19 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aksara Jawi Mengapa Dibuang?

...

  • portalsatu.com
  • 04 October 2019 09:00 WIB

Surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja James I (1615 M). @Via jabbarsabil.com
Surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja James I (1615 M). @Via jabbarsabil.com

Oleh: T.A. Sakti, Budayawan Aceh

KEBUDAYAAN dari suatu bangsa merupakan hasil proses perubahan yang terjadi secara tahap demi tahap dalam perjalanan zaman. Fungsi dari kebudayaan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sehari-hari.
Tiap bangsa yang sudah berkebudayaan tinggi mempunyai atau memiliki “aksara” nya sendiri, karena bangsa tersebut telah pandai baca- tulis dalam kehidupannya. Dapat kita lihat sampai hari ini misalnya bangsa Jepang, Tiongkok, bangsa Arab, mereka memiliki aksara sendiri dan tetap dipelihara dan dipakai sampai hari ini, di samping itu mereka juga menggunakan aksara Latin.

Kita bangsa Indonesia telah pernah memakai berbagai macam aksara sejak dari zaman purbakala. Salah satu diantaranya yang pernah dipakai oleh bangsa kita di Nusantara ini adalah aksara Jawi. Aksara ini merupakan suatu jenis aksara yang telah sangat berjasa dalam mempersatukan  suku-suku bangsa yang mendiami tiap-tiap pulau di kepulauan Nusantara ini, sehingga karenanya sekarang telah menjelma menjadi bangsa Indonesia. Surat menyurat dalam hubungan diplomatik antara Kerajaan-kerajaan di Nusantara, selalu menggunakan aksara Jawi  yang berasal dari huruf Arab.

Begitu juga para Ulama dan cerdik pandai, di zaman tersebut menyebarkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki dengan menggunakan tulisan Jawi, sehingga boleh dikatakan tidak seorangpun di masa itu yang b u t a  huruf. Di  Aceh penggunaan huruf Jawi di masa itu sangat meluas. Dalam hal ini Prof. A. Hasjmy menulis: “Kesusasteraan Aceh yang pada umumnya dalam bentuk “puisi” diucapkan atau ditulis dalam bahasa Aceh dibawah nama “hikayat”.

Sementara sastra Aceh dalam bentuk “prosa” pada umumnya bersifat mantera. Juga sejumlah kitab-kitab agama ditulis dalam bahasa Aceh. Setelah datang Islam huruf asli Aceh diganti dengan huruf Arab di bawah nama “Huruf Jawi”: Juga karya tulis dalam bahasa Melayu ditulis dengan menggunakan Huruf Jawi”, demikian  antara lain isi paper A. Hasjmy yang berjudul: “Bahasa dan Kesusasteraan Melayu di Aceh”, yang beliau sampaikan pada Hari Sastra 1980 di Ipoh Malaysia, yang berlangsung tanggal 19 s/d 23 April 1980.

Memang sesungguhnya,  jasa aksara Jawi ini  tak dapat dibantah oleh siapapun, karena hal ini memang kenyataan sejarah. Tulisan Jawi  bukan lagi merupakan kebudayaan asing bagi bangsa Indonesia sejak zaman dahulu, tapi sudah jadi kebudayaan sendiri bagi kita di Indonesia ini, yang dapat dikatakan sudah mendarah daging. Maka oleh karena itu patut dipelajari oleh generasi sekarang dan generasi akan datang.

Begitulah membudayanya aksara Jawi  bagi bangsa Indonesia, hingga tak heranlah kalau di tiap-tiap sekolah, sejak Indonesia merdeka hingga sekitar permulaan tahun 60-an masih di “Wajibkan”  untuk dipelajari. Penulis artikel ini sendiri, pernah memperlajari huruf Jawi semasa di Sekolah Dasar.

Tetapi sungguh sangat disayangkan, tulisan  Jawi  yang telah membudaya bagi bangsa Indonesia, hanya dengan mudah saja telah dikesampingkan atau telah dibuang ke dalam “tong sampah sejarah pendidikan di Indonesia”.
 Berbagai macam pelajaran baru, sekarang telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di negara kita, tapi apakah sebabnya Aksara Jawi ini tidak diperdulikan lagi?, tidakkah patut kita meniru sikap positif dari orang Tapanuli Utara, seperti yang telah penulis singgung pada awal artikel ini?.

Sementara  bahasa Sanskerta dan aksaranya (aksara Nagari), masih diajarkan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di beberapa universitas di Indonesia. Padahal sebenarnya di masa dulu, huruf  Sanskerta  tidak dikenal secara umum di Indonesia, hanya diketahui oleh ahli-ahlinya saja. Lain halnya dengan huruf Jawi, memang telah dipakai secara umum diwaktu yang lalu.

Bukankah huruf Jawi tersebut sebagai suatu tanda kebesaran dari kebudayaan bangsa kita di masa lalu? Kalau untuk memudahkan penyelidikan sejarah, bukankah prasasti-prasasti dan dokumen-dokumen sejarah banyak juga tertulis dengan aksara Jawi, di mana hingga hari ini prasasti dan dokumen itu masih banyak bertebaran di seluruh tanah air Indonesia?.

Meneruskan Politik Penjajahan
Diplomat besar  dan ilmiawan agung Haji Agussalim pernah menyatakan sikap beliau dalam masalah aksara Jawi. Haji Agussalim adalah Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pertama, dan konon menguasai 12 bahasa. 

Dengan judul seperti di atas, yaitu “Meneruskan Politik Penjajahan”,  H. Agussalim berkata: “Maka pemerintah kita dan pelbagai partai perhimpunan, perserikatan dan lembaga-lembaga masyarakat, mencurahkan usaha tenaga dan biaya untuk memberantas buta huruf Latin dan menyiarkan bacaan-bacaan dengan menggunakan huruf Latin saja.

Dengan demikian kita meneruskan politik penjajahan di masa yang lalu itu, yang sengaja hendak dihapuskan baca tulis dengan huruf Arab dan melenyapkan segala bacaan huruf Arab dari kalangan masyarakat kita.”

“Bahaya dan bencana keadaan itu untuk kebudayaan kita yang asli, dasar yang sehat untuk mencapai kemajuan kebudayaan, sesuai dengan budi pekerti dan akhlak yang menjadi pokok asli dari pada bangsa kita, patut sekali dipikirkan oleh p e m e r i n t a h dan p e m i m p i n-p e m i m p i n dan p e m u k a-p e m u k a kita semua”.
“Mungkinkah kita akan mendapatkan kemajuan kebudayaan; jika terlebih dahulu kita membiarkan luput pokok kebudayaan yang sebesar-besarnya itu?”.

Dari kutipan  buku “Seratus Tahun Jejak Langkah Haji Agussalim”  dengan jelas dapat kita pahami, betapa seriusnya masalah aksara Jawi menurut pendapat H. Agussalim, yang pada pokoknya mengatakan bahwa penghapusan mata pelajaran huruf Jawi ( bahasa Aceh = harah Jawoe ) dalam sistim pendidikan di Indonesia, merupakan bahaya dan bencana bagi kebudayaan bangsa Indonesia.

Memang telah jadi kenyataan sejarah, bahwa selama zaman penjajahan di Indonesia, merupakan masa penggusuran dan penggayangan besar-besaran terhadap kebudayaan bangsa kita.  Tujuan penjajah adalah untuk membina dan menanam benih-benih kebudayaan Barat pada setiap anak negeri generai-generasi kemudian. Politik Belanda yang demikian, bertujuan untuk mengekalkan penjajahannya di bumi Indonesia ini. Tindakan-tindakan Belanda yang mensaoh semua bidang kebudayan, bahkan sampai-sampai kepada kuburan Sultan Iskandar Muda turut dihilangkan jejaknya.

Imbauan dan Harapan

Demi menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang dimiliki oleh aksara Jawi. yang telah memperkaya kebudayaan Indonesia. Warisan leluhur yang wajib kita pelihara dan junjung tinggi. Serta semestinya kita wariskan kepada generasi bangsa Indonesia yang akan datang. Maka dengan ini penulis mengimbau serta menggugah hati kita semua; untuk memberi pikiran dan pandangan dalam masalah mengajarkan kembali aksara Jawi disekolah-sekolah dalam negara kita Republik Indonesia.
Semoga!!!.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.