18 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Dialog Bela Negara di Sabang, Ini Kata Kaban Kesbangpol Aceh

...

  • portalsatu.com
  • 08 March 2019 10:47 WIB

Foto: dok. Badan Kesbangpol Aceh
Foto: dok. Badan Kesbangpol Aceh

SABANG – Badan Kesbangpol Aceh mengadakan kegiatan Dialog Bela Negara di Kota Sabang, 4 Maret 2019. Dialog itu diikuti 100 peserta yang berasal dari pemuda dan pemudi Kota Sabang. Panitia menghadirkan pemateri yakni Dandim 0112 Kota Sabang dan seorang akademisi yang juga tokoh pemuda.

Ketua panitia menyampaikan, dialog bela negara diselenggarakan dengan maksud untuk memberi motivasi  kepada seluruh komponen masyarakat diberbagai tingkatan dalam mewujudkan satu kesatuan tingkah laku dalam mempersiapkan diri dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta menumbuhkan kesadaran bela negara.

Tujuannya untuk mewujudkan sikap dan tingkah laku yang menghargai dan menghormati hak-hak orang lain dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang  bersatu, kokoh dan tegar dalam menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan.

Kepala Badan Kesbangpol Aceh, Drs. Mahdi Efendi, dalam sambutannya pada pembukaan dialog itu mengatakan realitas keragaman bangsa Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa, agama, bahasa, kepercayaan dan adat istiadat adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Begitu juga  dengan halnya pemuda-pemudi merupakan ujung tombak bangsa yang merupakan faktor pembentuk wawasan kebangsaan hal tersebut menunjukkan bahwa bangsa indonesia adalah bangsa besar dan menyimpan potensi kekuatan budaya untuk dapat ikut mewarnai peradaban dan kesejajaran dengan bangsa-bangsa lainnya dalam percaturan internasional.

Namun demikian dalam perkembangannya pengaruh globalisasi menghadirkan pula permasalahan-permasalahan dalam kehidupan kemasyarakatan kita terutama pada aspek wawasan kebangsaan Indonesia. Dewasa ini Pancasila sebagai dasar negara, idiologi dan pandangan hidup bangsa saat ini dirasakan kurang mendapat perhatian, kalaupun ada yang masih mengganggap penting, itupun hanya ditempatkan sebagai simbol berbangsa dan bernegara atau sebagai formalitas saja dalam peringatan hari-hari penting nasional namun demikian paling tidak bangsa Indonesia patut bersyukur karena masih memiliki  komitmen bersatu, dimana dalam pembukaan uud tahun 1945 yang mengangdung rumusan pancasila tetap dipertahankan keberadaannya.

Wawasan kebangsaan amat diperlukan oleh suatu bangsa dari negara yang merdeka dan berdaulat seperti indonesia. karena berakar pada wawasan kebangsaan inilah suatu bangsa akan mampu menempatkan diri sebagai bangsa dan negara yang dapat “disanding-tandingkan” dengan bangsa-bangsa lain. Esensi wawasan kebangsaan adalah pembelajaran untuk menyadarkan warga negara terhadap pentingnya arti kehidupan bersama yang dilandasi oleh prinsip persamaan hak serta kewajiban di hadapan hukum dan pemerintahan. selain itu wawasan kebangsaan juga sekaligus sebagai pembentuk tata pandang yang sehat dan wajar mengenai masa depan bangsa.

Lahirnya wawasan kebangsaan ini dispiriti oleh rasa kebangsaan, yaitu kesadaran kolektif suatu bangsa sebagai hasil dialektika alamiah yang diakari persamaan nasip dan hak serta kewajiban di hadapan hukum dan pemerintah. kristalisasi rasa kebangsaan inilah kelak menghasilkan konsepsi wawasan kebangsaan yang merupakan pemikiran bersifat nasional di mana suatu bangsa memiliki cinta kehidupan dan tujuan nasional yang jelas.

Berdasarkan perspektif historis, awal kebangkitan kesadaran berbangsa dan bernegara ditandai dengan lahirnya budi utomo tahun 1908. tidak lama kemudian lahir pula sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928 sebagai afirmasi nyata (tangible) para pemuda indonesia mengenai sikap keindonesiaannya. kesadaran berbangsa dan bernegara ini kemudian dijadikan landasan perjuangan rakyat indonesia untuk  membebaskan dari cengkraman kolonial belanda. semangat berbangsa dan bernegara ini terus berkembang dengan tujuan utama meraih kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Reformasi yang semula bertujuan untuk mere-form berbagai penyimpangan dalam berbangsa dan bernegara ternyata memunculkan “semangat kedaerahan”, “semangat kelokalan”, “semangat primordial” yang mengarah terbentuknya politik indentitas. semangat ini lebih mengemuka ketimbang “semangat nasionalisme”. dikhawatirkan fenomena ini akan menjadi ancaman potensial bagi eksistensi bangsa dan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).

Untuk menjaga eksistensi suatu bangsa dan keutuhan negara, diperlukan perencanaan program pembangunan sebagai upaya penyejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya. program pembangunan harus dilandasi pada prinsip kerakyatan, dengan memberi peran dan pertisipasi yang luas bagi rakyat dalam berbagai kegiatan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah. dalam artian lain pembangunan tidak hanya menempatkan rakyat sebagai objek, namun sekaligus sebagai subjek pembangunan.

Dewasa ini bangsa Indonesia mengalami degradasi nilai moral yang mengakibatkan melemahnya rasa kebangsaan yang ditandai dengan lemahnya penegakan hukum dan pengamanan hukum berlangsung secara tidak adil dan diskriminatif.  kurang menbangun rasa kepercayaan antara pemerintah denga rakyatnya, demoralisasi aparatur pemerintahan, memudarnya azas kesatuan wilayah lenturnya budaya menghormati simbol –simbol kenegaraan, menguat semangat primodalisme serta tingginya disparitas sosial ekonomi dan politik antar daerah.[](adv)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.