18 December 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Foto Khanduri Tamat Quran dan Cerita Tentang Paloh Dayah

...

  • THAYEB LOH ANGEN
  • 19 June 2017 12:00 WIB

@Lodins LA
@Lodins LA
@Lodins LA
@Lodins LA
@Lodins LA

KHANDURI Tamat Quran (kenduri manamatkan Alquran) merupakan sebuah acara bersuykur setelah menamatkan membaca kitab suci Alquran sampai tamat. Aceh, di bulan suci Ramadan, memiliki sebuah budaya tadarus (membaca Alquran) secara bersama di meunasah dari usai tarawih sampai jelang sahur.

Kaum muslimin dari remaja sampai dewasa membaca Alquran secara sambung-menyambung (meucok-cok ayat). Hampir seluruh gampong di Aceh memiliki budaya ini.

Di salah satu gampong di Aceh, Paloh Dayah, yang terletak di Mukim Paloh Timu, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, pada tahun 2017 atau 1438 H ini, melaksanakan Khanduri Tamat Quran pada hari Ahad, 18 Juni 2017.

Acara tersebut berlangsung setiap tahun dengan agenda mata acara yang serupa. Para pejabat gampong membentuk kepanitiaan. Panitia menyiapkan gulai kambing atau lembu, memasak nasi, dan mengundang anak yatim ke meunasah untuk makan bersama disertai sedikit hadiah untuk hari raya. Seluruh belanja untuk melakukan itu merupakan hasil kumpulan sedekah masyarakat selama bulan Ramadan.

Tentang Paloh Dayah

Paloh Dayah atau sering disebut juga Mns (Meunasah/meulasah) Dayah merupakan sebuah gampong yang memiliki dua dusun, Dusun A dan Dusun B. Paloh Dayah memiliki luas sekira 502 hektar, yang sebagian besar wilayahnya merupakan bebukitan, selebihnya persawahan. Orang-orang akan sulit menemukan gampong ini, karena letaknya terpencil dalam palungan bukit.

Seluruh batasnya dengan gampong sekeliling adalah bukit, dan sawah. Gampong ini berbatas dengan Gampong Meunasah Meuria (Paloh Meuria atau Meulasah Sukon) di sebelah utara dan barat. Di selatan berbatasan dengan Paloh Punti, di timur berbatasan dengan Paya Bili, di utara timur berbatasan dengan Blang Panyang (bukit yang ada goa Jepang).

Tidak ada jalan tembus secara alami ke Paloh Dayah. Untuk sampai ke Paloh Dayah, dari jalan raya Simpang 4 Paloh, orang harus memasuki Paloh Meuria, melewati jalan Teungku Chik Di Paloh dari arah utara, dan mendaki sebuah bukit bersemak belukar dari arah barat, Cot Pinto Karoe, atau melintasi persawahan dari arah utaranya. Itu ke dusun A yang terletak di barat.

Sementara untuk ke dusun B yang terletak di timur, orang harus melewati melewati jalan Teungku Chik Di Paloh dari arah utara di Paloh Meuria, lalu melintasi jalan di tepi persawahan dan bukit sekira satu kilometer. Jalan ini di sisi Cot Panggoi.

Satu lagi, orang dari arah selatan bisa masuk ke Paloh Dayah melalui Paloh Punti, melewati jalan Teungku Chik Di Paloh dari arah selatan, lalu masuk ke Cot Pinto Karoe di sebelah barat Paloh Dayah, jalan masuk yang sama dengan masuk melalui Paloh Meuria jika dari arah barat.

Sementara orang dari arah timur hanya bisa masuk ke Paloh Dayah melalui jalan yang kini sudah ditembuskan, dari dusun B ke Paya Bili. Ini adalah jalan berbatu yang kiri kanannya padang ilalang, tanaman, dan bukit karang.

Selain tiga jalan utama ini, orang bisa juga ke Paloh Dayah melalui jalan ladang di bebukitan, bukan jalan resmi dan hanya dilewati oleh petani, pemburu babi hutan, ata para penjaga keamanan di masa sebelum damai.

Gampong Paloh Dayah yang berpenduduk sekira seribu jiwa ini tidak memiliki dataran sebagaimana gampong lain. Orang-orang di sana membuat rumah di tebing bukit atau di atas sawah yang ditimbun. Gampong ini memiliki lapangan sepak bola karena anak muda di sana merupakan "penggila sepak bola". Lapangan itu merupakan sawah yang ditimbun.

Di Paloh Dayah ada situs bersejarah di perbatasan dengan Blang Panyang, goa Jepang atau Kurukrok Cot Panggoi. Namun tempat itu secara nama diklaim sebagai wilayah Gampong Blang Panyang.

Satu lagi, situs sejarah yang ada di sana adalah sebuah kolam, Kulam Teungku Chik di Paloh, atau kulam dayah. Kolam yang digali oleh Teungku Chik di Paloh ini bersegi empat sekira tujuh meter, masing-masing segi panjang lebar tujuh meter, dengan kedalaman sekira liam meter.

Kolam ini tidak pernah kering, ada sumber mata air besar di sudut tenggaranya, yang selalu ditutup dengan belanga besi supaya tidak meluap. Selain kolam, ada satu benda tinggalan Teungku Chik Di Paloh lagi di sana, yakni, sebuah meunasah yang kini dijadikan balai pengajian. Kolam dan Balai serupa jua ada di Gampong Cot Trieng, di sisi Paya Cot Trieng yang terkenal

Beberapa tahun lalu, sekira tahun 2009, beberapa orang pemuda di sana mengklaim Paloh Dayah sebagai Kota Budaya, tepatnya Kota Budaya Paloh Dayah. Isu ini pernah berkembang, dan kemudian, beberapa tahun setelahnya, sekira tahun 2014 di bus pariwisata Kota Lhokseumawe yang mengangkut pelajar mengunjungi makam bersama CISAH dan Mapesa, terlihat ditulis bus pariwisata "Kota Lhokseumawe Kota Budaya".[]

Tulisan: Thayeb Loh Angen
Foto-foto: Lodins LA

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.