24 September 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pelakor

...

  • SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN
  • 09 March 2018 14:40 WIB

@kapanlagi.com
@kapanlagi.com

Dalam hal kemiripan kata, pemilihan kata pelakor itu punya maksud sindiran.

Akronim pelakor menyeruak lagi dalam seminggu. Kemunculannya heboh karena banyak yang ingin tahu. Cemooh kepada pelaku datang tanpa ragu-ragu walaupun ada yang terharu. Dari segi kesemantisan, pelakor tentu menjadi objek kajian baru. Selama ini, bila kita disadari, akronim banyak terbentuk dari unsur kata dasar. Sebagai bukti, cermatilah akronim alkes, cabor, rudal, ataupun sembako. Unsur pembentukan alkes bersumber dari kata alat kesehatan. Kedua kata pembentuk akronim itu merupakan kata dasar, belum mendapatkan imbuhan apa pun.

Begitu pun cabor (cabang olahraga), rudal (peluru kendali), ataupun sembako (sembilan bahan pokok) tak satu pun deret kata itu terbentuk dari kombinasi imbuhan. Sebaliknya, pelakor terbentuk dari kata perebut, yang notabene dari unsur peN- + rebut. Kombinasi itu bukan lagi unsur dasar. Akronim seperti itu pun satu-satunya merujuk kata ganti orang.

Hal lain yang menarik dari pelakor ialah perubahan arah stimulus dan respons. Selama ini urusan perselingkuhan dipersepsi sebagai kelakuan nakal lelaki. Lelaki dianggap pengirim sebab atau pencetus stimulus. Relasi makna seperti itu memunculkan stigma buruk kepada lelaki. Tak jarang lelaki dijuluki sebagai ‘hidung belang’ atau ‘buaya darat’. Pun muncul juga label lelaki sebagai ‘kucing garong’.

Sebaliknya, dalam hubungan stimulus-respons di atas, perempuan sebagai pasangan selingkuh dipersepsikan pasif: korban rayuan. Terkadang pula dibela sebagai makhluk tidak berdaya. Tak banyak julukan negatif yang diarahkan kepada perempuan dalam relasi itu. Sosial-bahasa tidak ada yang menyebut wanita sebagai hidung belang. Akan tetapi, tetap disebut indah sebagai kupu-kupu (malam).

Dalam konteks pelakor, persepsi relasi perselingkuhan dimaknai berbeda. Terbalik maknanya dan diubah arah stimulus-responsnya. Kata perebut yang dilekatkan pada awal akronim itu memberi pesan bahwa yang aktif ialah perempuan. Lelaki sebagai lawan selingkuh hanya distigma pasif dan menjadi objek rebutan. Benarkah demikian?

Perubahan arah relasi makna di atas menunjukkan bahwa relasi bahasa dan budaya di masyarakat pun berubah. Lelaki yang ditampilkan sebagai pengirim stimulus aktif berubah menjadi perespons pasif. Sebaliknya, perempuan dipersepsikan memiliki agresivitas dan antusias.

Analisis terakhir dari pelakor ialah urusan lapis makna. Pemilihan kata laki, di samping kata suami atau tuan, tentu saja menunjukkan lapis makna paling rendah, kampungan, dan buruk. Kata laki tak sederajat dengan kata suami. Artinya yang dilekatkan pun berubah hinaan.

Dalam hal kemiripan kata, pemilihan kata pelakor itu punya maksud sindiran. Bunyi /or/ di akhir akronim dimiripkan dengan bunyi /-ur/ pada kata pelacur. Walaupun secara vokal jelas berbeda, pelesetan ini tetap saja bernuansa sindiran. Padahal, kata pelacur ini sudah jauh dikubur karena teramat kotor. Kata itu pun disamarkan dengan sebuatan WTS dan PSK. Tentu saja beda nama, tetapi kelakuan serupa![]

Sumber: mediaindonesia.com

Editor: SAFRIANDI A. ROSMANUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.