20 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Orang Rusia Semangat Mendengar Rapa'i Aceh

...

  • Jamaluddin
  • 10 October 2018 08:23 WIB

Teuku Rafsanjani
Teuku Rafsanjani

BANDA ACEH - Seniman Rapa'i Geleng Aceh, Teuku Rafsanjani, mengatakan orang Rusia sangat menyukai rapa'i.

"Sedikit pengalaman, saat 2016 kami ikut lomba di Saint Petersburg, Rusia, dengan membawa tarian Ratoh Jaroe dan juga penampilan Rapa'i Geleng, respons penonton international luar biasa meriah. Dari itu kita menyadari bahwa tarian yang menggunakan rapa'i ini punya power luar biasa untuk ditampilkan," kata Rafsan, Selasa, 9 Oktober 2018.

Rapa'i, menurut Rafsan, tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan orang Aceh. Sejak dahulu sampai sekarang, rapa'i menjadi media dalam penyampaian pesan-pesan kebaikan dan juga hiburan yang positif bagi masyarakat. 

"Terlebih kalau kita lihat di gampong-gampong, rapa'i yang begitu besar suaranya bukan mengganggu orang, tapi anak-anak saja bisa tidur dengan rapa'i itu, begitulah nikmatnya suara rapa'i bagi yang menikmati," katanya.

Rafsan menambahkan, eksistensi rapa'i sangat perlu dilakukan agar terkenal di mata dunia. Jika Ratoh Jaroe dan Saman bisa dilakukan, kenapa pemerintah atau pihak swasta tidak melakukan hal yang sama untuk rapa'i.

"Tarian poco-poco di Jakarta saja dilakukan tarian massal, masak iya kita sama rapa'i enggak melakukan," katanya.

Rafsan mengatakan, sangat baik bila di Aceh diadakan event rapa'i yang ditarikan oleh ribuan orang.

"Jangan sampai seperti pengalaman kami dulu waktu ke Rusia, yang harusnya kami bawa rapa'i ukuran besar tapi harus bawa ukuran kecil yang bisa masuk koper, dikarenakan ada informasi bahwa tidak boleh masuk ke Rusia, sehingga terpaksa mengiringi Ratoeh Jaroe dengan rapa'i keci," kata Rafsan.

Rafsan menegaskan, perlu melestarikan kembali rapa'i ini dengan berbagai cara, salah satunya dengan membina sanggar-sanggar rapa'i di gampong-gampong.

Saat ini para pengrajin rapa'i semakin berkurang. Oleh sebab itu, Rafsan melihat penting dan sudah saatnya pemerintah bersedia membuat satu sentral produksi rapa'i terkemuka di tingkat provinsi, apakah di bawah Disbudpar atau MAA.

"Jika tidak, dikhawatirkan akan masuknya kesenian luar mengikis eksistensi rapa'i. Dengan demikian maka perlu dibatasi hal tersebut, sehingga masyarakat tetap menampilkan rapa'i di event-event yang ada, termasuk acara pemerintah, swasta, bahkan orang nikah, seperti di wilayah barat selatan lazimnya".

Dosen yang aktif mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Serambi Mekkah itu, selain pernah tampil di Rusia pada tahun 2016, juga ke Austria dan Republik Ceko pada 2017. Selain itu, selama di Semarang dan Yogyakarta, Rafsan telah membentuk dan membina beberapa tarian Aceh, sekitar 12 sanggar.

"Pemuda-pemudi Aceh jangan merasa minder untuk menjadikan tarian Aceh khususnya yang ada hubungan dengan Rapa'i sebagai hobinya, jika pemuda semakin giat melstarikan seni, maka akan semakin panjang masa eksistensi seni tersebut," jelas pemuda asal Nagan Raya itu.[]

Editor: Arman


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.