17 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cut Putri Minta Tugu Tewasnya Kohler di Masjid Raya Mudah Diakses

...

  • portalsatu.com
  • 15 April 2019 07:30 WIB

Ketua Yayasan Darud Donya Aceh, Cut Putri saat menerima Anugerah Award DMDI di Singapura yang berlangsung pada 16-18 November 2018. @Istimewa
Ketua Yayasan Darud Donya Aceh, Cut Putri saat menerima Anugerah Award DMDI di Singapura yang berlangsung pada 16-18 November 2018. @Istimewa

Ketua Yayasan Darud Donya Aceh, Cut Putri menghadiri acara peringatan 146 tahun kemenangan tentara Kesultanan Aceh Darussalam melawan Belanda. Ia bersama perwakilan organisasi yang berbasis kebudayaan lainnya, seperti Peusaba Aceh, PuKAT, ALIF, dan Aliansi Pengamat Aceh.

Cut Putri dan kawan-kawan Iman Mesjid Raya  Prof. Dr.Tgk. H. Azman Ismail, MA, di ruang kerjanya. Ia meminta agar akses ke prasasti tewasnya Kohler dapat dengan mudah diketahui pengunjung, da disambut baik oleh imam besar Masjid Raya. 

Setelah itu, Cut Putri dan kawan-kawan mengunjungi lokasi tewasnya Jenderal Kohler oleh Teuku Nyak Raja Luengbata Panglima Dalam Kesultanan Aceh Darussalam, di tepi pagar gerbang bagian utara masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

"Peristiwa tewasnya Kohler di halaman Masjid Raya Baiturrahman pada 14 April 1973 oleh pahlawan perang Aceh merupakan peristiwa yang diukir dengan tinta emas oleh masyarakat dunia sehingga negeri Aceh terkenal di seantero dunia dengan semangat heroiknya yang pantang mundur dalam mempertahankan marwah agama dan bangsa," kata Cut Putri.

Sejak dulu, kata dia, Masjid Raya Baiturrahman adalah merupakan simbol religius, keberanian dan nasionalisme bangsa Aceh. Kini arti simbol-simbol tersebut pun kian memudar seiring dengan perkembangan zaman dan renovasi megah terhadap situs cagar budaya ini.

"Telah terkenal sejak lama bahwa ikon Masjid Raya adalah pohon geulumpang besar yang terletak di halaman masjid yang di bawah rindang daunnya ada prasati sederhana yang disebut prasasti Kohler sebagai penanda pernah terjadi sesuatu yang dahsyat di sana dikarenakan cita-cita mulia mempertahankan kehormaran agama dan bangsa," kata Cut Putri yang sering dibawa ayahnya ke tugu tersebut sejak kecil.

Kata Cut Putri, para pengunjung masjid datang ke masjid selain untuk beribadah juga untuk mengunjungi pohon dan prasasti tersebut demi mengenang sejarah kehebatan dan keikhlasan para pahlawannya dan bertekad berusaha meneruskan cita-cita mereka.

"Prasati Kohler di halaman masjid raya adalah satu-satunya pengingat peristiwa besar tersebut yang masih dipertahankan keberadaannya hingga kini, walau telah dipindahkan dari tempat aslinya," kata perempuan perekam video bencana tsunami 26 Desember 2004, yang karena keberaniannya tersebut tsunami Aceh dikenal ke suluruh penjuru dunia dengan cepat.

Cut Putri mengatakan, keberadaan prasasti ini menjadi penting, untuk merawat ingatan akan sejarah gemilang yang pernah terjadi di sana. Selain untuk menghormati jasa-jasa para pahlawan, juga untuk mengingat dan menyerap semangat heroisme yang tiada goyah.

"Sayangnya letak prasasti tersebut kini berada nun jauh diujung sudut halaman masjid. Dengan posisi yang disembunyikan sedemikian rupa, dipastikan kini tak ada lagi orang yang mendatangi prasasti tersebut kecuali yang khusus mencarinya atau yang secara tak sengaja "tersesat" ke sana, sehingga sejarah besar itu pun kini perlahan mulai terlupakan, dan semangat membela agama dan bangsa semata untuk meraih ridha Illahi pun perlahan pudar dari dada para anak bangsa," kata Cut Putri.

Ia mengharapkan agar pihak-pihak terkait dapat segera mereposisi letak prasasti Kohler tersebut atau membuka akses yang lebih memudahkan bagi pengunjung untuk dapat mengunjungi prasasti Kohler untuk mengenang kembali bagaimana para pendahulunya berjuang dan mengorbankan jiwa raga nya demi untuk mempersiapkan dunia yang lebih baik untuk kita tinggali kini.

"Sejarah menjelaskan siapa jati diri bangsa, dengan mengenal jati diri maka bangsa dapat memahami siapa dirinya dan kemana arah tujuannya. Dengan terlupanya sejarah-sejarah besar maka Aceh tak kan tahu lagi ke mana arah menuju, karena sejarahlah pelita penerang jalan menuju masa depan. Semoga prasasti Kohler dengan pohon geulumpangnya dapat kembali berfungsi seperti mulanya, yaitu ikon Masjid Raya Baiturrahman," kata Cut Putri.

Cut Putri berharap, sebagaimana para pendahulu bangsa yang telah rela berjuang sedaya upaya sehingga orang-orang sekarang beruntung dapat hidup di Aceh dalam indahnya Islam.

"Maka sudah selayaknya pula kita yang hidup dimasa kini berjuang sekuat tenaga untuk mewariskan Aceh yang terindah bagi generasi Aceh masa depan kelak, insya Allah," kata Cut Putri.[]

Ketua Yayasan Daruddunia Aceh, Cut Putri bersama perwakilan organisasi berbasis kebudayaan menjumpai Imam Besar Masjid Raya, Prof. Dr.Tgk. H. Azman Ismail, MA, di ruang kerjanya, Ahad, 14 April 2019. @Thayeb Loh Angen

Baca juga: 4 April 146 Tahun Lalu, di Sini Perwira Aceh Menembak Tewas Jendral Kohler Belanda

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.