26 September 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mengaji dan Mengkaji

...

  • SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN
  • 31 December 2017 14:20 WIB

Alquran
Alquran

Banyak dari kita relatif sudah mengenal baik "kaidah kpst" dalam bahasa Indonesia. Tapi, rasanya selalu masih ada saja yang luput dari pencerapan kita. Ada paradoks di sana, semakin dekat kita mengenalnya justru semakin kita disergap bingung.

Berkenaan dengan "kaidah kpst" tadi, ada satu pertanyaan sederhana: mengaji atau mengkaji?

Huruf /k/ di awal sebuah kata, menurut kaidah yang sudah kita kenal baik itu, akan melesap manakala mendapat awalan /me-/ dan /pe-/. Kenal-mengenalpengenalkapur-mengapurpengapurankunci-menguncipengunci. Kenapa bisa ada kaji-mengkajipengkajian, yang hidup berdampingan dengan mengajipengajian?

Kata kaji berimbuhan yang mengingkari kaidah, mengkajipengkajian, mulai banyak dipakai sejak sekitar awal 1974, yaitu setelah terbentuknya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Di ranah keilmuan, penutur bahasa Indonesia pun seperti mendapat berkah dengan kehadiran kata "baru" itu.

Mereka tidak perlu lagi merasa kekok manakala ada tuntutan menggunakan kata-kata seperti mengaji atau pengajian di dalam pekerjaan yang bertaut dengan dunia keilmuan. Kekok, sebab merasa kurang patut memakai kata yang biasa beredar dalam wacana keagamaan (Islam) itu.

Tak perlu kekok lagi, sebab sudah ada kata pengganti, yang netral dan tak kurang jitu mewakili konsep yang digambarkan, yaitu mengkaji atau pengkajian.

Ada yang berpendapat, mengkaji (dan pengkajian) adalah bentuk perkecualian. Kalau kita tengok sedikit lebih teliti, sebenarnya pendapat itu kurang tepat benar. Sebab, perkecualian tak lain berarti membolehkan satu hal, dan pada saat yang sama melarang hal lainnya.

Kata punya berawalan /me-/ yang seharusnya jadi memunyai, kita tahu sama sekali tak berlaku, karena yang kita kenal adalah bentuk mempunyai. Inilah yang lebih tepat kita sebut perkecualian: mempunyai yang terpakai, sedang memunyai yang taat pada kaidah malah tersingkir.

Keberatan menyebut mengkaji sebagai perkecualian, jelas karena kata itu tidak serta-merta meniadakan bentuk mengaji. Malah kedua bentukan dari kata kaji ini, mengaji-mengkajipengajian-pengkajian, subur pemakaiannya, di ranah yang berbeda.

Jadi, tak perlu kita menjadi nanar alias bingung. Membolehkan pemakaian bentuk menyimpang mengkaji adalah keputusan politik yang tidak lagi memperhitungkan hukum-hukum di dalam bahasa.

Atau ada yang punya pikiran di dalam berbahasa mengganti dengan begitu saja mengkaji jadi mengajipengkajian jadi pengajian atau sebaliknya?

Sumber: beritagar.id

Editor: SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.