23 February 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Doa Ibu Mengantar Pemuda Aceh Ini Kuliah di Amerika Serikat

...

  • OKEZONE
  • 28 December 2019 14:00 WIB

Aula Andika Fikrullah Al Balad. Foto: istimewa via okezone.com
Aula Andika Fikrullah Al Balad. Foto: istimewa via okezone.com

Lima puluh tiga kali gagal mendapatkan beasiswa, tidak mematahkan semangat Aula Andika Fikrullah Al Balad untuk menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Pemuda Aceh yang merupakan anak pedagang sayur itu terus berjuang hingga berhasil meraih beasiswa kuliah S2 di Lehigh University, 50 besar universitas top di Amerika. Keberhasilan Aula tak lepas dari doa-doa ibunya sepanjang hari.

Melalui akun Instagramnya @fa_aula, Aula menuliskan caption mengenai doa ibunya yang mengantarkannya hingga ke Amerika:

"Pergilah dengan mengucapkan bismillah, Insya Allah perjalanan ini adalah perjalanan yang mendatangkan berkah. Kini AULA sudah MERDEKA!" .

Kalimat ini terkesan sederhana untuk dibaca. Tapi, kalimat ini keluar dari bibir yang selalu basah karena asma-Nya. Kalimat ini diucapkan oleh pribadi yang tak pernah meninggalkan shaum sunnah Senin-Kamisnya. Kalimat ini diucapkan oleh sosok yang tak pernah meninggalkan tahajjud dan witirnya. Kalimat ini diucapkan oleh kepala yang lidah yang insyaAllah tak pernah lupa akan membaca Alquran tiap harinya.

Allah Akbar. Ketika hari ini saya berdiri di depan White House ini, bukanlah karena cerdas, pintar dan hebatnya seorang Aula Andika Fikrullah Al Balad, tapi ini semua karena berkahnya doa yang dipanjatkan olehnya..

Ya Allah, jika aku terlebih dahulu kembali kepada-Mu. Maka izinkanlah dia meletakkan kapas dan menutup kain kafan di wajahku.

Setelahnya, di akhirat kelak. Jika aku tidak Engkau masukkan ke surga karena kurangnya amal ketaatan dan kebaikan ku, maka karena keberkahan yang pada dirinya maka izinkan dia menjemputku untuk menemaninya ke surga-Mu kelak.

Bethlehem, USA, March 3, 2019

Untuk mu di Aceh Besar (Ummi wa Abi) dari seorang bocah laki-laki yang merindui mu.

Itulah doa dan kerinduan Aula kepada sang ibu yang doa-doanya mengantarkannya ke benua Amerika tersebut. Sejatinya doa ibu sangatlah manjur.

Sebelum sukses seperti saat ini, Aula selalu kebingungan mencari uang untuk sekolah. Sebab ia terlahir dari seorang ibu yang sehari-harinya berdagang sayur di Gampong Lampasi, Darul Imarah, Aceh Besar.

Seperti kisah hidupnya, Aula mengatakan, “it’s not about perfect. It’s all about effort.” Tak perlu harus melulu sempurna, namun segala cita-cita bisa diraih dengan berusaha.

Kisah perjuangan Aula dari Lampasi, Aceh

“Semenjak menikah dengan almarhum ayah, ibu saya sudah jualan sayur,” ujar Aula.

Ibu Aula, Siti Narimah atau Mak Cut dulu biasa berjualan dari pintu ke pintu. Namun sejak tahun 2000, Aula dan keluarga membangun kios kecil yang beratapkan rumbia di depan rumah mereka, sehingga kini sang ibu tidak perlu lagi berkeliling kampung.

“Mungkin usia beliau sekitar 60an,” ujar Aula saat ditanya mengenai usia ibunya.

Suatu ketika kejadian tragis menimpa keluarga Aula pada tahun 2004 ketika sang ayah, almarhum Ridhwan Kr Is, ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa lagi di dekat sebuah sawah. Almarhum telah menjadi korban saat terjadi konflik di Aceh. Pada waktu itu Aula masih kelas lima di bangku sekolah dasar.

Dua orang kakaknya juga meninggal pada tahun yang sama, satu karena sakit dan satu lagi menjadi korban tsunami.

Perjuangan baru pun dimulai oleh Mak Cut yang seketika menjadi orang tua tunggal yang harus memenuhi kebutuhan hidup bagi dirinya dan anak-anak. Membantu orang tua berdagang sayur memang sudah menjadi ritual Aula dan kakak-kakaknya sejak masih duduk di bangku sekolah.

“Saya SMP itu ingat. Jadi saya sekolahnya jam dua siang. Jadi pagi itu ngantar dulu ibu ke pasar untuk belanja sayur, terus jemput lagi ibu. Ibu ke pasar gitu, kemudian setelah semuanya beres, jam dua siang saya baru berangkat ke sekolah,” ujar si bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Tidak boleh bantu cari uang, sekolah nomor satu

Namun, pendidikan selalu menjadi nomor satu dalam keluarga Aula, walaupun almarhum ayah hanya menempuh pendidikan tingkat sekolah dasar di sekolah rakyat, dan ibu tidak pernah sekolah, bahkan tidak bisa membaca dan menulis.

“Saya masih ingat, ketika SD dulu, kakak-kakak pernah cerita, bahkan harus sekolah tanpa ada uang jajan. Bahkan kita sakit pun, sakit dalam kondisi sakit demam dan sebagainya itu nggak boleh libur. Tetap harus berangkat ke sekolah,” cerita pria kelahiran November 1993 ini.

Dengan keuntungan penghasilan sekitar sepuluh hingga dua puluh ribu per hari dari berdagang sayur, orang tua Aula tidak pernah memperbolehkan anak-anaknya membantu mencari uang.

“(Almarhum ayah) akan marah. Apalagi kita harus libur sekolah gitu. Jadi memang pendidikan tetap yang utama di keluarga kita,” kata Aula.

Tentu saja dalam bersekolah untuk meraih pendidikan harus dilalui dengan berbagai perjuangan. Itulah yang Aula rasakan di setiap jenjang sekolah.

“Bisa nggak sih sekolah?” Hal itu selalu menjadi pertanyaan setiap tahunnya. Aula beruntung orang tuanya, termasuk kakak-kakaknya selalu ikut membantu dan berjuang bersamanya.

“Ketika SMP, kakak harus jual apa gitu (perhiasan), supaya bisa saya masuk sekolah,” katanya.

Hal ini kembali terjadi ketika masuk ke jenjang SMA, kakak Aula juga menjual barang untuk membantu sang adik membayar uang sekolah.

Keterbatasan ekonomi di keluarga tidak pernah membuat Aula berkecil hati dan patah semangat. Alhasil, segudang prestasi di dunia akademik selalu diraihnya. Mulai dari juara pidato, cerdas cermat, olimpiade fisika dan matematika, public speaking, hingga MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an).

Saat tamat SMA, Aula berhasil mendapat undangan untuk masuk ke perguruan tinggi negeri mana pun di Indonesia dari program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Jadi itu ditujukan kepada 10 besar siswa-siswa berprestasi dari tiap sekolah untuk bisa masuk ke seluruh universitas negeri yang ada di Indonesia,” jelasnya.

“Saya bingung, karena ini sudah dapat undangan, terus nanti yang bayar uang sekolah siapa gitu ya? Akhirnya saya tidak terlalu antusias dengan undangan itu. Padahal itu sesuatu yang sangat priviledge dan sangat dinanti-nanti sebenarnya oleh setiap siswa gitu. Tapi saya nggak terima itu,” tambahnya.

Tidak hanya itu, menurut Aula, masa tersebut adalah salah satu masa yang “paling sedih.”

“Karena ada omongan kemarin bahwa, ‘lu jangan harap deh bisa masuk kuliah deh, Aula. Kalau lu nggak bisa sogok orang dan lu nggak punya orang dalam,’” kenangnya.

“Seakan-akan dia mau ngomong bahwa, ‘oh, anak miskin itu nggak bisa sekolah. Anak miskin itu nggak bisa kuliah,” katanya.

Semangat untuk meraih pendidikan berhasil mengalahkan kesedihannya. Aula lalu memutuskan untuk mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) biasa dan memilih Universitas Syiah Kuala dengan jurusan pendidikan fisika, sesuai dengan keinginannya. Ia pun berhasil masuk.

“Di semester satu-lah baru dapat beasiswa Bidikmisi dan Alhamdulillah sampai dengan tamat dengan beasiswa dari Bidikmisi itu,” paparnya.

Ibunya ikut gembira mendengarnya, apalagi melalui beasiswa S1 tersebut, Aula bisa membantu keuangan keluarga.

“Walaupun memang tidak besar, tapi minimal ada-lah, kita kasih ke ibu untuk beli sayur, untuk makan sehari-hari,” ceritanya.

Menembus Amerika Serikat

Akhirnya Aula pun lulus kuliah dengan lancar. Lalu ia bermimpi untuk kuliah di luar negeri. Dia terus berupaya meraih beasiswa S2 ke luar negeri meskipun harus 53 kali mengalami kegagalan menembus beasiswa.

“Saya dari dulu tuh pengin banget ke luar negeri,” ujar Aula.

Inilah yang membuatnya dikenal sebagai ‘scholarship hunter’ alias pemburu beasiswa sejak kuliah.

“Selama S1 saya coba berbagai beasiswa, short course, conference, exchange program ke luar negeri selalu mendapat penolakan,” jelasnya.

Mimpi untuk menuntut ilmu ke Swedia, Portugal, Republik Ceko, Taiwan, dan negara lainnya pun kandas.

“Apakah memang diriku tidak pantas untuk ke luar negeri atau apa?” tambahnya.

Hingga akhirnya ia mendengar teman-temannya mendaftar beasiswa USAID prestasi untuk program S2 di Amerika. Ia hanya bisa pasrah. Tidak berminat lagi kuliah ke luar negeri.

“Coba sekali lagi,” ujarnya saat mengenang pesan ibunya.

Seperti dilansir VOA Indonesia, menuruti ibunya, Aula pun lalu mengisi formulir beasiswa ke-54 tanpa ada keinginan dan tujuan untuk lolos. Baginya ambisi untuk lolos sudah tidak ada lagi. Apalagi ketika pertama kali mendaftar tes TOEFL (Test of English as a Foreign Language) sebagai persyaratan, Aula gagal mendapat nilai yang ia inginkan.

“Saya pulang ke rumah, saya nangis di depan ibu,” ceritanya.

Ibunya kembali menyemangati si bungsu. “Ibu bilang, 'nanti daftar lagi,'” kata Aula.

Aula mengatakan kepada Mak bahwa dirinya tidak punya uang. “'Mak, kasih uang,'” kata Aula yang mengingat kembali kata-kata ibunya saat itu.

Akhirnya lolos tes TOEFL sesuai dengan nilai yang diinginkan. Ia juga lolos beasiswa ke Amerika. “Allah Maha Baik, Allah tahu bahwa, ‘this is your time, Aula,’” ujar Aula.

Akhirnya Aula menginjakkan kakinya di Amerika pada bulan Juni tahun 2018 lalu. Ia berhasil terpilih menjadi satu di antara 23 orang Indonesia yang mendapat beasiswa USAID prestasi untuk kuliah ke Amerika.

Aula pun diterima di Lehigh University di Bethlehem, Pennsylvania, yang masuk ke dalam daftar 50 universitas nasional terbaik di Amerika.

Ia meraih Jurusan Instructional Technology. Ia memilih jurusan itu karena menurutnya, penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran bisa menjadi lebih menarik dan memotivasi baik siswa

Penulis: Novie Fauziah.[]Sumber: okezone.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.