30 March 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah Orang-orang yang Terdampar di Bandara, Nasseri hingga 17 Tahun

...

  • portalsatu.com
  • 19 January 2020 11:00 WIB

Mehran Karimi Nasseri.
Mehran Karimi Nasseri.

PERNAHKAH Anda menonton film The Terminal yang diperankan Tom Hanks dan Catherine Zeta-Jones? Kisah orang yang terdampar di bandara dan tidak bisa ke mana-mana. Ternyata cerita itu ada di dunia nyata.Ada tidak diizinkan meninggalkan bandara tertentu sampai dokumen mereka beres. Sedangkan beberapa orang lain diketahui tidak memiliki alasan untuk pergi dari sebuah bandara. Berikut kisah orang-orang yang pernah 'menginap' di bandara dengan waktu lama.

1. Mehran Karimi Nasseri (17 tahun)*

Mehran Karimi Nasseri diusir dari Iran karena ikut berdemo memprotes Shah Iran tahun 1970-an. Nasseri pun mengungsi ke Eropa, dan meminta suaka di beberapa negara Eropa, namun ditolak. 4 tahun kemudian, ia mendapat status 'pengungsi' dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). 

Selama 6 tahun Nasseri tinggal di Belgia. Ia lantas berangkat ke Inggris dari Belgia, naik kereta melalui Paris. Di kereta, ia dirampok, tas yang berisi dokumen keimigrasian dan surat keterangan pengungsi dari UNHCR hilang.

Sampai di Bandara Charles de Gaulle Prancis, anehnya, otoritas bandara tetap mengizinkannya terbang ke Inggris. Di Bandara Heathrow, London, Nasseri ditolak masuk. Nasseri dideportasi lagi dari Inggris ke Prancis. Di Prancis, Nasseri juga dilarang masuk. Akibatnya dia terdampar di Terminal Satu Bandara Charles de Gaulle selama 17 tahun.

2. Anthony Delaney (3 tahun)

Pada 2004, Anthony Delaney kehilangan pekerjaan dan rumahnya. Ia tidak bisa menemukan pekerjaan baru dan menjadi putus asa. Ia hanya menerima 236 poundsterling sebulan dari pemerintah Inggris— tidak cukup untuk bertahan hidup.

Delaney tidak ingin tidur di jalanan, jadi dia pergi ke bandara Gatwick di London dan tinggal di tempat itu. Ia ditangkap beberapa kali. Pengadilan awalnya mengasihani dia.

Delaney menghabiskan beberapa bulan di penjara. Ia kembali ke bandara setelah dibebaskan. Delaney telah menghabiskan lebih dari tiga tahun hidupnya tinggal di bandara ketika dia ditangkap untuk kelima kalinya.

3. Sanjay Shah (13 bulan)

Sanjay Shah dulunya tinggal di Kenya dan ingin pindah ke Inggris. Ia berhak mengurus paspor Inggris Seberang Lautan (British Overseas) karena lahir di Kenya ketika dijajah Inggris. Shah diizinkan melamar menjadi warga negara sepenuhnya, tapi tidak melengkapi semua dokumen yang dipersyaratkan ketika ia pergi ke Inggris pada 2004.

Shah tiba di Inggris dengan tiket sekali jalan dan hanya memiliki sedikit uang. Karena dianggap ingin menetap di Inggris, pejabat bandara membubuhkan cap 'imigran terlarang' pada paspornya lalu mengirimnya kembali ke Kenya.

Ternyata, Shah sudah membatalkan kewarganegaraannya Kenya. Shah khawatir akan ditangkap dan dipenjara jika keluar dari bandara Kenya.

Pejabat Kenya menjelaskan bahwa ia boleh meninggalkan bandara. Namun ia tetap khawatir kehilangan kesempatan menjadi warga negara Inggris jika keluar bandara. Shah menetap di bandara selama 13 bulan sebelum akhirnya meraih kewarganegaraan Inggris sepenuhnya.

4. Fadi Mansour (1 tahun)

Fadi Mansour, seorang pengungsi asal Suriah yang terjebak di Bandara Internasional Ataturk, Istanbul, Turki, sejak 15 Maret 2015. Fadi meninggalkan Suriah pada Agustus 201. Ia pergi untuk menghindari wajib militer dan pindah ke Lebanon. Namun, setelah sempat diculik oleh sebuah geng penjahat, Fadi memutuskan pergi ke Turki pada 2014.

Setahun kemudian, Fadi memutuskan pergi ke Malaysia. Namun, rencananya gagal karena ia dianggap menggunakan identitas palsu di paspornya. Sejak itulah, Fadi terjebak di dalam bandara karena dia tak bisa meninggalkan Turki sekaligus juga tidak bisa meninggalkan bandara.

Mansour menghabiskan 1 tahun di bandara Turki sebelum Australia menawarkan suaka. Mansour dipersatukan kembali dengan keluarganya, yang telah diberikan visa kemanusiaan.

5. Zahra Kamalfar (10 bulan)

Zahra Kamalfar dan suaminya menghadiri protes melawan pemerintah Iran pada 2004. Dua tahun kemudian, Kamalfar diberi izin selama 2 hari mengunjungi kerabat yang mengatakan kepada wanita itu bahwa suaminya telah dihukum mati.

Zahra dan keluarga memutuskan melarikan diri dari Iran menggunakan dokumen palsu menuju Kanada. Mereka harus bertukar pesawat di Rusia dan Jerman. Setelah lolos dari bandara Rusia, keluarga Zahra tertahan di Jerman karena ketahuan menggunakan dokumen palsu sehingga mereka dikirim kembali ke Rusia.

Pihak Rusia ingin mengirim mereka kembali ke Iran, tapi keluarga itu tidak memiliki dokumen perjalanan maupun identitas Iran. Mereka pun dipaksa tinggal di bandara selama 10 bulan sebelumn akhirnya bisa terbang menuju Kanada.

6. Hassan al-Kontar (7 bulan)

Kasus tersasar di bandara dan tak bisa ke mana-mana ini menimpa seorang pria asal Suriah berusia 36, bernama Hassan al-Kontar. Sejak 7 Maret 2018, Hassan terpaksa tinggal di bandara KLIA, Malaysia, dan tak bisa pulang ke negaranya maupun keluar dari pintu check out. Setelah terkatung-katung di bandara selama 7 bulan, Hassan akhirnya telah tiba di Kanada tempat ia mendapat suaka.

7. Mohammed Al-Bahish (5 bulan)

Seorang pria Palestina Mohammed al-Bahish berkenalan dengan seorang wanita ketika berlibur pada 2013. Mereka kemudian sepakat menikah. Al-Bahish memesan tiket penerbangan ke Kazakhstan, tempat tinggal kekasihnya untuk melangsungkan pernikahan.

Ironisnya, Al-Bahish mendapati dokumen perjalanan pengungsinya hilang dan visa Kazakhstan juga kedaluwarsa. Ia terbang ke Turki untuk memperpanjang visa, tapi ditolak di perbatasan dan dikirim kembali ke Kazakhstan.

Tapi, karena visa Kazakhstan itu sudah kedaluwarsa, negeri itu menolaknya masuk. Ia tidak bisa ke mana-mana karena Israel pun tidak mengizinkannya masuk ke wilayah Palestina. Pria itu terjebak di bandara. Al-Bahish menghabiskan 5 bulan terjebak di bandara sebelum akhirnya diberikan status pengungsi ke Finlandia.

8. Feng Zhenghu (92 hari)

Pada 2009, Feng Zhenghu pergi ke Jepang demi mendapatkan perawatan kedokteran. Tapi saat pulang kembali ke China, ia dilarang masuk. Zhenghu memesan penerbangan lain dan ditolak lagi. Ia mencoba hingga delapan kali tetapi selalu ditolak.

Dalam upaya terakhirnya, ia ditolak masuk ke Jepang sehingga Zheng memilih menunggu di bandara Jepang. Penantiannya tidak sebentar dan tidak menyenangkan.

Zheng tidur di atas kursi besi antara jam 11 malam hingga 5 pagi, apalagi bandara selalu sibuk. Ia menghabiskan 92 hari di bandara Jepang. Zhenghu adalah pegiat HAM yang menulis beberapa tulisan kritis terhadap pemerintah China.

9. Kokoba De Jacques (43 hari)

Kokoba de Jacques pengungsi dari Pantai Gading. Setelah berkelana beberapa bulan, ia memutuskan tinggal di Maroko dan mendaftar sebagai pengungsi pada 2012 sehingga diizinkan tinggal. Dua tahun kemudian, de Jacques memohon otorisasi untuk bepergian.

Permohonannya disetujui dan ia mengunjungi sesama pengungsi di Mauritania selama 4 hari, lalu kembali ke Maroko. Namun demikian, pejabat berwenang di bandara menolaknya masuk dan meminta bukti tempat tinggal serta sumber keuangan.

Jacques menunjukkan dokumennya, tapi tetap ditolak masuk. Ia pun terjebak di bandara dan tidak diizinkan meninggalkan kawasan transit serta tidak diperbolehkan mengambil kopernya.

Uangnya habis dalam tiga minggu dan kemudian para karyawan bandara membawakan roti serta keju. Ketika dibebaskan, Kokoba sudah menghabiskan 43 hari tidur dalam kotak kardus di bandara.

10. Hiroshi Nohara (3 bulan)

Pada 2008, wisatawan Jepang Hiroshi Nohara terbang menuju Brasil. Penerbangan itu rehat di Meksiko, tapi Nohara ketinggalan penerbangan dan ia pun memutuskan tinggal di bandara walaupun sebenarnya memiliki uang untuk beli tiket pulang.
Setelah beberapa minggu, Nohara bertahan di bandara. Pihak berwenang Jepang dan Meksiko sama-sama membujuknya untuk pergi, tapi ia menolak.

Nohara tidak bisa dipaksa meninggalkan bandara karena ia tidak melakukan apapun yang melanggar hukum. Visa yang dimilikinya memungkinkan dia tinggal di Meksiko selama enam bulan dan tidak ada aturan yang melarangnya menetap di bandara.

Ia mengaku tidak memiliki alasan pergi dari bandara. Setelah 3 bulan menetap di bandara, seorang wanita Oyuki menawarkan Nohara untuk pindah tidur di tempat yang layak.

11. Keluarga Ahmad asal Suriah (50 hari)

Seorang bapak dan empat orang anaknya warga Kurdi, Irak terperangkap di bandara Rusia selama 50 hari. Mereka terpaksa hidup di sana karena dilarang keluar oleh otoritas negara setempat.

Hasan Abdo Ahmad dan keluarganya tiba di Bandara Sheremetyevo Moskow untuk mengajukan suaka. Namun pasukan penjaga menyita paspor mereka karena diduga palsu.

Dokumen mereka kemudian dinyatakan asli, namun petugas Rusia tetap menolak status mereka. Ahmad tiba Rusia dengan istrinya, Gulistan dan tiga anaknya Lavin (tiga tahun), Lund (tujuh), Rozkar (sembilan) dan Rinas (13) pada 10 September 2015.

11. Edward Snowden (39 hari)
Mantan perwira CIA ini melarikan diri ke Rusia dari Amerika Serikat usai dirinya menjadi burunon AS pada 2013 usai dirinya membocorkan informasi rahasia media mengenai pengawasan total layanan intelijen AS. Karena aksinya itu Nowden dianggap melakukan aksi spionase dan dimasukkan dalam daftar orang yang dicari internasional.

Ia berhasil melarikan diri dari Hong Kong dan kemudian ke Moskow, tempat dia tinggal selama 39 hari di zona transit Bandara Sheremetyevo. Hingga saat ini Snowden mendapatkan suaka di Rusia.[]Sumber:sindonews.com

* waktu yang dihabiskan tinggal di bandara

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.