29 September 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Para Hadirin dan Para Ulama, Benarkah?

...

  • SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN
  • 08 August 2017 10:30 WIB

Bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk jamak dan tunggal seperti dalam bahasa Inggris. Namun, pada kenyataannya orang sering menggu­nakan ung­kap­an para hadirin itu.

Di dalam bahasa Indonesia untuk me­nyatakan pengertian jamak itu digunakan bentuk perulangan, kata bilangan atau bentuk kata yang menyatakan pe­ngertian jamak.

Ambillah con­toh kata lagu dan penyanyi. Kedua kata itu mempunyai pengertian yang netral sebelum digunakan di dalam kalimat. Namun, jika kedua kata itu diubah menjadi lagu-lagu dan penyanyi-penyanyi atau banyak lagu dan banyak penyanyi, pengertiannya menjadi jamak.

Kata para adalah salah satu bentuk kata yang dapat digunakan untuk me­nyatakan pengertian jamak, misalnya, para wakil rakyat, para menteri, dan para duta besar. Persoalan kemudian muncul apabila kata para disandingkan dengan kata hadirin seperti pada topik bahasan ini.

Penggu­naan ungkapan para hadirin oleh sebagian pengguna bahasa Indonesia di­anggap berlebihan karena secara implisit kata hadirin sudah menunjukkan makna jamak sebagaimana makna bentuk aslinya. Namun, pada kenyata­an yang sebenarnya, sesuai dengan kodrat bahasa Indonesia, kata-kata serapan asing, seperti hadirin, ulama, data, dan alumni, yang di dalam bahasa asalnya merupakan bentuk jamak, di dalam bahasa Indonesia diperlakukan sebagai bentuk netral, seperti terlihat pada contoh kalimat berikut:

(1) Salah seorang hadirin mempertanyakan masalah itu. (bermakna tunggal)

(2) Hadirin kami mohon berdiri. (bermakna jamak)

Penyerapan kata ulama mirip dengan penyerapan kata hadirin. Di da­lam bahasa asalnya, kata ulama adalah bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggal­nya adalah alim.

Kata ulama itu di dalam bahasa Indonesia diperlakukan secara netral. Contoh:

(3) Selain sebagai pengarang, dia dikenal juga sebagai seorang ulama besar.

(4) Ulama se-Jawa Barat sepakat untuk memerangi penyalahgunaan nar­koba secara bersama-sama.

Kata ulama pada kalimat (1) mengandung pengertian tunggal, sedangkan pada kalimat (2) mengandung pengertian jamak. Sementara itu kata alim di­serap ke dalam bahasa Indonesia dengan arti 'orang yang sa­leh atau tidak nakal'.

Berdasarkan uraian itu dapat dinyatakan bahwa kata hadirin dan ulama di dalam bahasa Indonesia dapat mengandung pengertian tunggal dan dapat pula mengandung pengertian jamak sesuai dengan konteks kali­matnya. Oleh karena itu, pemakaian kata para hadirin tidak dapat dika­takan mubazir seperti halnya para ulama. Demikian juga banyak data.[]

Editor: SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.