16 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Indonesia Darurat Manuskrip Tinggalan Peradaban Islam

...

  • REPUBLIKA
  • 02 July 2018 15:30 WIB

Manuskrip sejarah Aceh. @Istimewa/bisnis.com
Manuskrip sejarah Aceh. @Istimewa/bisnis.com

JAKARTA -- Kementerian Agama menilai Indonesia mengalami darurat manuskrip keagamaan. Karena, manuskrip keagamaan peninggalan para ulama terdahulu yang jumlahnya sangat banyak tersebut masih berserakan di belahan Nusantara.

"Indonesia mengalami darurat manuskrip, naskah atau manuskrip keagamaan yang telah diselamatkan baru sedikit," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan dari Kemenag RI, Dr Muhammad Zain kepada Republika.co.id, kemarin.

Bahkan, menurut Zain, ada manuskrip atau naskah kuno peninggalan leluhur masyarakat Nusantara yang tersebar di berbagai negara. Hilangnya manuskrip karena diambil bangsa lain pada masa penjajahan. Ada juga yang hilang karena dijual oleh kolektor-kolektor.

Zain menilai Kemenag perlu mengupayakan secara serius untuk mendapatkan salinan digital semua manuskrip Indonesia, terutama yang terkait keagamaan (manuskrip keagamaan). Kemudian ditelaah kearifan lokal dan substansi di dalamnya serta dikontekstualisasikan pada masa saat ini.

Khusus menyelamatkan manuskrip keagamaan yang tersebar di bumi Nusantara, Zain mengatakan peneliti dari Kemenag menghadapi tantangan yang berbeda-beda. Setidaknya ada empat tipe orang yang memiliki atau menyimpan manuskrip kuno.

Tipe pertama, pemilik manuskrip yang menganggap manuskrip yang dimilikinya itu sangat sakral atau keramat. Karena dianggap sakral, manuskrip menjadi tidak sembarangan dibuka.

Ada pula pemilik manuskrip yang menganggap manuskrip miliknya adalah warisan. Karena dianggap warisan, manuskrip hanya disimpan untuk pribadi. "Ini tipe yang kedua," ungkapnya.

Tipe ketiga adalah pemilik manuskrip yang komersial. Dan, tipe keempat adalah pemilik manuskrip yang memahami manuskrip sebagai khazanah intelektual mengandung ilmu pengetahuan.

''Saat peneliti datang menemui tipe yang keempat ini, si pemilik manuskrip tersebut sangat terbuka dan tidak mengkomersialkannya,'' katanya. ''Jadi, kita menghadapi tipe-tipe orang tersebut dengan cara yang berbeda-beda.''

Sementara itu, dalam perjalanan tugasnya, Kemenag RI telah melakukan digitalisasi manuskrip keagamaan guna menyelamatkan manuskrip-manuskrip keagamaan yang tersebar di sejumlah wilayah.

''Sudah ada 2.500 manuskrip yang didigitalisasi, digitalisasi manuskrip dilakukan sejak tahun 2008," kata salah satu peneliti dari Puslitbang LKKMO Kemenag RI,  Dr Fakhriati kepada Republika.co.id, kemarin.

Kemenag juga akan membuat pusat kajian manuskrip keagamaan Nusantara. Sehingga, manuskrip bisa ditelaah kearifan lokal dan substansinya serta dikontekstualisasikan pada kondisi masa sekarang.

Fakhriati mengatakan, manuskrip yang telah didigitalisasi tersebut dimasukkan ke situs resmi Kemenag RI. Manuskrip yang ada di masyarakat, didigitalisasi yakni difoto dan dicatat. Setelah itu judul manuskrip, pengarang, bahasa, tulisan dan informasi lainnya dimasukkan ke situs Kemenag.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan dari Kemenag RI, Dr Muhammad Zain menyampaikan, digitalisasi manuskrip sebagai upaya penyelamatan. "Tujuannya menyelamatkan manuskrip, kalau bisa manuskrip dibawa. Kalau tidak bisa dibawa manuskripnya, dibuat bentuk digitalnya," ujarnya.

Ia menyampaikan, pihaknya tengah membuat naskah akademik pusat kajian manuskrip keagamaan Nusantara. Kemenag juga telah melakukan benchmarking ke beberapa negara seperti Turki, Mesir dan Iran. Di negara-negara tersebut, tim yang melakukan benchmarking mengunjungi lembaga yang melakukan penelitian dan preservasi manuskrip.

Menurutnya, hal ini dilakukan dalam rangka persiapan membangun pusat kajian manuskrip keagamaan Nusantara di Indonesia. Manuskrip-manuskrip tersebut sangat penting untuk menjadi rujukan atau referensi Islam Indonesia untuk dunia. ''Generasi sekarang perlu mengetahui manuskrip dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu, manuskrip harus diselamatkan,'' katanya.[]Sumber:republika

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.