnalis lepas. Seluruh isi tulisan ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2015. All Rights Reserved.