13 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Besok Malam, Teater Hikayat Prang Sabi di Taman Budaya

...

  • portalsatu.com
  • 06 December 2018 22:30 WIB

Para aktor pendukung Teater The Spirit of Aceh adapted from Hikayat Prang Sabi setelah Tadarus hikayat di Lucky Tribe Aceh, Batoh, Banda Aceh Pada Rabu malam, 28  November 2018. @Istimewa
Para aktor pendukung Teater The Spirit of Aceh adapted from Hikayat Prang Sabi setelah Tadarus hikayat di Lucky Tribe Aceh, Batoh, Banda Aceh Pada Rabu malam, 28 November 2018. @Istimewa

BANDA ACEH - Puluhan seniman dan pegiat seni di Aceh akan tampil pada pertunjukan garapan teater bertema The Spirit of Aceh yang diadaptasi dari Hikayat Prang Sabi karya Teungku Chik Pante Kulu, 7-8 Desember 2018 di aula Taman Budaya, Banda Aceh.

Penggagas dan juga sutradara teater tersebut, Muhammad Yusuf Bombang alias Apa Kaoy mengatakan, teater tersebut akan menceritakan awal mula lahirnya Hikayat Prang Sabi dan juga proses penyebarannya di masyarakat Aceh kala itu hingga menjadi pemompa semangat para pejuang untuk mengusir para penjajah dari tanah Serambi Mekkah.

"Ada dua pesan di situ yang pertama isi dariĀ  Hikayat Prang Sabi, yang kedua bagaimana proses penyebaran Hikayat Prang Sabi di masyarakat setelah diciptakan," ujarnya.

Menurut seniman asal Panto Labu itu, karya besar Hikayat Prang Sabi menjadi salah salah satu karya sastra lama asal Aceh yang sudah dikenal dunia. Namun menurut Apa Kaoy, banyak orang hanya mengenal namanya tapi tidak banyak yang mengetahui isi dan juga sejarah penyebarannya.

"Oleh karena itu untuk mengangkat kembali dan memperkenalkan kepada generasi muda makanya cerita ini kita angkat dalam bentuk teater," ujarnya.

Sejumlah nama besar seperti, Muhammad Nazar mantan wakil gubernur Aceh, Salman Yoga, Cut Aja Riska, Intan, Mirza Irwansyah, Muna Purwodadi, Agam Usmani, Ampon Nazar, Sanggar Keumala Intan, Sanggar Rapai Tuha, Grup Rapai Pasee Raja Buwah juga ikut mengambil peran dalam pertunjukan itu.

"Para seniman ini ada peran masing-masing. Ada penyanyi, namun mereka bukan menyanyi bebas, tapi bernyanyi dalam pertunjukan sesuai dengan naskah," ujarnya.

Acara yang diinisiasi oleh komunitas PentaSagoe dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh iniĀ  telah dipersiapkan sejak tiga bulan terakhir, sedangkan naskahnya sudah dipersiapkan selama beberapa tahun.

"Kita juga sudah melakukan ziarah ke makam Teungku Chik Pante Kulu dan Teungku Chik di Tiro karena yang kita angkat adalah karya besar beliau," katanya.

Menurut Apa Kaoy, acara ini terbuka untuk khalayak serta tidak dipungut biaya.

"Acaranya free tidak kutip tiket, karena acaranya dua malam, jadi yang tidak bisa menyaksikan pada malam pertama bisa menyaksikan di malam kedua," ujarnya.[] Rel

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.