29 March 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Sang Desertir (Bagian II)

...

  • portalsatu.com
  • 08 January 2017 11:45 WIB

Ismail tewas diterjang peluru, sementara Efendi selamat karena malam itu ia tidak tidur di rumah orangtuanya tapi di rumah neneknya. 

Oleh: Firdaus Yusuf*

PASCA pertempuran pada subuh yang mengerikan itu, Efendi dan rekan-rekannya mundur ke dalam hutan.  Tak dinyana, Efendi  dan seorang rekannya telah terpisah dari pasukan. Mereka tersesat di hutan.

“Kami sudah mencar setelah mundur tadi,” kisah pria yang kini berumur 36 tahun itu. (Baca: Sang Desertir Bagian I)

Mereka berdua lalu berjalan, menelusuri hutan. Dalam perjalanan, Efendi dan rekannya itu melihat ada gerak manusia di balik semak-semak dan pepohonan.

Rekan Efendi berteriak, “Teh”

“Tarek,” jawab suara yang bergema di seberang, sesaat kemudian.

Itu sandi. Jika tidak ada jawaban atau jawabannya bukan tarek, maka itu bukan teman seperjuangan melainkan musuh.

“Kami akhirnya bertemu kembali,” tutur Efendi, yang memiliki sandi Atlanta.

Mereka pergi ke kawasan Alue Meuputa. Itu tempat persembunyian yang berlokasi di puncak Teupin Raya, Pidie.

“Di situ saya merasa kaki saya sakit. Saya tidak bisa berjalan lagi,” ungkapnya.

Saat itu ia merasa menjadi beban bagi dirinya sendiri. Lalu, atas nasihat rekan-rekannya, ia turun ke gampong untuk berobat. 

Sesampainya ke bawah, ia dijemput oleh pasukan GAM yang bertugas di “bawah”, yang memiliki sandi Labang Donya. Efendi dibawa berobat ke Simbe, Kecamatan Sakti, Pidie untuk beberapa waktu.

“Kamu jangan naik gunung lagi. Tapi bantu di bawah sini,” ujar Labang Donya kepada Efendi.

Kelak, Labang Donya tewas dalam sebuah kontak senjata di areal persawahan di Kemukiman Busu.

Efendi lantas membantu anggota GAM yang bertugas mencari dana di kampung.

Di gampong, Efendi bertemu kembali dengan rekannya, Ismail, yang satu angkatan dan satu tempat latihan dengannya dulu. Sang kawan, yang sejak resmi menjadi anggota GAM, bertugas di kompi yang berbeda dengan Efendi, terpaksa harus turun dari gunung karena sakit.

Situasi semakin genting. Efendi secara pribadi merasa semakin terjepit. Ia kemudian memalsukan KTP. Ia menggunakan KTP merah-putih adik perempuannya, Milawati, untuk bisa keluar dari kampung. Ia mencoret-coret nama asli pada KTP tersebut hingga hilang. Lalu, ia mengambil mesin ketik pada Sekdes untuk mengetikkan namanya pada KTP itu. Ia, Ismail, dan beberapa pasukan GAM lainnya kemudian menetap di Banda Aceh selama beberapa bulan.

Efendi sempat berpikir untuk kembali ke gunung.

Kala pulang ke kampung bersama Ismail, saat itulah tentara mengepung rumahnya dan rumah Ismail. Ismail tewas diterjang peluru, sementara Efendi selamat karena malam itu ia tidak tidur di rumah orangtuanya tapi di rumah neneknya. 

Mendengar suara tembakan, Efendi keluar dari rumah neneknya. Di sepanjang jalan, ia menemukan kerumunan tentara. 

Ia memberhentikan mobil yang melintas di jalan. Selamatlah ia sampai ke Kota Sigli. 

Ia merasakan nelangsa dan seakan hilang arah dalam hidup: teman telah tertembak dan “ke gunung” pun tak mungkin lagi ia pergi.

Hasballah atau Pak Joko juga menghadapi rentetan musibah. Ia telah kehilangan dua putranya, yang juga anggota GAM: Bahagia dan Yunus. Mereka tewas di dalam peperangan.

Beberapa waktu kemudian, TNI mengepung tempat persembunyian Hasballah di sebuah perdu bambu. Untuk bisa sampai ke tempat persembunyiannya, Hasballah memanjat pohon melinjo lalu masuk ke dalam perdu bambu yang telah ia buat sedemikian rupa, menjadi tempat peristirahatannya.

TNI menggunakan adik ipar Hasballah, yang bernama Hasballah Arsyad, sebagai umpan.

Setelah dipukul, Hasballah atau Pak Joko alias komandan sebelas ditembak di depan warga. Dengan satu tembakan. Tepat di kepala.

SUATU HARI, sebuah berita yang sampai ke telinga Efendi: jika ia tidak menyerahkan diri, orangtuanya akan “diambil” TNI.

“Saya tidak tahan kalau dipukul. Lebih baik ditembak sampai mati,” kata Efendi pada Teuku Manyak, yang saat itu menjabat sebagai Mukim Busu.

Teuku Manyak, kini menjabat sebagai salah seorang anggota DPR Kabupaten Pidie dari Partai Demokrat, menuturkan, ia tidak pernah memaksa atau meminta anggota GAM di Kemukiman Busu, termasuk Efendi, untuk menyerah kepada TNI.

“Itu permintaan keluarga Efendi. Sekarang, seolah-olah saya yang suruh dia menyerah,” kata Teuku Manyak, akhir Desember 2016 silam. “Saya juga sudah pastikan pada Efendi saat itu, itu atas kesadaran sendiri, kan? Dan iya dia jawab saat itu.”

Meskipun sudah menyerah secara sukarela dan dijanjikan tidak akan dipukul atau disiksa, ternyata Efendi tetap memperoleh perlakuan yang tidak manusiawi di Koramil 09 Mutiara. 

“Kamu punya HT, kan?” tanya seorang tentara di Koramil 09 Mutiara, yang dipanggil dengan panggilan Rambe.

“Tidak ada, Pak,” jawab Efendi.

Efendi melanjutkan, mencoba semampunya meyakinkan Rambe bahwa ia menjadi anggota GAM karena ikut-ikutan. 

“Saya ditanya terus-menerus, apakah saya pernah naik gunung, yang kemudian saya jawab tidak. Dan, setiap nama rekan-rekan seperjuangan, yang mereka tanyakan, saya bilang, saya tidak kenal, supaya kawan-kawan saya itu tidak celaka,” kata dia.

Rambe bertanya sambil membentak, “Jadi kau dengan siapa di kampung?”

Efendi menyebut nama rekan-rekannya yang kesemuanya telah meninggal dunia.

“Saya tidak ingin membunuh bangsa sendiri. Ya sudah, biar saya saja yang mereka siksa,” kata dia, dengan nada bicara yang datar.

Tidak kenal. Tidak pernah naik gunung. Tidak tahu cara pegang senjata. Begitulah jawaban Efendi selama di Koramil 09 Mutiara. 

Tiap kali menerima pukulan, Efendi pura-pura terjatuh. “Saya pura-pura lemas. Padahal mana ada, waktu latihan GAM dulu, sudah cukup jera saya. Diinjak-injak diperut.”

Suatu siang, Efendi diperintahkan untuk skot jump. Dari jarak beberapa meter, seorang tentara melemparinya dengan batu sebesar bola pimpong. Sasarannya di dada. Namun, tak dinyana, pada lemparan yang kesekian, batu mengenai kepalanya saat ia melompat.

Darah di kepalanya bercucuran dan ia pura-pura pingsan.

Ia menguping pembicaraan tentara-tentara yang melemparinya dengan batu.

“Kenapa kamu lempar di kepala?”

“Tidak sengaja.”

Sejurus kemudian, seorang tentara pergi ke apotek membeli obat dan perban. 

“Anak-anak buahnya si Rambe yang lempari saya dengan batu,” kenang Efendi.

Pada malam hari, Rambe berdiri di depan sel Efendi. Dengan perasaan iba yang dibuat-buat ia bertanya, “Itu kepala kenapa, kok pakai perban?”

“Padahal waktu kejadian dia ada di sana,” kata Efendi.

Sepuluh hari di Koramil 09 Mutiara, Efendi dipindahkan ke Kodim 0102 Pidie. 

“Aduh,” gumam Efendi saat itu, membayangkan ngeri siksa di Kodim, “matilah aku.”

Sebelum dibawa ke Kodim, pihak Koramil 09 Mutiara berpesan pada Efendi, “Pengakuan di sini, harus sama nanti kausampaikan di Kodim! Jangan dibalik-balik!”

Sesampainya di Kodim 0102 Pidie, Efendi ditendang ke dalam sel. “Tahu-tahu sudah ada kawan di dalam sana,” tuturnya. “Perawakannya sudah tidak menyerupai manusia lagi. Sudah remuk.”

Kawan se-sel dengannya, kata dia, sudah minum autan dan menusuk-nusuk tubuh dengan gagang sikat gigi—setelah diruncingkan dengan menggesek-gesekkan benda itu di lantai—agar bisa mati.

“Sudah sampai autan saya minum, tapi tidak mati juga saya,” ucap Efendi, menirukan ucapan teman se-sel dengannya saat itu. 

Si kawan, kata Efendi, sudah tidak tahan lagi dipukul.

Pagi pertama di Kodim 0102/Pidie,  Efendi mendapatkan hantaman dengan kursi di ruang pemeriksaan.

“Beruntung sekali kau, ya, cuma satu hari di sini!” kata petugas yang mengintrogasinya.

Efendi dan rekan-rekan tahanan lainnya kemudian di bawa ke Banda Aceh. 

“Dibina. Begitulah bahasanya,” kata Efendi. “Kemudian dipulangkan sebagai masyarakat biasa.”

Tak lama setelah itu, Efendi bekerja sebagai kernet L-300. Ia menetap di Jeunib, Bireuen.

Pasca-damai pada 2005, Efendi berhadapan dengan stigma pengkhianat dari beberapa kawan-kawan seperjuangan di GAM dulu. 

“Saya tidak pernah buang perjuangan. Apakah saya sakit hati karena dicap pengkhianat? Tidak, tidak sakit hati saya. Kalau dikasih, saya terima, kalau tidak, ya tidak apa-apa.  Bang Sarjani, panglima saya, mau terima saya. Saat itu saya tidak ada HP, tapi panglima suruh catat nomornya di kertas, saya catat. Dia mau saya punya rumah, mau bantu saya. Tapi kemudian diambil orang lain jatah rumah buat saya tanpa sepengetahuan panglima. Ya, saya tidak apa-apa.”

“Sampai sekarang, saya masih tetap setia pada panglima saya. Dan tidak ada istilah, dia (Sarjani Abdullah) tidak menggubris saya tiap kali saya jumpai. Dia selalu terima kedatangan saya,” tutur Efendi.

Sarjani Abdullah adalah Panglima GAM Wilayah Pidie periode 2003-2005.

Di akhir wawancara, Efendi berujar, “Sekarang, hampir semua yang mengatakan untuk saya pengkhianat, sudah lari dari garis perjuangan politik Partai Aceh!”[]

* Penulis adalah jurnalis lepas. Seluruh isi tulisan ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.

Editor: BOY NASHRUDDIN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.