13 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mencari Dana Penebus Aset Sastra Aceh di Tanah Jawa

...

  • portalsatu.com
  • 03 October 2019 08:00 WIB

T.A. Sakti di Balee Beuet Harah Jawiy Bahasa Aceh, di halaman rumahnya, Darussalam, Banda Aceh, Ahad, 7 April 2019. @Istimewa
T.A. Sakti di Balee Beuet Harah Jawiy Bahasa Aceh, di halaman rumahnya, Darussalam, Banda Aceh, Ahad, 7 April 2019. @Istimewa

Enam puluh satu tahun yang lalu, A. Hasjmy selaku Gubernur Aceh pernah mengatakan, bahwa: “Saya telah mengunjungi beberapa daerah di Indonesia; di mana saya lihat suku-suku bangsa itu tidak menyia-nyiakan kebudayaaannya, selain suku kitalah telah menyia-nyiakan kebudayaannya. Padahal di masa yang lampau Aceh cukup mempunyai kebudayaan yang tinggi” (baca: buku “Gadjah Putih” karangan M. Junus Djamil halaman 21. Bagian kutipan di atas telah saya ubah sesuai EYD).
Pernyataan itu diucapkan Gubernur Aceh A. Hasjmy ketika meresmikan Pekan Kebudayaan Aceh Pertama (PKA I) pada hari Selasa, 12 Agustus 1958.

Apakah masyarakat Aceh sekarang masih tetap menyia-nyiakan kebudayaanya ?, entahlah. Jawaban pasti memang belum dapat diberikan, karena belum ada penelitian khusus tentang hal itu. Meski belum ada jawaban pasti yang dapat meyakinkan, kita bisa mengatakan bahwa apa yang diucapkan A. Hasjmy itu masih berlangsung hingga sekarang; setelah lebih  60 tahun berlalu. 
Alasannya, lihatlah betapa khazanah ‘budaya Aceh’ tercerai berai tidak terpelihara dengan baik. Coba saja cari karangan-karangan almarhum Abdullah Arif, MA, almarhum Drs. Araby Ahmad, bahkan karya-karya Syeh Rih Krueng Raya yang meninggal pada tahun 1997. Masih adakah di Toko-toko Buku atau di pustaka-pustaka di Aceh?. Saya yakin tak ada lagi!. Malah, kalau karya-karya Tgk Abdullah Arif lebih banyak dipelihara/disimpan di Perpustakaan Islam Yogyakarta.

Perkiraan ini semakin diperkuat dengan menyimak kata sambutan Wakil Gubernur Aceh Zainuddin AG pada peresmian Napak Tilas di Meureudu, Pidie  beberapa tahun  lalu (baca : Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh, Rabu, 29 Maret 1995 halaman 2).
Dengan judul berita: “Jika tak peduli, Kebudayaan Aceh bakal terancam Punah”, Hr. Serambi Indonesia menguraikan ucapan Wakil Gubernur Aceh itu sebagai berikut : “Karena sangat minim pakar sejarah, apalagi yang mau menggali sekaligus menulis tentang persejarahan di Aceh, Wakil Gubernur Zainuddin mengkhawatirkan bakal terjadi “abrasi” terhadap kebudayaan yang merupakan jatidiri masyarakat suatu daerah”.

Apabila hasil pengamatan A.Hasjmy disandingkan dengan isi ucapan Wakil Gubernur Aceh saat itu, memberi kesan kepada kita bahwa masyarakat Aceh memang kurang mencintai budaya daerahnya. Kenyataan ini juga makin diyakinkan dengan macetnya pendidikan/pelajaran Muatan Lokal di tingkat sekolah SD, SMP dan SLTA di daerah Aceh (baca ; “Akibat Ketiadaan Dana Pengadaan Buku Materi Muatan Lokal Macet”, Hr. Serambi Indonesia, 1 November 1996 halaman 1).

Bukti lain yang ikut membenarkan hasil pengamatan A.Hasjmy adalah tidak pernah adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk menebus kembali asset kesusastraan Aceh yang hilang. Benda budaya ini berupa 600 judul naskah hikayat yang telah dialihkan hurufnya dari aksara Arab Melayu ke huruf Latin. Upaya alih aksara sebanyak 600 (enam ratus) judul hikayat tentu merupakan pekerjaan besar. Tetapi, demi mulusnya penaklukan Aceh,  Pemerintah Belanda telah melaksanakannya dengan menghabiskan dana yang cukup besar. Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh telah berkali-kali mendorong para pemimpin Aceh untuk membeli kembali “Benda Budaya Aceh” itu, namun tak pernah mendapat sambutan. Terakhir kali, hal serupa juga disampaikan lagi oleh Prof. Dr. Aboebakar Atjeh, yaitu pada konferensi kebudayaan Aceh II atau Pekan Kebudayaan Aceh II (PKA II) tahun 1972, “agar collectie Hikayat-hikayat Aceh dengan huruf Latin itu dibeli oleh Pemerintah  Aceh dan dipelihara.” (Lihat buku : Aceh dalam sejarah kebudayaan Sastra & kesenian oleh : Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh, halaman 21). 

 Hikayat-hikayat itu, semula adalah milik Dr. Hoesein Djajadiningrat yang pernah tinggal di Aceh untuk melanjutkan penelitian C. Snouck Hurgronje. Ketika masa tugasnya selesai,  semua Hikayat Aceh itu dibawa pulang ke Batavia (Jakarta). Setelah ia meninggal, kumpulan naskah hikayat ini dibeli oleh Mr. Muhammad Djamin yang pernah menjabat Menteri Pendidikan RI dan dijadikan koleksi pustaka pribadinya.
Beberapa waktu lalu,  hikayat-hikayat itu berada di Perpustakaan Pertamina, Jakarta (baca ; Nab Bahany As “Bagaimana memperoleh asset kesusastraan Aceh yang hilang”, Serambi Indonesia, 31 Juli 1994 halaman 4). Sejumlah naskah memang pernah “ditebus” oleh Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Banda Aceh ketika dipimpin Drs.  Adnan Hanafiah. Ratusan judul naskah hikayat Aceh lainnya, mungkin  masih di sana. Kalau Pemerintah Aceh tak mau peduli; Siapakah putra Aceh yang mampu menebusnya kembali?.[]

Penulis: T.A. Sakti, Budaywaan Aceh.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.