11 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Perpustakaan di Bawah Nama Besar Sang Profesor

...

  • portalsatu.com
  • 08 July 2020 15:00 WIB

Perpustakaan Induk Unsyiah, ilustrasi. @catatanariefin.blogspot.com
Perpustakaan Induk Unsyiah, ilustrasi. @catatanariefin.blogspot.com

Karya: Moehib Aifa*

Kala itu gerimis baru saja membasahi bumi Kuta Raja, awan hitam yang berbentuk cendawan masih menyelimuti Mesjid Raya Baiturrahman dan sekitarnya. Di tengah kota terlihat pemandangan sejumlah mahasiswa yang tengah menantikan bus Damri, di antara mereka ada seorang mahasiwa yang mengenakan baju kemeja lengan panjang abu-abu. Dia tengah duduk di halte sambil membaca buku, bola matanya yang cokelat begitu fokus dengan buku yang ia baca pagi itu berjudul “Soekarno Muda” menemaninya sambil menunggu Damri. 

Tiba-tiba terdengarlah suara seorang kernet yang berteriak “Darussalam…ayo siapa yang mau ke kampus.” Suara kernet tersebut membuat ferdian yang lagi asyik membaca, spontan naik ke Damri beserta rombongan mahasiwa lain yang mengekor di belakangnya.

Sambil mencoba membersihkan rambut ikalnya yang basah karena butir-butir gerimis hujan, ia kembali membuka buku bacaannya. Ferdian memang dikenal kutu buku oleh kawan yang seangkatan dengannya, bahkan sahabat-sahabatnya menyebutnya “Kader” julukan itu melekat padanya karena para sahabatnya menyakini bahwa suatu saat ia akan menjadi orang penting di negeri ini. Riuhnya mahasiswa yang berdesakan di bus tidak membuat konsentrasinya pecah untuk membaca buku.

Tiba-tiba si Hamid kawan di sampingnya bertanya pada Ferdian, “Pukul berapa mata kuliahmu akan dimulai.” Sejurus kemudian Ferdian meletakan buku ke dalam tas dikarenakan buku yang ia baca telah dikhatamkan dan kemudian ia menjawab. 

“Kemungkinan pukul 11:00 WIB.” Ferdian menanggapi dan menanyai balik “Bagaimana dengan kau?” Hamid pun menjawab, “Jam kuliahku lebih awal, sekitar pukul 09:30 WIB.” Kedua sahabat itu larut dalam pembicaraan ringan seputar kampus dan organisasi kemahasiswaan. Bus Damri melaju membelah jalan Daud Beureue’h melewati Jelingke, selanjutnya memutar di Simpang Mesra mengarah ke kanan dan tak lama kemudian tibalah mereka di pekarangan kampus dengan julukan Jantong Hate Rakyat Aceh, yang menjadi icon kebanggaan masyarakat Aceh. 

Ferdian dan Hamid berpisah dikarenakan Hamid harus langsung memasuki ruang kuliah di Fakultas Ilmu Hukum, sementara Ferdian yang memilih Jurusan Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, tidak langsung menuju ke ruang kuliah karena  waktu kuliah masih lama. Seperti biasa ia menggerakan kaki jangkungnya ke perpustaakan.

Memasuki ruang pustaka Ferdian mulai mengintai buku yang berhubungan dengan politik, tadi saat dalam bus ia baru saja menyelasaikan bacaannya tentang biografi Soekarno, hari ini ia mencoba mencari buku biografi tokoh yang lain. Sesaat kemudian ia mendapatkan buku tentang tokoh kenamaan bangsa Indonesia “HOS Tjokroaminoto” Ferdian membacanya dalam hati.

Satu persatu lembaran buku itu ia baca, dan sampailah pada naskah yang sangat menarik dari isi buku tersebut tentang ucapan pak Tjokroaminoto “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, maka menulislah seperti seorang wartawan, dan berbicaralah seperti seorang orator ulung” diucapkan di hadapan Kusno (nama Soekarno muda), Kartosuwiryo, Alimin dan lainnya yang kala itu ngekost di rumah pak Tjokro, kelak mereka menjadi tokoh yang mewarnai perpolitikan di negeri ini. 

Kata-kata itu sangat mumpuni hingga membuat Soekarno muda terhipnotis dan terbangun di tengah malam hanya untuk berpidato sendiri dengan suara lantang, membuat kawannya yang lain tertawa menyaksikannya. Begitulah kurang lebih penjelesan yang terdapat dalam buku tersebut.

Ferdian menghentikan bacaannya dan dan nalarnya sudah mulai liar ke berapa wajah para tokoh hebat Indonesia, yang pertama ia ingat adalah wajah Soeharto, dan bergumam dalam hati. 

“Ketika SD aku berpendapat Indonesia adalah Soeharto, namun memasuki bangku SMA bagiku Indonesia adalah Soekarno, nah, saat ini kala aku kuliah setelah membaca buku HOS Tjokroaminoto, maka kesimpulan yang bisa aku ambil saat ini Indonesia adalah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, di mata orang Belanda ia bergelar De Ongekroonde Van Java (Raja Jawa Tanpa Mahkota).”   

Ferdian mengatakan itu dalam hati bukan tanpa alasan, namun itu berdasarkan fakta yang tercatat dan tinta emas sejarah Indonesia, para alumni yang pernah ngekos di rumah Tjokroaminoto kebanyakan dari mereka sukses menjadi pemimpin besar dengan segala lakon dan pengarunya di negeri  ini. Terlepas dari pro dan kontra mereka adalah putera-putera terbaik bangsa.

Saat Ferdian sedang hanyut dalam khayalannya tentang pemimpin negeri ini, tiba-tiba ponsel jadulnya berdiring “Hallo Ferdian, lagi di mana?”

“Masih diperpus” jawab Ferdian, kemudian Hamid bertanya lagi “Jadi, enggak masuk kuliah tadi?” Dengan nada terkejut Ferdian berkata, “Astaghfirullah, lupa aku, sangking asyiknya membaca, ya sudah, Hamid, kita jumpa di taman depan pustaka ya, jangan lupa kau bawakan aku kopi.” 

“Oke, siap segera meluncur ke TKP,” Hamid menutup sambungan handphone dengan candaan logat detektif.

Ferdian segera membawa buku ke meja peminjaman untuk ia bawa pulang mengisi kekosongan waktu kala di rumah kos dan tempat lainnya. Ia berlalu dari ruangan perpustakan untuk memilih duduk di pojok taman depan pustaka sambil menunggu sahabatnya datang.

Tak lama kemudian Hamid datang dengan menjinjing kopi hitam berbalut plastik putih, aroma kopi yang menusuk hidung kian membuat mereka bersemangat petang itu. Sambil menyeruput kopi mereka berdua larut dalam pembicaraan seputar organisasi kampus. Kepulan asap yang keluar dari hembusan hidung mancung Ferdian, membuat Hamid menutup hidungnya, dengan perasaan geram ia berkata, “Asap-asap ini sangat menggangguku, tidak kau takut nikotin itu akan merusak paru-parumu?”

“Tenang kawan, kau tahu Soekarno dan KH. Agussalim yang dijuluki dengan The Grand Old Man (Orang Tua Besar), Mereka membangun Indonesia dan menyatukan nusantara dengan cerutunya. Begitupun dengan Chairil Anwar sang sastrawan yang melahirkan karya-karnya yang fenomenal di balik kepulan asap rokoknya.” Hamid yang lugu hanya mengangguk saja, melihat hal itu, Ferdian tersenyum puas dalam hatinya berkata, “Mau saja kau kutipu, tidakkah kautahu, sejarah menjelaskan bahwa nusantara disatukan kala itu atas kesamaan nasib, sama-sama pernah dijajah oleh Belanda.” 

Sejurus kemudian Hamid mencari celah untuk bertanya “Nah bagaimana dengan Chairil Anwar, ia meninggal di usia yang sangat muda yaitu 26 tahun, diduga akibat penyakit paru-paru yang ia derita, bukankah itu disebabkan oleh rokok? 

“Oh itu kan sudah suratan takdir, kalau takdir sudah berkata semua bisa terjadi,” Ferdian menjawab, untuk mencoba mematahkan pendapat kawannya itu.

Selagi asyik dalam perdebatan kecil itu, tiba-tiba mata Ferdian tertuju perpustakaan megah itu, sambil menghembuskan asap rokok yang mengepul ke udara ia menunjuk gedung perpustakaan dan berkata kepada sahabatnya. “Hamid, coba kau perhatikan gedung perpustakaan itu, di bangunan megah itu tertulis nama Prof. Dr. H. Abdullah Ali, M.Sc.” 

“Aku rasa dia orang penting di kampus ini dulunya, kalau tidak mana mungkin nama besarnya tersemat di gedung perpustakan Jantong Hate Rakyat Aceh,” Hamid menanggapinya.

Ferdian yang tidak berkedip melihat ke arah perpustakan, berkata “Itu sudah jelas menurut salinan buku biografinya, sang professor itu adalah rektor ke lima Universitas Syiah Kuala, ia dikenal sebagai seorang rektor yang jujur dan sederhana, sehingga ia bisa membentengi orang-orang sekitarnya dari sifat korup,” Ferdian menutup penjelasannya kepada Hamid. 

Tak lama kemudian Hamid meledeknya, “Apa namamu juga mau kutorehkan di salah satu gedung di kampus ini?” Ia mengakiri pertanyaan sambil terkekeh. “Ah kau ini ada-ada saja, satu hal yang perlu kautahu Hamid, nama profesor Abdullah Ali diabadikan di gedung tersebut bukan tanpa usaha yang keras, tapi ia selalu belajar di tengah malam buta mana kala teman sebayanya yang lain tertidur lelap dalam buaian mimpi indah. Ia juga selalu taat beribadah, dan nampaknya ia lebih takut ketinggalan arlojinya dibandingkan dengan barang lainnya, karena profesor itu juga sosok yang menghargai waktu,” Ferdian mengakhiri ceritanya siang itu.     

“Apa profesor itu juga merokok?” Hamid menyelidik dengan pertanyaan itu.

“Ooh…, Kalau itu aku belum tahu, soalnya aku belum pernah terhubung langsung dengan orang-orang terdekatnya.” Kali ini Ferdian benar-benar kelabakan dibuatnya, akibat pertanyan yang tidak diduga muncul begitu saja dari mulut sahabatnya itu.

Banda Aceh, 06 Juni 2020.

*Lahir di Leuhong, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, Ketua Gerakan Nasional Perawat Honor Indonesia Korwil Aceh, saat ini bekerja sebagai Perawat di Rumah Sakit Jiwa Aceh.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.