24 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ini Kata Prof. Siti Zainon Ismail Tentang Pustaka Ali Hasjmy

...

  • PORTALSATU
  • 19 February 2019 21:20 WIB

Prof. Siti Zainon Ismail. Foto istimewa
Prof. Siti Zainon Ismail. Foto istimewa

BANDA ACEH - Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy (YPAH) genap berusia 28 tahun satu bulan empat hari pada 19 Februari 2019 ini setelah diresmikan oleh Mr. Agus Salim, 15 Januari 1991. YPAH atau Pustaka (Perpustakaan) Ali Hasjmy itu berada di Geuceu, Banda Aceh.

"Usia yang sudah cukup kukuh dengan himpunan buku-buku  melebihi 15.000 judul serta sejumlah naskah manuskrip," tulis Prof. Siti Zainon Ismail, Budayawan Malaysia, di dinding akun Facebook miliknya, 15 Februari 2019. Prof. Siti mengizinkan portalsatu.com mengutip penjelasannya itu.

Prof. Siti menulis hal itu menjelang dilaksanakan pra MoU Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dengan Perpustakaan Ali Hasjmy serta Badan Arsip dan Pustaka Aceh, yang dirangkai dengan Galeri Melora, di Kuala Lumpur, Selasa, 19 Februari (hari ini).

"Insya Allah atas izin-Nya juga semoga acara perbincangan kerja sama antara Waris Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy (YPAH) dengan Dewan Bahasa dan Pustaka dan sokongan Perpustakaan dan Arsip Aceh pada 19 Feb 2019 berjalan lancar. Sehingga jalinan ilmu ini dapat mengeratkan sejarah ilmu," tulisnya.

Prof. Siti pun teringat pertanyaan Prof. Ali Hasjmy. "Bagai terngiang suara bapak sebelum berdirinya yayasan ini: 'Bagaimana nasibnya kekayaan ini (buku-buku, naskah dan  koleksi budaya) setelah saya meninggal, akan dijual bagai barang loak atau dijual ‘dikilokan’ untuk menjadi pembungkus barang-barang dagangan?'"

"Keluhan ini rupanya bersambut hingga Prof. Dr. Ibrahim Hassan  sebagai Gubenur Kepala Daerah Istimewa Aceh... sehingga harta warisan ini diserah kuasa untuk tindakan Pemda. Malah Pemda juga membangun dan melengkap rumah keluarga sebagai Gedung Perpustakaan dan Muzium Warisan A. Hasjmy," tulis Prof. Siti.

Salah satu anak didik Ali Hasjmy itu melanjutkan, "Setahun sebelum bapak meninggal, beliau turut berpesan, 'Siti pulanglah selalu ke rumah buku ini.  Manfaatkanlah untuk kegunaan pelajar dan pengkaji Malaysia. Masih banyak manuskrip Aceh yang belum dibukukan.' Al-Fatihah".

Prof. Siti menjelaskan, hampir sepuluh tahun ia berulang datang, kondisi Pustaka Ali Hasjmy tampak semakin lengang. "Sehingga bila kunjungan 2017 saya undang beberapa mahasiswa Malaysia yang kuliah di Kampus Darussalam dan mereka terkejut (kaget) melihat, banyaknya himpunan tesis dan buku-buku. Saya pula terkejut bila mengatahui mereka tidak tahu ada YPAH di Banda Aceh," tulisnya. 

"Inilah puncanya kerana saya juga tidak mahu terlewat lagi agar buku-buku dan naskah-naskah perlu dipormosikan kembali ke wadah yang tepat. Maka Januari 2018 saya bawa usul ini kepada DBP untuk menjalin kembali kerja sama agar karya bapak perlu diulang cetak. Gayungpun bersambut," tulis Prof. Siti.

Menurut Prof. Siti, cadangan kerja ini disambut dengan ramah Dr. Wildan sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip mewakili Pemerintah Aceh.

"Ya Rabb hanya ini usaha kecil yang termampu dilaku mohon mendapat restu daripada semua ahli keluarga  anak dan bapak yang kini YPAH di bawah ketua  pimpinan putra sulung Drs. Mahdi A. Hasjmy," tulisnya.

"Selamat datang buat semua waris keluarga sehingga termaktub kerja sama pihak Sekretariat DBP juga akan  segera melakukan kunjugan untuk tindakan kerja sama berikutnya".

Prof. Siti mengajak para seniman, penyair umara dan ulama Aceh,  "marilah kita bergabung untuk kembali menceriakan rumah dan halaman Perpustakaan dan Muzium A. Hasjmy. Semoga Taman Budaya Aceh juga sudi terlibat dengan acara persembahahan seni budaya sebagaimana yang diberi perhatian oleh bapak sebagai mantan Ketua Adat  dan Kesenian Aceh," tulisnya.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.