26 April 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bentuk Singkat

...

  • SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN
  • 06 January 2017 10:30 WIB

Di dalam aktivitas berbahasa sehari-hari orang sering kali menggunakan bentuk-bentuk singkat.  Disadari atau tidak penggunaan peranti kebahasaan seperti itu memang, selain disukai, terasa efisien dan sah saja. Bahkan, ada kalanya orang dalam pertuturannya, terutama dalam pertuturan lisan, sengaja menggunakan bentuk itu.

Sebenarnya, apakah bentuk singkat itu? Bentuk  singkat adalah bentuk kebahasaan yang disingkat, baik secara lisan maupun tulis. Beberapa contoh bentuk singkat adalah lab, prof, faks, dok, dan  perpus. Bentuk-bentuk itu secara berurutan berasal dari bentuk utuh laboratorium , profesor, faksimile, dokter, dan perpustakaan. Bentuk singkat bukan hanya terdapat di dalam bahasa Indonesia, tetapi  juga terdapat di dalam bahasa Inggris, misalnya bentuk lab (bentuk singkat laboratorium) dan prof (bentuk singkat professor).

Kata-kata sapaan yang menunjukkan hubungan kekerabatan, seperti Bapak, Ibu, Emak, Nenek, Bibi, Abang, Kakak, dan Ayuk, sering juga digunakan bentuk singkatnya, yakni  Pak, Bu, Nek, Bi, Bang, Kak, dan  Yuk. Bahkan, tatkala menyertai nama bentuk singkat itu—terutama dalam bahasa lisan– lazim pula digunakan, misalnya Pak Ahmad (bentuk lengkapnya Bapak Ahmad), Bu Neli (lengkapnya Ibu Neli), Mak Erot (bentuk lengkapnya Emak Erot), Nek Birah (bentuk lengkapnya Nenek Birah), Kak Imam (selengkapnya Kakak Imam), dan Yuk Nabila (asalnya Ayuk Nabila).

Akan tetapi, pernahkah Anda mendengar orang menyingkat bentuk Paman dengan Man dan Tante dengan Te? Saya kira bentuk itu hanya muncul di dalam bahasa lisan. Yang sering adalah bentuk man pada  nama orang, misalnya Maman atau Herman—yang dipanggil dengan panggilan suku belakangnya, yakni Man, sebab di dalam bahasa Indonesia orang cenderung memanggil nama orang dengan suku belakang. Bukankah Dadang sering dipanggil Dang dan Anton sering disapa Ton? Mungkin lucu juga jika suatu ketika ada bentuk singkat Man untuk Paman di dalam bahasa tulis. Namun, jika suatu hari pula kelak masyarakat bahasa kerap menggunakannya—sehingga menjadi konvensi dan misalnya dibakukan—siapa pula yang berani menolak bentuk itu?

Menarik juga untuk dicatat bahwa bentuk singkat dari kata Paman dan Tante tidak pernah muncul dalam bahasa tulis. Pernahkah Anda membaca, misalnya kalimat Man Hidayat sedang membaca?Man di sini maksudnya bentuk singkat Paman. Sudah adakah bentuk kalimat, misalnya Te Ani memasak nasi. Anda agaknya sepakat dengan saya bahwa bentuk itu belum pernah ada, bukan? Yang lebih menarik lagi bahwa bentuk Mamang atau Amang, yang bermakna ‘paman’—yang berasal dari bahasa daerah—justru muncul dalam bentuk singkat, misalnya Mang Uus atau Mang Udin. Padahal, Paman juga berasal dari bahasa Indonesia. Tante, setahu saya, memang bukan kata asli Indonesia.

Tentu saja perlu ditegaskan bahwa bentuk singkat haruslah berasal dari kata yang  lebih dari satu suku. Itulah sebabnya,  Om dan Mas tidak ada bentuk singkatnya. Jangan pula bentuk Mas (untuk menyapa pria suku Jawa) seperti pada Mas Yon, misalnya,  Anda kira semula berasal dari Emas YonEmas itu  tentu barang mahal yang lain lagi, bukan Mas Yon dari Jawa  yang bisa tersenyum dan berlari maraton.[]

Sumber: Lampung Post

Editor: SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.