15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Markonah, Ponari, Ratna Sarumpaet: Mati Ketawa Ala Indonesia

...

  • REPUBLIKA
  • 04 October 2018 12:30 WIB

Komedian legendaris Charlie Chaplin. @wikipedia
Komedian legendaris Charlie Chaplin. @wikipedia

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Ada apa dengan Indonesia hari ini? Pertanyaan ini disampaikan sejarawan Anhar Gongong ketika menyikapi pengakuan bohong Ratna Sarumpaet. Suara dia mendesah seperti resah. Apalagi ketika ditanya soal sejarah lucu yang sejenis di zaman lalu. Anhar saya ingatkan soal kisah Markonah dan Raja Idrus di era Sukarno.

''Ya lucu memang. Tapi ada apa dengan yang kali ini,'' tanya Anhar Gonggong.

Apa yang dia katakan memang ada benarnya. Kalau dideretkan kisah dan kehebohan yang kini menimpa Ratna Sarumpaet, maka itu tak beda dengan berbagai kisah serupa di zaman lampau. Jejaknya selalu saja ada, bahkan hadir di setiap era dan kekuasaan.

Baiklah kita buka kisah 'lucuan' tersebut satu persatu. Awalnyaa, dimulai nun di tahun 1950-an saat muncul kehebohan nasional ketika ada sepasang suami istri diterima Presiden Sukarno di Istana Negara. Orang itu adalah sejoli yang mengaku sebagai Raja dan Ratu dari Anak Dalam Jambi: Raja Idrus dan Ratu Markonah. Dia berhasil masuk ke Istana atas saran seorang pejabat agar Bung Karno berkenan menemuinya. Saran ini sangat muluk yakni karena raja dan ratu ini punya kekuatan tertentu yang bisa membantu pembebasan Irian Barat.

Tentu saja Sukarno yang lagi punya obsesi mengusir Belanda di Irian Barat (Papua saat ini) menyambutnya dengan gembira. Media massa kala itu terkena euforia dan antusias menyambutnya. Dua koran kala itu, yakni Masa Marhaen dan Duta Masyarakat memajang foto sang raja dan ratu bersama Bung Karno di halaman depan. Saran dari seorang pejabat terbukti. Di foto yang ada di koran itu dipasang keterangan: Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu Indonesia membebaskan Irian Barat. Apalagi foto itu menarik karena keduanya mengenakan kaca mata hitam.

Laksana air bah, keterpesonaan kepada sosok Raja Idrus dan Ratu Markonah melimpah ruah. Pasangan ini menjadii pesohor baru dadakan. Para pejabat antusias menyalami. Publik pun ikut terkesima. Apalagi sosok Ratu Markonah  lumayan cantik meski punya sedikit cacat di bagian mata.

Sosok pasangan ini laku keras bak pisang goreng. Jurnalis pun sibuk meliput dan publik di mana-mana mengajaknya berfoto. Gosip (kalau hari ini disebut dengan hoaxs) pun menyebar. Ada berita dan desas-desus bahwa keduanya diberi uang saku lumayan gede, menginap gratis di hotel mewah, hingga makan 'free' di restoran elite. Bahkan dikabarkan mereka dijamu bukan hanya sehari dua hari, tapi sampai berpekan-pekan lamanya. Keren sekali!

Celakanya, nasib mujur Raja Idrus dan Ratu Markonah kemudian terbongkar. Kala itu kedua sejoli ini tengah asyik berpesiar dan 'shoping' barang mewah dan cendera mata di sebuah pusat belanja di Jakarta. Tampaknya tanpa mereka sadari kini datang hari sial. Ini akibat publik mengenali sosoknya sebagai imbas mereka menjadi seorang pesohor dadakan. Ada seorang  tukang becak yang mengenali Raja Idrus di pasar. Ia katakan, bahwa dia itu adalah temannya yang juga sama-sama penarik becak.

Celakanya lagi, apa yang dikatakan sang penarik becak soal asal-usul Raja Idrus terendus wartawan. Galibnya seorang jurnalis dia mencoba menelusuri kebenaran itu. Alhasil, setelah mengurai kabar kusut, jejak Raja Idrus diketahui. Dia ternyata memang seorang tukang becak dan sang permasurinya adalah seorang pelacur kelas teri. Dan si perempuan bukan dari suku Anak Dalam di Jambi, melainkan 'wong Tegal'.

Nama Markonah ini kemudian abadi sebagai sosok pejoratiff karena disangdingkan dengan sebutan mengolok lelaki masa kini kurang gaul: "mukidi'. Selain itu nama dan kisah Raja Idrus dan Ratu Markonah juga berjejak pada lagu penyanyi tersohor kala itu, Teti Kadi yang bertajuk: Raja Idrus.

Uniknya, penulis muda sejarah, Beggy Rizkiansyah, yang meneliti kasus ini menemukan fakta lain. Beberapa tahun kemudian disebutkan Harian Kompas edisi 9 Agustus 1968 memberitakan “Raja” Idrus ditangkap di Kotabumi, Lampung, karena mengaku sebagai anggota Intel Kodam V Jaya. Sedangkan Markonah seperti diberitakan Kompas 21 Agustus 1968, sedang menjalani hukuman akibat terlibat dalam prostitusi di Pekalongan, Jawa Tengah. (Kompas, 26 Februari 2017)

Pada kisah lain, sejarawan Anhar Gonggong dan juga mantan anggota DPR Maiyasak Johanm kembali menceritakan kisah serupa yang terjadi di era Presiden Suharto. Kali ini terjadi di tahun 1970-an kala ada cerita tentang seorang perempuan asal Aceh yang sedang hamil tidak biasa. Mengapa? Kala itu tersiar kabar sang bayi yang masih dalam perut perempuan bernama Cut Zahara Fona bisa bicara. Tak tanggung-tanggung, bahkan si jabang bayi itu yang belum berada di dunia, bisa mengaji. Ajaib sekali.

Kisah ini juga tersebar luas ke publik. Masyarakat geger. Apalagi banyak orang yang bersaksi bila sudah mendengar langsung suara bayi itu ketika menempelkan telinganya ke perut Zahara. Lagi-lagi media masa saat itu ikutan heboh. Dia memuat aneka berita soal mendengarkan suara bayi di perut seorang ibu dengan perut dililit kain itu.

Kegemparan makin menjadi ketika pejabat resmi ikut-ikutan. Orang penting setingkat Menteri Luar Negeri Adam Malik ikut mengundang Zahara ke kantornya. Sikap ini malah diikuti koleganya, Menteri Agama Mochammad Dahlan. Dia bahkan memberi komentar fantastis. Katanya,"Imam Syafe'i pun selama tiga tahun di dalam perut ibunya." Rupanya ia menyamakan fenomena ajaib bayi yang ada di dalam perut Cut Zahara dengan bayi ulama besar Imam Syafi'i.

Kisah ini makin fantastis ketika gaungnya pun digosipkan diberitakan media internasional. Bumbu ceritanya bahkan dikatakan sampai ke Pakistan. Ada media menulis bila pemerintah Pakistan mengundang Cut Zahara dan suaminya piknik ke Istambul. Hebatnya lagi, media tersebut mengolahnya dengan tambahan ramalan bila sang bayi yang ada dalam perut Cut Zahara manakala lahir nanti akan menjadi sosok suci, yakni Imam Mahdi.

Kabar riuh ini akhirnya masuk ke dalam Istana. Kala itu pejabat penting negara sekelas Sekdalopbang (Sekretaris Pengendalian Pembangunan), Bardosono, sampai tergerak membawa Cut Zahara bertemu Presiden Suharto. Bukan hanya itu, sang Presiden pun benar-benar bertemu di ruang tunggu Bandara Kemayoran. Ibu Tien pun turut mendampinginya

Untunglah, Ibu Tien waspada. Rupanya ia tak gampang percaya seraya meminta yang kini sering dikatakan sebagai bukti forensik dengan meminta Cut Zahara dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo. Tak ayal lagi, Cut Zahara diperiksa. Dan ternyata ditemukan sebuah tape recorder kecil yang dililitkan diperutnya. Rahasia bayi ajaib pun terbongkar.

Lalu bagaimana pada zaman berikutnya? Ya ternyata kisah serupa tetap terjadi. Baik itu merupakan kisah serius yang melibatkan elite hingga fenomena 'kegilaan sosial' rakyat biasa.

Pada fenomena yang serius, semua masih ingat kasus tambang emas Busang di Kalimantan atau Skandal Bre-X. Kisah ini terjadi di tahun 1993, saat seorang geolog asal Filipina, Michael de Guzman, mengklaim telah menjelajahi sejumlah hutan di pedalaman Kalimantan dan menemukan jutaan ton cadangan emas yang siap eksplorasi.

Dan untuk menyakinnya, selama tiga tahun setelah klaim itu, Guzman memproduksi ribuan sampel emas. Omongan dia menarik para investor untuk menanamkan duitnya di perusahaan tambang Kanada tempatnya bekerja yang disebut Bre-X Minerals. Alhasil saham perusahaan ini melonjak tajam.

Tapi gorengan Guzman kemudian terbuka. Ternyata kemudian omongan dia tak terbukti dan hanya klaim sepihak. Padahal koran-koran sudah keburu ramai memberitakannya. Guzman ternyata penipu dan kemudian bunuh diri. Lahan emas ternyata cuma isapan jempol. Republika yang kala itu baru terbit sempat menulis tajuk: Ada Udang di Balik Busang.

Pada masa pemerintahan berikutnya pun sama. Ada skandal Suwondo yang tukang pijat tiba-tiba namanya disebut terkait kasus bantuan Sultan Brunei. Rumitnya lagi media pun sempat memperbincangkannya secara luas karena menyangkut dengan kekuasaan, yakni posisi Presiden Abdurrahman Wahid. Jurnalis yang saat itu meliput di Polda Metro Jaya pasti melihat seperti apa sosok bongkahan duit yang menjadi barang bukti kasus Suwondo digelar oleh kepolisian.

Saat itu suasana publik pun heboh bukan main. Banyak orang pun takjub karena uang bantuan sebanyak Rp 29 miliar yang dijadikan barang bukti kasus itu diperlihatkan ke publik. Jurnalis yang meliput gelar perkara Suwondo sempat bisa melihatnya meski dilarang keras menyentuhnya karena petugas polisi mengawal ketat mencegah kalau ada tangan iseng wartawan mencoba menjumput uang itu. Akhirnya dan entah karena apa, perbincangan kasus ini meredup seiring lengsernya Gus Dur.

Kemudian di masa Presiden Megawati muncul kisah pula 'serupa tapi tak sama'. Pada suatu hari tiba-tiba muncul berita saol kasus pembongkaran tanah di dekat prasasti kuno peninggalan zaman Pajajaran di Istana Batu Tulis Bogor. Tak tanggung-tanggung kasus ini melibatkan sosok Menteri Agama Said Agil Munawar. Kala itu dikatakan, pembongkaran tanah di sana untuk mencari harta karun berupa batangan emas peningalan Presiden Sukarno. Kasus ini kemudian oleh Megawati ditutup dengan memerintahkan pembongkaran tanah dihentikan.

Republika pada kasus Batulis pada 21 Agustus 2002 menulis seperti ini:

Kasus Pencarian Harta di Situs Batutulis: 'Gunakan Cara Rasional'

JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar penggalian dan polemik mengenai harta karun di situs prasasti Batutulis, Bogor, Jawa Barat, dihentikan. MUI juga mengimbau pemerintah menggunakan cara-cara rasional dalam menyelenggarakan negara. ''Masalah bangsa ini terlalu besar, sehingga dalam penyelenggaraan negara, pemerintah jangan bertumpu pada hal-hal yang irasional, tetapi dengan kerja keras dan rasional,'' kata Sekjen MUI Din Syamsuddin usai rapat MUI di Jakarta, kemarin (20/8).

Ketua MUI H Amidhan menyatakan penggalian harus dihentikan karena banyak tuntutan dari masyarakat. Sedangkan polemik yang terjadi dikhawatirkan bisa melebar ke masalah lain yang tak diinginkan. ''Nanti akan muncul tudingan bahwa Islam itu irasional, padahal agama Islam justru mendukung penggunaan akal atau rasionalitas,'' kata dia.

Ketua Umum MUI KH Ahmad Sahal Mahfudz, seperti dituturkan Sekretaris MUI Ichwan Sam, telah menemui Menteri Agama Said Agil Husein Al Munawar untuk klarifikasi sekaligus menyampaikan saran khusus MUI, belum diketahui apa pembicaraan keduanya. Di tempat terpisah presiden Partai Keadilan Hidayat Nur Wahid menduga kemungkinan ada pihak yang menjebak menag melalui ''orang pintar''. Dia juga sangat menyayangkan terjadinya kasus ini.

''Namun, kita harus pahami dan hargai niat yang tulus dari beliau untuk berupaya keluar dari krisis ini,'' ujar Hidayat. Sedangkan anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Noer Muhammad Iskandar SQ mengatakan sepantasnya menag meminta maaf kepada masyarakat secara terbuka agar kasus ini jelas.

Kemarin, Presiden Megawati Soekarnoputri membantah bahwa dirinya telah mengizinkan menteri agama atau siapa pun untuk mencari harta karun dengan cara menggali situs prasasti Batutulis.

''Batutulis, 'kan, di depan mata saya, kalau saya harus memberi izin, kenapa harus memberi izin kepada orang lain,'' kata Presiden Megawati seperti dikutip oleh Wakil Sekjen DPP PDIP Pramono Anung usai rapat pleno DPP PDIP yang dipimpin Megawati di kantor DPP PDIP, Jakarta.

Kemudian bagaimana kasus yang menghebohkan keseharian sosok rakyat biasa? Jawabnya ada pada kasus dukun anak ajaib asal Jawa Timur, Ponari. Entah karena apa tiba-tiba anak kecil ini menjadi dukun sakti yang mampu mengobati segala penyakit gara-gara menemukan batu bertuah.

Sama dengan kasus lainnya, kasus Ponari menjadi perhatian publik. Masyarakat berduyun mencari pertolongan kepada Ponari dengan cara meminum air bekas rendaman batu ajaibnya. Ponari jadi anak yang tersohor dan kaya raya. Ribuan orang antre di depan rumahnya. Kampungnya yang sehari-hari sepi menjadi hiruk pikuk. Suasana berubah persis ada pasar malam. Para tetangga memanfaatkan rezeki baru dengan buka titipan kendaraan sampai penginapan dadakan.

Namun, fenoma ini tak berlangsung lama. Entah mengapa kemudian menyusut dan tak berapa lama antusias orang untuk meminum rendaman batu ajaibnya menghilang. Berapa tahun kemudian Ponari menjadi bocah biasa yang ingin jadi polisi. Namun beberapa bulan silam, ada media massa yang melaporkan masih saja ada orang yang datang ke Ponari untuk berobat. Republika edisi Sabtu, 21 Februari 2009 menulis kasus Ponari sebagai berikut:

Ikatan Dokter 'Menantang' Dukun Cilik Ponari

Pesona dukun cilik bernama Ponari begitu fenomenal dalam sebulan terakhir ini. Rumah sakit dan ruang praktik dokter pun kekurangan pasien karena banyak tersedot oleh publikasi tentang 'kesaktian' Ponari yang diperoleh dari mimpi dan 'batu ajaib'.

Penasaran terhadap itu, pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Kabupaten Jombang, Jawa Timur, berniat mengundang Ponari. Dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, ini akan diminta memberikan testimoni tentang kemampuannya dalam mengobati pasien. ''Alangkah baiknya kalau Ponari kami undang ke rumah sakit untuk memberikan testimoni,'' kata Ketua IDI Jombang, dr Pudji Umbaran, Jumat (20/2).

Selain testimoni, Ponari akan 'diuji' mengobati sejumlah pasien yang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. ''Kalau keluarganya bersedia, nanti kami minta Ponari melakukan pengobatan pada pasien. Tentu, pasien yang kondisinya tidak parah dan tidak sedang membutuhkan obat-obatan sehingga kami bisa mengujinya, apakah metode Ponari itu bisa dipertanggungjawabkan secara medis atau tidak,'' katanya.

Dia menilai, metode pengobatan yang dilakukan oleh bocah berusia sembilan tahun itu hanya memberikan efek sugesti atau dalam istilah medisnya disebut placebo. ''Efek sugesti ini hanya memberi rasa nyaman pada penderita yang bersifat sementara, tapi tidak menghilangkan penyakit seorang penderita,'' kata kasubid Pelayanan Medik RSUD Jombang itu. Menurut Pudji, pekan pertama, Ponari muncul sebagai sosok fenomenal. Jumlah pasien yang berkunjung ke dokter di Jombang pun mengalami penurunan antara 20 hingga 30 persen.

''Tapi, tiga pekan sesudahnya, pasien yang melakukan rawat jalan pada dokter sudah kembali normal. Bahkan, tidak jarang, pasien dokter yang ternyata pernah melakukan pengobatan pada Ponari, penyakitnya belum sembuh,'' kata Pudji.

Sementara itu, setelah mendapatkan ancaman tidak naik kelas dari pihak sekolah, mulai Jumat pagi kemarin Ponari kembali masuk kelas. Namun, kembalinya Ponari ke bangku kelas III SD Negeri Balongsari 1 itu lain dari biasanya. Sejumlah saudara dan tetangga turut mengantarkannya hingga ke dalam ruang kelas sehingga pengawalan terhadap Ponari terkesan berlebihan.

Sebelumnya, Suparlik, wali kelas III SD Negeri Balongsari 1, mengingatkan Ponari untuk kembali bersekolah karena bulan depan akan ada ujian. Hampir sebulan Ponari membolos karena setiap hari disibukkan dengan memberikan layanan pengobatan terhadap ribuan masyarakat. Mereka datang dari berbagai pelosok Tanah Air ke rumah Ponari yang berdinding anyaman bambu (bilik) di Dusun Kedungsari. 

Sesudah itu ada kasus Dimas Kanjeng yang katanya mampu menggandakan uang. Saking hebatnya ada politikus senior asal Sulewsi Selatan yang bergelar doktor sampai begitu percaya bahwa Dimas Kanjeng memang orang sakti. Katanya, dia punya kekuatan supranatural dan ini pun masuk akal sesuai dengan teori ilmiah baru. Masyakat biasa dari berbagai daerah ikut terkesima dan banyak yang bermukim di dekat rumah Dimas Kanjeng karena menunggu tuah pelipatan uang yang diberikan kepadanya untuk digandakan.

Namun, kenyataan kemudian bicara lain. Setelah diributkan karena dibincangkan dalam talks show di sebuah stasiun televisi, sosok Dimas Kanjeng malah dibekuk polisi. Tuduhan kepadanya karena ada kasus penipuan dan bahkan kemudian ada dugaan kasus pidana lainnya. Kepandaian menggandakan uang ternyata hanya trik saja. Ya mirip main sulapan biasa.

Beberapa waktu lalu, di zaman Presiden Jokowi, juga sempat terjadi lucuan. Ini terkait sebaran komentar di media sosial oleh seorang bocah/remaja kecil asal Jawa Timur, Afi Nihaya. Tulisannya keren mengesankan, dia sosok genius. Dia dipanggil ke Istana Negara untuk berjumpa dan selfie bersama presiden. Namanya kala itu melangit sampai 'sundul tingkat tujuh.'

Sialnya kemudian publik di media sosial juga mengungkap tulisan Nihaya jiplakan, Kini ganti nama bocah melorot terbanting habis. Seorang psikolog dan aktvis perlindungan anak, Seto Mulyadi, sempat menyatakan agar sikap bocah ini dikaji. Hebatnya lagi kala itu ada partai yang sebelumnya sempat mengusulkan Nihaya jadi duta Pancasila.

Republika.co.id edisi Ahad 09 Jul 2017, pukul 20:35 WIB mengunggah berita begini:

Ini Saran Kak Seto untuk Afi Nihaya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog Anak Seto Mulyadi mengatakan publik, khususnya warganet, tidak perlu lagi mempermasalahkan curahan hati Afi Nifaya Faradisa melalui video live Facebook. Namun, dia menyatakan perlu ada pendekatan psikologis terhadap remaja asal Banyuwangi, Jawa Timur, tersebut.

"Jadi engga usah terlalu dipermasalahkan, tapi justru harus ada pendekatan baik dari orang tua, psikolog, dan mungkin kalau memang memerlukan bantuan untuk mendapatkan treatment psikologis, mungkin bisa kami lakukan dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI)," kata Kak Seto saat dihubungi Republika, Ahad (9/7).

Kak Seto mengatakan pendekatan psikologi untuk mengetahui alasan dan motivasi dari tindakan dan perkataan yang dilontarkan Afi yang berakibat menimbulkan komentar di masyarakat.

Alhasil, itulah beberapa rangkaian kisah 'lucuan' sepanjang zaman. Maka bila sekarang ada kasus operasi plastik Ratna Sarumpaet yang dikira kasus penganiayaan, janganlah heran. Uniknya lagi Ratna sempat mengaku mengatakaan penganiayan itu kepada salah satu peserta Pilpres 2019, Prabowo Subianto. Akhirnya, Prabowo pun sempat tergerak untuk melakukan jumpa pers menyatakan prihatin atas kasus yang menimpanya. Kasus Ratna menimbulkan kehebohan publik. Dia pun kemudian minta maaf dan menyatakan bertanggung jawab.

Maka benar kan, tak ada yang baru di bawah sinar matahari. Sejarah memang selalu berulang. Dunia memang sandiwara!

Peran yang kocak bikin kita berbahak-bahak,

peran bercinta bikin kita mabuk kepayang, dunia ini ...

[] Sumber: republika.co.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.