27 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Di Balik Pesona Pulo Rubiah
Situs Karantina Haji Pertama Nusantara di Sabang Memprihatinkan

...

  • portalsatu.com
  • 08 January 2019 09:00 WIB

Pulau Rubiah, Sabang, Aceh. @Zulfadli Kawom
Pulau Rubiah, Sabang, Aceh. @Zulfadli Kawom

Oleh Zulfadli Kawom, aktivis adat di JKMA.

PENJAJAH Belanda panik, ketika jumlah jemaah haji terus bertambah tanpa bisa diawasi. Konsulat Belanda pun dibuat di Jeddah. Asrama (karantina) haji pertama dibangun di Pulau Rubiah, depan Ibouh, Sabang, Aceh.

Sudah lama ingin sekali mengunjungi situs sejarah Islam yang kerap disebut Hamka dalam tulisan tulisannya.

Saya menumpang perahu bermotor berbody fiber warna putih, yang dikemudikan oleh Ahmad dari Dermaga Teupin Layeu, Ibouh, perjalanan kira-kira sekitar 5 menit, sampailah saya di dermaga Pulo Rubiah, terlihat di sisi kanan saya para penikmat alam bawah laut sedang snorkling, kantin-kantin yang menjual makanan dan perental alat renang nampak berjejer di lorong jalan setapak.

Setelah mendarat di dermaga, saya berbelok ke arah kanan, para pedagang makanan keliling juga saya jumpai disini, sampah-sampah plastik dan tusuk bambu bertebaran dimana-mana, saya tidak melihat adanya tong sampah, di sebuah kantin terdengar rombongan sedang berbicara logat Medan.

Saya terus berjalan setelah melihat pamplet bertuliskan Lokasi Karantina Haji kira-kira100 meter ke depan, saya belok kanan lagi, kira-kira 5 meter di sebelah kiri nampak pamplet dan monumen bertuliska. tarikh Rubiah pas di depan makamnya, saya hanya mengambil foto tanpa mengamati dari dekat, karena sudah sore, kira-kira jam 17.05.

Langkah saya teruskan, saya mencari toilet, ternyata harus mengambil air laut dengan ember. Saya berpapasan dengan beberapa turis mancanegara yang pulang diving.

Tak lama melihat-lihat saya kembali ke persimpangan jalan setapak tadi, saya bertanya pada seorang perempuan paruh baya yang punya kedai rental baju pelampung, katanya untuk menuju ke Situs Karantina Haji, saya harus belok kiri.

Di depan musalla saya belok kiri, menapaki jalan setapak yang sudah di cor plat beton tapi sudah rusak, suasana sangat rimbun dengan pepohonan dan sangat sepi, kata beberapa orang Sabang tempat ini dihuni hantu, tak ada orang yang mau mengantar kesana, kira-kira 50 meter saya melihat ada bangunan tua berwarna putih berarsitektur Belanda seperti yang saya jumpai di Banda Aceh, Lhokseumawe dan Langsa umumnya. Bangunan gedung permanen itu terlihat berukuran kira-kira-kira 6x10.

Saya mendekat dan nekat masuk, suasana sangat angker, tak ada orang lewat, saya mengamati dari luar dan dan dalam, gentengnya sudah rusak, loteng sudah dibuang keluar, pintu-pintu da koseng sudah blong. Bau didalam tidak sedap, saya menutup hidung lalu keluar mengamati sekeliling, tidak juga ada orang lewat.

Situs karantina haji ini dibangun Belanda tahun 1920. Tempat yang sayangnya belum dibahas dalam buku 3 jilid historiografi haji di Indonesia, Hendri Chambert Loir (2007).

Belanda ingin mengontrol perkembangan politik Islam lewat pengelolaan haji, tapi gagal , gerakan politik menentang kolonialisme malah berkembang lewat tokoh tokoh haji. Situs karantina haji pulau Rubiah ini saya yakin juga berperan dalam perlawanan melawan kolonial.

Saya membayangkan Situs ini , doeloe ribuan orang dari berbagai pulau dan etnik berkumpul, tidak hanya menjalankan ibadah tapi juga bicara perlawanan.

Situs Karantina Haji Pertama Nusantara di Sabang. @Zulfadli Kawom

Situs Karantina Haji Pertama Nusantara di Sabang. @Zulfadli Kawom

Di balik rimbunnya hutan Pulau Rubiah, saya amati situs ini pernah "ditenderkan" oleh Pemko Sabang dan setelah proyeknya dibangun, situsnya ditinggal kembali, dibiarkan tanpa perawatan. Jalan setapak yang sudah rusak, penunjuk jalan, prasasti dan renovasi bangunan, mungkin bagian dari paket proyek renovasi itu juga.

Beberapa bagian bangunan termasuk atap dirombak, dinding di cat, tapi bentuk keseluruhan masih sesuai aslinya. Harusnya ini sudah menjadi situs cagar

Peneliti Balai Arkeologi, Stanov sudah pernah ke sini.

Saya membayangkan situs asrama haji ini bisa dijadikan museum haji yang sangat mengharukan. Ada banyak koleksi cerita: ribuan arsip, foto foto haji, buku, catatan perjalanan haji, artefak haji, replika kapal ke Juddah, untuk melengkapinya. Tapi, saya benar-benar kecewa hari itu, tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Pemko Sabang.

Jika di tempat lain situs sejarah diterlantarkan tanpa disentuh, dibiarkan hancur sendiri, tapi di Sabang ini, situs sejarah Islam disentuh, diproyekkan dulu, lalu ditinggal, dibiarkan rusak dijadikan rumah "karantina jen beh aneuk" Semoga Pemko Sabang cepat sadar.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.