23 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aktivis Kebudayaan di Aceh Diskusi Hubungan Terkini dengan Turki

...

  • Jamaluddin
  • 07 September 2019 22:00 WIB

Aktivis kebudayaan di Aceh diskusi hubungan terkini dengan Turki, di Banda Aceh, 7 September 2019. @Jamaluddin
Aktivis kebudayaan di Aceh diskusi hubungan terkini dengan Turki, di Banda Aceh, 7 September 2019. @Jamaluddin

BANDA ACEH - Ikatan Masyarakat Aceh Turki (IKAMAT), PPI Turki, KBRI Ankara dan Hotel Al-Hanifi bekerjasama adakan acara Silaturrahmi dan Rembuk Umum Pegiat Sejarah Hubungan Indonesia - Turki, pada Sabtu, 7 September 2019 di Hotel Al-Hanifi, Banda Aceh.

Ketua IKAMAT Muhammad Haykal mengatakan tujuan FGD itu untuk menggali bagaimana peran Aceh dalam membina kembali hubungan Aceh (Indonesia) dengan Turki.

"Acara ini bertujuan untuk menyerap aspirasi dan gagasan dari para pakar sejarawan dan pegiat-pegiat sejarah di Aceh serta perlu adanya konseptualisasi dan kajian konkrit membahas hubungan Indonesia - Turki," katanya.

Acara itu dihadiri oleh sejumlah media masa, beberapa lembaga pegiat sejarah dan kebudayaan Aceh, universitas, Tahfidz Sulaimaniah serta percetakan dan penerbitan.

Ketua PPI Darlis Azis Mengatakan Tujuan PPI buat acara, ingin memperkenalkan Aceh kepada Turki. ketika orang Turki mengenal Indonesia, mengenal Aceh bukan Bali. Ia berharap Aceh menjadi destinasi terdepan destinasi wisata.

Dr.  Husaini Ibrahim mengatakan hubungan Aceh Turki telah berlangsung dalam waktu cukup lama hubungan itu terjalin semata sebagai perwujudan misi untuk menyelamatkan islam dunia. 

Menurutnya simbol kekuatan Aceh pada masa itu tertulis seperti yang sering kita baca dan dengar seperti "di Aceh na alam peudeung cap sikureung lam jaroe raja..dan seterusnya.

Dr. Husaini menambahkan bahwa dalam penyatuan wilayah-wilayah, Aceh bukan bertujuan menjajah sebagaimana yang dituding oleh beberapa penulis.

Berdasarkan kajiannya Dr. Husaini menjelaskan betapa sungguh besar perjuangan Aceh dalam menjalin hubungan dengan Turki hingga Turki kemudian mengirim ahli-ahli persenjataan untuk Aceh dan puncaknya persahabatan itu terjalin di abad 17 Masehi.

Dengan sebab itu untuk menghargai sejarah Dr. Husaini berharap supaya situs-situs benda cagar budaya di Aceh terkait sejarah masa silam dijaga bersama dan pemerintah diharapkan membuat qanun tentang perlindungan cagar budaya.

"Sekarang pun setelah tsunami Aceh, Turki juga telah banyak memberikan berbagai bantuan," katanya.

Ustaz Amri Fahmi mengatakan jasa Turki Utsmani tak pernah tergantikan dengan denikian berharap supaya Turki kembali menjadi pemimpin umat Islam di seluruh dunia.

Teuku Zulkhairi berharap mahasiswa Aceh di Turki semoga bisa menjadi transfer penghubung ilmu pengetahuan dan kebudayaan di sana dengan cara  menerjemahkan buku-buku dari berbahasa Turki ke Bahasa Indonesia untuk bisa dibaca Aceh dan dipelajari.

Direktur Pedir Museum Masykur Syafruddin berdasarkan temuan bukti sejarah tentang hubungan Aceh Turki mengatakan bahwa hubungan Antara Aceh dengan Turki diduga telah terjalin di masa-masa sebelum Sultan Al-Kahhar.

"Dalam koleksi Pedir Museum pada tahun 2016 menemukan mata uang Al-Fatih," katanya.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.