18 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


5 Suku Terasing di Dunia yang Jauh dari Kehidupan Modern

...

  • OKEZONE
  • 04 December 2018 14:00 WIB

SEORANG turis Amerika Serikat (AS) tewas dibunuh oleh masyarakat lokal tradisional setelah mengunjungi pulau terlarang di India.

Turis yang diidentifikasi sebagai John Allen Chau (27) asal Alabama, AS itu mengunjungi Pulau Sentinel Utara, Kepulauan Andaman, Teluk Benggala pada 16 November.

Berdasarkan keterangan pihak berwenang, Chau tewas dihujani panah oleh suku Sentinel setelah diantarkan beberapa nelayan secara ilegal.

Ahli antropologi mengatakan, kejadian ini merupakan petunjuk lain bahwa mereka tidak ingin diganggu siapa pun. Mereka memang dikenal sebagai suku yang mengisolasi diri dari kehidupan dunia luar. Bahkan mereka tak segan membunuh siapa pun yang masuk ke wilayahnya dengan anak panah mematikan. Butuh kegigihan dari para pakar antropologi untuk menggali informasi tentang seluk beluk mereka. Diperkirakan kini jumlah mereka hanya tersisa 50 sampai 150 jiwa.

Suku yang disebut-sebut sebagai keturunan pertama Afrika ini berkulit hitam, berambut ikal, berperut buncit, berbadan tinggi dan tidak berpakaian. Mereka diduga telah melakukan migrasi dari Afrika sekitar 50 ribu tahun silam. Sehari-hari mereka hidup dengan cara berburu babi hutan, mencari ikan dan memakan umbi-umbian dan madu.

Selain suku Sentinel yang tertutup pada orang asing dan kehidupan modern, ternyata terdapat suku lain di dunia yang juga mengasingkan diri dari kehidupan luar. Berikut deretan suku terasing di dunia yang dirangkum dari berbagai sumber:

1. Suku Mascho-Piro

Suku Mascho Piro atau yang juga dikenal sebagai orang Cujareño dan Nomole, adalah suku indian primitif yang berasal dari daerah terpencil di hutan hujan Amazon.

Maschco-Piro adalah salah satu suku dari 15 suku yang ada di Peru. Mereka hidup secara nomaden dengan bertahan hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan dari hutan, dan juga hasil pertanian.

Mereka tinggal di Taman Nasional Manú di Madre de Dios Region di Peru, yang letaknya di sebelah tenggara Peru.

Selama tinggal di taman tersebut mereka mengasingkan diri tanpa ada kontak lain dengan dunia luar. Mereka tidak mengijinkan orang lain atau suku lain untuk masuk ke wilayah mereka. Sama seperti suku Sentiel, ketika ada orang lain yang berani masuk kawasan taman, suku setempat tidak akan segan menyerang mereka dengan panah.

2. Suku Yahi

Suku ini merupakan penduduk asli Amerika dari negara bagian California yang menempati wilayah Deer Creek. Mereka dianggap suku Indian liar generasi terakhir di abad modern. Suku ini tidak memiliki pemimpin dan hidup dengan prinsip bahwa semua individu adalah setara.

Suku Yahi adalah korban pertama dari fenomena yang disebut dengan "demam Emas". Di masa itu, lebih dari 300 ribu orang dari seluruh Amerika Serikat datang ke California untuk mencari logam mulia. Suku Yahi kemudian berjuang melawan para penambang emas yang datang. Namun pada akhirnya mereka kalah karena kurangnya persenjataan dan jumlah orang yang semakin berkurang. Selain itu, serangkaian pembantaian menurunkan jumlah populasi penduduk Yahi. Dalam kurun waktu 15 tahun, orang kulit putih telah melenyapkan nyaris seluruh orang Yahi. Hanya tersisa sekira 16 orang dari mereka yang kemudian bersembunyi di pegunungan selama bertahun-tahun.

3. Suku Surma

Suku yang berasal dari Ethiopia ini terasing oleh pegunungan dengan ketinggian 7.000 kaki dan dataran rendah sunyi sepanjang perbatasan Ethiopia dengan Sudan. Di sana terdapat sekira 30.000 orang Surma bertahan hidup dengan tak mudah dan serba kekurangan di bagian barat Sungai Omo. Mereka mengasingkan diri dan hidup berkelompok selama ratusan tahun.

Hal yang menarik dari suku ini adalah ritual dimana para wanita diwajibkan menggunakan lempengan kayu atau besi yang diletakkan di bibir mereka sebagai cermin kecantikan wanita Surma. Ritual ini disebut Labret atau lempeng bibir.

Bibir yang dipasang lempengan seukuran piring besar ini menandakan simbol kedewasaan, biasanya dipasang saat umur perempuan sudah beranjak 13 sampai 16 tahun. Sebelum lempengan itu dipasang, bibir harus diiris sepanjang 2 hingga 3cm.

Dua sampai tiga pekan kemudian piring tersebut diganti dengan ukuran yang lebih besar hingga melebihi 25 cm. Ada sanksi adat yang harus diterima jika perempuan suku Surma menolak tradisi ini.

4. Suku Mayoruna

Suku Mayoruna atau disebut juga suku Matses merupakan penduduk asli yang berdiam mulai dari wilayah Peru sampai ke daerah Amazon Brazil. Mereka menetap di antara sungai Javari dan Galvez. Mereka selama ini dengan kuat menjaga tanah mereka dari suku-suku asli lainnya dan para pendatang dari luar wilayah mereka. Mereka menjadi salah satu benteng kuat dan kokoh bagi mereka oknum pelaku pelanggaran ilegal di Hutan Amazon.

Dalam kehidupan sehari-hari mereka memiliki pengetahuan yang banyak tentang tumbuhan dan hewan sekitar pemukiman mereka. Sebagian besar dari mereka masih mengandalkan berburu dan mengumpul hasil hutan untuk mempertahankan hidup mereka. Busur dan panah merupakan senjata utama mereka untuk berburu.

Orang-orang suku ini percaya bahwa roh-roh hewan menentukan kesehatan dan keberhasilan dalam berburu. Mereka berhati-hati untuk tidak menyinggung roh hewan dan memiliki banyak pantangan (tabu) untuk berburu spesies binatang yang berbeda.

Bagi mereka, tanaman, terutama pohon-pohon, memiliki kepentingan yang kompleks dan penting bagi mereka. Setiap tanaman dikaitkan dengan roh binatang. Ketika produk tanaman yang digunakan sebagai obat, itu biasanya diterapkan secara eksternal dan dukun berbicara dengan semangat hewan terkait dengan tanaman tersebut.

5. Suku Zoe

Suku ini tinggal di pedalaman hutan Amazon, Brazil, di dekat  tepi Sungai Erepecuru Cuminapanema. Mereka terbilang aman karena wilayah teritorial untuk bertahan hidup berada di bagian utara hutan Amazon masih terjaga.

Suku Zoe dijuluki dengan suku yang paling bahagia dan damai. Mereka juga dikenal dengan keramahan dan kasih sayang ditunjukkan dengan perilaku mereka yang rutin menyentuh dan membelai sebagai rasa hormat dan cinta.

Untuk mendapatkan makanan, suku Zoe akan berburu berbagai binatang, seperti ikan atau burung. Perburuan ini bisa dilakukan sendiri atau berkelompok.

Suku Zoe memakai sepotong kayu, bernama Poturu, berbentuk kerucut yang dipasang menembus bawah bibir mereka. Kayu itu berfungsi untuk mebedakan suku Zoe dengan suku lainnya.

Sejak kecil, antara usia 7 hingga 9 tahun, suku Zoe memasangkan Poturu kepada anak-anaknya. Bahkan Poturu juga akan diganti dengan Poturu yang lebih besar, seiring dengan pertambahan usia mereka.

Dalam kehidupan sosial, mereka tidak mengenal adanya pemimpin. Mereka lebih senang mendengarkan nasihat dari para sesepuh. Sebuah keputusan pun diambil secara bersama-sama.[]Sumber: Okezone

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.