25 February 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pengalaman Budayawan TA Sakti: Lika–liku Upaya Menyalin Kitab Rahmat

...

  • portalsatu.com
  • 26 January 2020 15:30 WIB

T.A. Sakti di Balee Beuet Harah Jawiy Bahasa Aceh, di halaman rumahnya, Darussalam, Banda Aceh, Ahad, 7 April 2019. @Istimewa
T.A. Sakti di Balee Beuet Harah Jawiy Bahasa Aceh, di halaman rumahnya, Darussalam, Banda Aceh, Ahad, 7 April 2019. @Istimewa

*Catatan: T.A. Sakti, Budayawan Aceh.

Kitabur Rahmah

         Hari ini Jum’at, 24 Ramadhan 1431 H/3 September 2010 pukul 11.38 Wib., saya mulai menuliskan  kata pengantar menyambut penyalinan Kitabur Rahmah Fit Thib Wal Hikmah yang akan saya lakukan pada masa-masa selanjutnya – Insya Allah – sampai tamat.

Sebenarnya, semula saya berniat melakukan transliterasi naskah Kitab Masailal Auwaliyah (Aceh: Masailai Meunadham)  karya Tgk. Abdullah Arief, MA pada bulan puasa tahun ini, tetapi karena naskah tak  saya jumpai maka rencana itu jadi batal.

          Usaha pencarian dengan sungguh-sungguh telah saya lakukan. Hampir semua buku di dua lemari, satu tong, satu kotak terbuka telah saya bolak-balik, namun naskah tipis salinan tangan saya sendiri di tahun 1972 – atas anjuran Ibunda saya  --  itu tak berhasil ditemukan.

Lalu, saya sms Dr. Salmawaty Arif, ananda Tgk. Abdullah Arief, MA bertanyakan naskah tersebut. Beliau pun belum tahu -- kitab yang dikarang sang ayahanda sewaktu berumur 17 tahun dan dicetak di Pulo Pinang tahun 1948 – berada di mana naskah itu sekarang. Saat jawaban sms itu saya terima; hari-hari puasa telah berjalan 14 hari.

Sedari awal, di saat sedang mencari-cari kitab Masailai Meunadham, saya sudah berpikir untuk menyalin “Kitabur Rahmah” sekiranya kitab itu benar-benar tak  ketemu.  Hanya saja, setelah upaya pencarian dihentikankan,  saya pun belum mampu  “menggerakkan batin” guna terus menyalin  ‘kitab rahmat’ itu.

 Perasaan – kalah sebelum bertempur – benar-benar melilit pikiran saya.  Beban pikiran yang mengganjal adalah: penyalinan kitab itu tidak mungkin selesai, karena amat tebalnya. Kitab karya terjemahan Syekh Abbas Kuta Karang memang tebal, yaitu 226  halaman.

Beliau sendiri menterjemahkan kitab itu dari bahasa  Arab ke bahasa Melayu memakan  waktu empat (4 ) tahun, yakni dari tahun 1266 s/d 1270 H.

Beberapa waktu setelah memiliki fotokopy kitab itu, yakni sebelum peristiwa tsunami Aceh, Ahad, 26 Desember 2004; saya memang pernah berencana menyalin “Kitabur Rahmah”.

Beberapa persiapan sudah diadakan. Banyak istilah,  jenis  penyakit, nama obat, nama tanaman obat, bahan obat, dan butir-butir penting lainnya dalam  ” kitab kedokteran dan kesehatan” itu  telah saya beri tanda dengan stabilo warna merah, kuning dan hijau.

Begitu pula dengan urutan bab, pasal, dan urutan halaman yang meragukan sambungannya juga sudah diperjelas.

Namun demikian, karena melihat begitu tebal naskahnya, saya pun mencari pendorong alias sponsor  terlebih dahulu. Pikiran saya membisik, “biarlah naskah-naskah lain saya kerjakan dengan “ie babah puteh”(air liur putih/jerih payah sendiri) semata.

Tapi buat naskah ‘ilmu kedokteran dan kesehatan’ itu perlulah ada dukungan dananya. Lalu, saya pun menyurati WHO Perwakilan Jakarta. Dalam surat balasannya, saya diminta mengajak lembaga resmi negara, agar bantuan dana dapat diberikan. 

Pertama-tama, saya menjumpai Dekan Fakultas Kedokteran ( FK ) Unsyiah di ‘lantai  atas’ fakultas itu. Dekan FK  tidak  mau  memberikan surat dukungan yang saya minta.

 Kemudian, dengan dibonceng Honda seorang teman, saya ke Kanwil  Kesehatan Propinsi Aceh. Karena pimpinan kantor pemerintah itu sedang ke Jakarta,padamlah rencana hari itu.

 Sekitar tahun 2008 niat serupa tergerak lagi. Dengan ditemani tukang ojeg/RBT, saya bermaksud menjumpai Dekan FK  Unsyiah, yang telah menggantikan dekan dulu itu. Karena beliau asli Aceh, saya lebih berharap akan  ada hasilnya.

Segala keperluan sudah saya siapkan. Selain naskah ‘Kitabur Rahmah’,  tulisan saya ( judulnya:  Setelah FK Unsyiah 20 Tahun: ...) yang  menanggapi tulisan bapak tersebut di Serambi Indonesia – sewaktu ia masih sebagai Pembantu Dekan I -  juga ikut mengisi tas saya.

Setelah bertanya ke sana-sini, tahulah saya kantor Dekan FK  di lantai dua. Langsung  saya bersama Pak RBT menuju tangga. Menyaksikan tangga yang tinggi meliuk-liuk itu, timbullah rasa ngeri di hati. Kami pulang, maka batal lagi rencana  saya.

Sebenarnya, tangga itu pernah saya lalui beberapa tahun lalu, ketika saya menjumpai Dekan FK yang  sudah mantan itu. Tapi, kaki saya yang patah sudah semakin ‘tua’ pada tahun 2008.

Paling akhir, di bulan Juni 2010 naskah ‘Kitabur Rahmah’ pernah pula saya bawa ke kompleks FK Unsyiah, yakni di kantinnya. Hari itu, saya ingin menjumpai seorang mahasiswa FK senior yang sudah tahap koas yang belum saya kenal.

Bersama tukang ojeg/RBT lebih satu jam saya menunggu di kantin. Barulah pada pencarian kali kedua – dengan RBT lain – saya dapat menjumpai calon dokter yang berminat bidang bahasa Aceh itu(sekarang: dr.Nabil  Berry bertugas di Jakarta).

Waktu saya bacakan beberapa baris tentang “ ilmu kedokteran”  dalam kitab tua itu, ia terlihat mengangguk-angguk.  Entah karena paham atau bingung, wallahu’aklam!.

Begitulah, hari-hari di bulan Ramadhan tahun 1431/2010 terus saja berlalu. Sementara ‘batin saya’ terus bercerai-berai tak mampu saya “persatukan” untuk menyambut  tugas berat, yakni mengalihaksarakan ‘kitab rahmat’ dari huruf Jawoe/Jawi/Arab Melayu ke aksara Latin.

 Momoknya tetap sama seperti sebelum tsunami  tahun 2004, yaitu rasa tak mampu saya selesaikan penyalinan itu karena tebalnya kitab tersebut.

Sebenarnya, selain “momok”  itu, ada beberapa penghambat lain  “baik lahir maupun batin” yang muncul akibat peredaran waktu, yakni: 

1. Kaki patah saya semakin lanjut ‘umurnya’, ( besok genap  26 tahun)  yang  jelas semakin menjejas kekuatan fisik saya. 

 2. Sejak tiga tahun terakhir, penyakit diabetes/darah manis  menjangkiti saya, sehingga terasa separauh tenaga normal fisik saya sudah ‘diganggu’nya.  

  3. Sejak tsunami 2004, pangkal ibu jari dan telunjuk tangan kiri saya terkena rematik/kebas-kebas. Penyakit ini merupakan sakit yang kambuh kembali, setelah  selama tiga hari saya menjemur buku-buku yang terendam air/lumpur tsunami.

Sakit ‘rematik’  itu  kini semakin parah. Setelah mengetik komputer barang setengah halaman, jari telunjuk saya tak bisa ‘dibengkokkan’ lagi  guna mengetik, karena   seluruh telapak tangan kiri saya  ketika itu  bergetar (Aceh: meukhot-khot). Jika sudah demikian, tinggal jari telunjuk tangan kanan saja yang meneruskan kerja beberapa saat lagi.

  4. Kedua belah mata saya yang telah dioperasi katarak pada tahun 2004 dan 2007, tentu harus saya pelihara kesehatannya. 

Dalam pikiran awam saya, penyakit mata katarak yang saya alami adalah  akibat  kerja salin-menyalin hikayat, nadham,  tambeh  dan naskah bahasa Melayu,  yang saya lakukan sejak tahun 1992, yang di tahun 2004 sudah selesai 25 judul. 

Alasannya, dalam ‘kitabur Rahmah’  sendiri pada pasal “mentadbir mata” telah dijelaskan, bahwa banyak  menyalin  bahan berwarna hitam pada kertas putih dan halus-halus lagi, akan membawa rusak mata, bahkan sampai buta. Na’uzubillah minzalik!. 

 5. Saya amat kecewa, karena sebagian besar  naskah hasil alih aksara  -  tahun 2009 sudah 32 judul -- tidak dapat tercetak menjadi buku. Upaya mencari dana/sponsor telah amat lelah saya usahakan, namun hasilnya tidak seberapa!.

Oleh berbagai faktor itulah, kegiatan transliterasi yang pernah saya lakukan, sekarang tidak bersemangat lagi.  Sebagai akibatnya,  rencana menyalin ke huruf Latin ‘Kitabur Rahmah’ terus-menerus tertunda-tunda;  sejak sebelum tsunami tahun 2004 sampai menjelang bulan puasa tahun ini berakhir.

Upaya ‘pelarian’ atau alih isu juga sengaja saya ciptakan. Yaitu, sejak hari ke 16 puasa saya bergiat mengumpulkan berbagai tulisan dan  “surat pembaca” yang pernah saya tulis selama ini. 

Setelah terkumpul, kertas-kertas yang  berketikan mesin tik manual/biasa dan sudah lisyek oleh lumpur tsunami itu,  saya bawa ke tukang komputer guna diketik ulang.

Kini, puluhan judul karangan saya tahun 80-an sedang dalam proses ketikan ulang; sementara  57 judul tulisan lainnya  – kebanyakan surat pembaca – telah selesai diketik serta sudah  pula saya edit dengan dibantu anak-anak.

Insya Allah, setelah Lebaran Idulfitri nanti; semua tulisan itu satu-persatu akan saya postingkan ke dalam blog saya.

Hari ini, tanggal 24 bulan puasa. Semua bentuk “pelarian” ( Aceh: mita-mita daleh) harus dihentikan. Saya mesti mempersatukan segenap ‘kekuatan batin’ untuk menyalin “Kitabur Rahmah”, walaupun sebatas setengah atau  satu halaman pertamanya saja.

Karena besok tanggal 25 bulan  Ramadhan  adalah Hari Ulang Tahun ke – 26 dari peristiwa tabrakan yang saya alami. Sudah menjadi hobi saya, setiap hari ‘keramat’ itu tiba, hampir selamanya saya buat catatan, terutama pada hikayat/nadham/tambeh/kitab  bahasa Melayu yang sedang saya salin di bulan puasa  selama 25 tahun terakhir ini. 

Alhamdulillah, insya Allah; semoga cacatan ulang tahun ke 26 ‘musibah saya’ dapat saya catat pada transliterasi “Kitabur Rahmah” pada  tanggal 25 bulan Ramadhan tahun 1431 H ini.

 Untuk mengusir rasa was-was akan tidak selesainya penyalinan kitab itu, saya pun memakai ‘prinsip hidup’ Ibunda saya. Dalam usia  lebih 85  tahun, beliau masih gigih menabur rahmat bagi hamba Tuhan.

Suatu siang saya ikut beliau ke Lampoih Uteuen Beuraleuen(kebun tak lengkap pagar di semua sisi ). Di sana beliau sibuk menyisip/menyusun ulang duroe trieng ngon keureungkeum(tumpukan duri) pada  tiga(  3  ) tanaman biji nangka yang sudah selutut tingginya.

 Ketika menarik duri bambu sambil melirik kepada saya, beliau berujar: “Bak panah nyoe kon lon harap meuteumei pajoh boh keudroe, meutapi keu ureueng dudoe!” (Nangka ini ditanam bukan mengharap dapat saya nikmati buahnya, tetapi buat orang-orang di belakang saya!).

 Kemudian ternyata, beliau sendiri dapat menikmati –  misalnya keu gule kuah  leumak  – dari hasil buah nangka itu. Ketika beliau berpulang kerahmatullah pada 2 Rabiul Awal 1430/ 28 Februari 2009,  salah satu ( 1 ) dari 3  batang nangka itu sudah berbuah  berkali-kali.

 Sementara dua batang lagi kurang beruntung karena relui – tidak kena sinar matahari – belum berbuah  sebab  kerdil akibat ditutupi pepohonan.

Begitu pula dengan rujukan pikiran saya sekali ini. Bila ‘kebetulan’ saya tak sanggup menyalin ‘Kitabur Rahmah’ sampai tamat, saya harap  mudah-mudahan akan hadir orang lain menyalinnya sampai tuntas serta mencetaknya. Tapi, siapa tahu, saya sendiri  yang bakal  melakukan alih aksara hingga rampung, insya Allah.

Berpangkal pada prinsip ‘untung-untungan’ itu, dengan mungucap “Bismillahirrahmanirrahim”,  hari ini Sabtu, 25 Ramadhan 1431/4 September 2010  pukul 10. 19 Wib., mulailah saya kerjakan transliterasi “Kitaburrahmah Fit Thib wal Hikmah” dari huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe ke  huruf Latin; peninggalan penjajah Belanda. Mudah-mudahan tanpa rintangan, Insya Allah; Amin!!!.

Suatu Sore saya  saweue ke rumah  Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag. Saat itu kami bersepakat menyalin dan mengalih aksarakan Kitaburrahmah. Tugas pun dibagi. Pak Kalam menyalin huruf Arab dan Jawi, sementara saya  me- Latinkannya. Semangat pun bergelora!!!.

Pada tgl. 30- 9 – 2011 Pak Kalam membalas sms saya begini:”Toh nyang han ekle, akan lon lanjut le lon, lon pih ka rab lheueh. Sekitar 17 menit kemudian Pak Kalam sms lagi:”Lon peumeulayu rab abeh bab 5”.

 Memang kami saling sms selama bergiat menyalin Kitaburrahmah. Hal ini bermanfaat sebagai pendorong semangat sekaligus bisa meringankan rasa jemu-jenuh, bahkan stres – terutama bagi saya yang sudah ‘trauma’ dengan kegiatan salin-menyalin manuskrip Aceh ini!!!.

 Di antara sms kedua kami yang masih tersimpan di HP saya adalah sebagai berikut: 

Dari Pak Kalam ialah: 1) “Sdh masuk bab empat blum diberi titik tiga tak termasuk latin” ( 13 -09 – 2011). 2)“Rab abeh limong bab arab asli, jawoe gohlom”( 18 – 09 – 2011). 3)“Alhamdulillah ka abeh teukeutik arab asli, akan lon mulai sigo treb treuk arab jawoe (24-09-2011).

Sementara sms dari saya adalah 1)”Asw. Alhmdllh, ka lhh saboh bab potong tls bhs Arab”( 13 -09- 2011). 2) “Hati2 bab 4 na 2 tmpt.na bak hlm 73 dn 40/80 hlm sblmnya”( 13 -09- 2011/mlm). 3)”Asw. Alhmdllh ka lhh bab 2, ka maju keu bab 3. Tp  ‘ohlhh 4 on ka kaco, ka bab 4 laju!.Payah pike2 dilee...”( 20 -09 – 2011). 4)” oo... neu tlg mita siat lam kamus arab, arti pohon kayu tahrfak/tharfan keu bhn ubat gigi runtuh-ngalir darah dan bhn ubt  besar limpa  atau pnyakit kura!”(28 -09- 2011).  Dan....5) seperti tersebut di atas!. 6)” Get, Insya Allah singoh rab poh 12 lon ba bak droeneuh”(30 -09- 2011).

Maka besok Sabtu, 1 Oktober 2011 sepulang dari Kampus saya antarlah –  numpang RBT Muhajir - naskah Kitaburrahmah-pegangan saya – kepada Bapak Drs. Mohd. Kalam Daud, M. Ag. Bale Tambeh Darussalam, malam Rabu, 7 Zulkaidah 1432/5 Oktober 2011 pkl 21.37 Wib., T.A. Sakti).

(Lon sambong ketik lom bak uroe Rabu, 13 Zulkaidah 1432/ 12 Oktober 2011 poh 17.00 selesai shalat ‘Ashar, T.A. Sakti)

Dari pada bekas sujud. Dan seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 00 artinya tiada jua perbaiki Allah subhanahu wa Ta’ala akan rupa laki-laki dan perangainya. Maka dirasakannya akan dia pada api neraka. Kata 00 artinya yang firasat itu menyatakan batin dari pada kias yang lahir.

 Maka adalah tanda kebajikan pada pekerjaan dan perbuatan dan kelakuan dan dari pada segala itu pada manusia yang gahara? Dan sederhana. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 00  artinya dijadikan Allah subhanahu wa Ta’ala akan sekalian kebajikan itu pada yang sederhana. ( sempat saya salin 8 halaman dalam huruf Latin ke depan hlm ini dilanjutkan)

• 00  =  tanda tempat huruf Arab atau Jawi, saat itu saya belum bisa mengetik huruf Arab atau Jawoe. Pada tanda  00 akan ditulis oleh Pak Kalam.

(TA – 26 – 1 – 2020 pukul 10.45 WIB).[]

*Catatan T.A. Sakti, Budayawan Aceh.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.