21 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


MPA Gelar Diskusi Sejarah di Museum Mapesa

...

  • portalsatu.com
  • 04 September 2019 12:00 WIB

Acara Majelis Silaturrahmi Penggiat Sejarah dan Budaya Aceh - Malaysia di sekretariat bersama Mapesa dan Pedir Museum, Punge Blang Cut, Banda Aceh, Selasa 3 September 2019. @Jamaluddin
Acara Majelis Silaturrahmi Penggiat Sejarah dan Budaya Aceh - Malaysia di sekretariat bersama Mapesa dan Pedir Museum, Punge Blang Cut, Banda Aceh, Selasa 3 September 2019. @Jamaluddin

Banda Aceh - Majelis Pariwisata Aceh (MPA) berkolaborasi dengan komunitas penggiat sejarah lainnya seperti Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Pedir Museum, Sicupak, Hikmah (Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman ) Malaysia mengadakan acara dengan tajuk " Majelis Silaturrahim Penggiat Sejarah dan Budaya Aceh - Malaysia" pada Selasa (3/9) di sekretariat bersama Mapesa dan Pedir Museum, Punge Blang Cut, Kota Banda Aceh.

Acara diisi oleh penggiat sejarah dari Malaysia, Mohd. Fahrul Radzi Mohammad Sapiee yang merupakan Presiden Hikmah dan Penulis buku berpetualang ke Aceh. 

Beliau menyampaikan materi tentang Jejak Aceh di Semenanjung Tanah Melayu Masykur Syafruddin, Direktur Pedir Museum dengan judul materi "Nisan, Manuskrip dan Numismatik sebagai Sumber Penulisan Sejarah Aceh". 

Sejumlah penggiat sejarah dan budaya lainnya seperti Tarmizi A Hamid dan Ayah Panton juga turut hadir dalam acara yang penuh kehangatan dan persaudaraan ini.

Radzi Sapiee menyampaikan, hubungan Aceh dan Malaysia telah terbina sejak ratusan tahun silam. Di antaranya terbukti dengan ditemukannya nisan -nisan khas Aceh yang berusia ratusan Tahun diberbagai wilayah di Malaysia.

"Dan jika dilihat dari arus perjalanan pelaut Arab ke nusantara, wilayah pertama yang dilalui di nusantara adalah Aceh. Maka Aceh adalah wilayah pertama yang dilalui dalam misi penyebaran Islam di nusantara. Jika dilihat dari peta, tidak mungkin sampai ke Barus terlebih dahulu. Walaupun bukti artefak Islam yang dinyatalan tertua ditemukan di Barus, ini tidak berarti di Aceh tidak ada artefak yang lebih tua dari Barus. Saya yakin banyak artefak Aceh yang lebih tua, saat ini belum ditemukan dan kita melihat sejarah bukan  dengan artefak sahaja, tapi juga dengan berbagai bukti lain," kata Radzi Sapiee yang pernah mengenyam pendidikan Sarjana bidang Matematika di Universitas terkemuka di London Inggris.

Sedangkan Masykur Syafruddin, seorang kolektor muda mengupas hasil koleksinya terutama koleksi koin kuno. Koin kuno koleksi tertua yang dimiliki oleh Pedir Museum dan ditemukan di Aceh adalah koin era khalifah Abbasiyah yang ditemukan di Pasai, dicetak di Samarkand pada 202 tahun hijriah, 1200 tahun lalu.

"Kami juga menemukan koin mata uang Italia ( 1575 ), mata uang perak dari Romawi timur, Byzantium abad ke 12 yang ditemukan Juli 2016, koin masa Sultan Delhi, Muhammad bin Tughlaq, dan yang termasuk langka adalah koin masa kesultanan Utsmani, Sultan Suleyman Al Kanuni, sang penguasa dua pertiga dunia, ditemukan di pidie 2016. Sayangnya koin-koin langka ini tidak dimiliki oleh Museum Aceh dan saya mendata ada 7000 keping koin yang ditemukan beberapa tahun lalu ditemukan di Gampong Pande, tidak tahu dijual kemana. Bahkan koin-koin masa Turki Utsmani sampai saat ini tidak berhasil diselamatkan dan dimiliki oleh pemerintah. Semoga kajian Numismatik terus dilanjutkan oleh teman-teman yang lain. Sejarah Aceh saat ini terus tergerus karena minim yang peduli," harap Masykur yang masih berstatus mahasiswa Program Sejarah Kebudayaan Islam di UIN Arraniry.

Kegiatan ini diharapkan dapat membuka kembali cahaya ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang sejarah dan budaya Aceh.

Mujiburrizal selaku koordinator acara mengatakan, untuk lebih memperkenalkan diantara Jejak Tamaddun Islam Aceh yang dapat dilihat di Museum Pedir dan Mapesa kepada masyarakat. Ke depan acara kajian peradaban ini semoga dapat diselenggarakan sebulan sekali di sekretariat bersama Mapesa dan Pedir Museum yang kini memiliki lebih 1000 koleksi benda bersejarah yang sekaligus juga sebagai daya tarik pariwisata Aceh di Dunia Internasional.[] Rilis

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.