16 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kata Moritza Thaher Soal Teater Hikayat Prang Sabi

...

  • Jamaluddin
  • 21 September 2018 23:00 WIB

Moritza Thaher. @istimewa
Moritza Thaher. @istimewa

BANDA ACEH - Moritza Thaher berharap setelah menyaksikan pagelaran Teater The Spirit of Aceh Adapted from Hikayat Prang Sabi, yang direncanakan digelar di Banda Aceh, pengujung tahun 2018, nantinya masyarakat harus memahami isi yang terkandung dari hikayat itu.

"Walaupun nanti pada pagelaran teater, orang yang datang dengan beragam kepentingan, namun saya berharap supaya maksud dan isi lebih berguna untuk dihayati," kata Moritza Taher akrab disapa Momo, yang merupakan penata musik The Spirit of Aceh Adapted from Hikayat Prang Sabi, ditemui portalsatu.com, di sela-sela mengajar di Sekolah Musik Moritza Thaher Banda Aceh, Jumat, 21 September 2018.

Baca juga: Rencana Yusuf Bombang Gelar Teater Hikayat Prang Sabi

Moritza Taher menyebutkan, ide menggelar Teater Hikayat Prang Sabi ini sudah ada sejak tahun 2002, dan itu tidak semata-mata sebagai hikayat. Ia dan Muhammad Yusuf  Bombang sejak saat itu sering membahas tentang hikayat, terutama tentang bagaimana supaya disukai kaum muda.

"Kita buat bentuk lain tetapi isinya tetap hikayat," kata Moritza kepada Yusuf saat itu.

Soal musik yang mengiringi saat pertunjukan Teater Hikayat Prang Sabi nanti, Moritza berencana  menyesuaikannya dengan nuansa musik tradisi, yang bisa memberi nuansa seakan pendengar hadir langsung di zaman itu, dan musik latar akan dibangun dengan sound sampling.

"Kadang-kadang nanti ada yang mengikuti irama, dan ada yang mengikuti suasana, seperti saat menceritakan di pasar, itu bagaimana," kata Moritza.

Walau pertunjukan teater baru bisa terwujud di akhir 2018, ia optimis di masa akan datang karya ini bisa dipentaskan di panggung internasional, karena isinya akan bisa menjadi konsumsi dunia.

"Ini untuk menyejajarkan budaya kita dengan orang lain," kata Moritza.

Pria yang pernah terlibat dalam mengaransemen lagu-lagu di album Nyawong, dan lagu Rafli di album Hasan-Husen itu, berharap para pemuda Aceh terus bekarya, dan bisa mengalahkan godaan rasa bosan dan berhenti.

Moritza mencontohkan, Yusuf Bombang yang punya minat tinggi terhadap hikayat bisa memengaruhi orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk ikut mencintai hikayat. Moritza pun selalu mendukung apa saja ide Yusuf dalam hal seni budaya.

Kembali ke masa sebelum tsunami, tepatnya saat-saat awal mulai mencoba mewujudkan ide-ide tentang memajukan hikayat, ia membuat rekaman lagu-lagu anak muda dengan vokal versi hikayat, sementara Yusuf membacakan Hiem di radio-radio.

"Namun sayangnya saat tsunami kaset yang berisi suara hikayat oleh Yusuf, rekaman itu hilang bersama lima album penting lainnya," kata Moritza.[]

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.